[Merdu Untukmu-Aku Pergi]
Aku pergi bukan berarti tak setia
Aku pergi demi untuk cita-cita
Maaf bila muingkin kita harus terpisah
Relakanlah mungkin ini sudah takdirnya
Ku tak ingin ada benci ku tak ingin ada caci
Yang aku ingin kita selalu baik-baik saja
Kenangan kita tak kan ku lupa
Ketika kita masih bersama
Kita pernah menangis kita pernah tertawa
Pernah bahagia bersama
Semua akan selalu kuingat
Semua akan selalu membekas kita pernah bersatu dalam
satu cinta
Dan kini kita harus terpisah
Aku pergi..
***************************************************************************
Senja masih belum sempurna menutupi birunya langit
sore. Tapi benang-benang merah sudah mulai merangkai diri bersiap menyambut
malam. Sejenak kupandangi langit jumat, menengadah pasrah berdoa tanpa sengaja menyebut
sebuah nama kemudian mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah. Entahlah,
mungkin itu sudah menjadi sebuah tradisi mengaminkan doa dengan cara seperti
itu. Sungguh tidak ada yang salah dengan hal itu.
Sangat jelas lafalan doa tadi, sehingga akupun masih
sempat bermain angka, menghitung detik matahari bersembunyi. 47 detik yang
menenangkan! Sempurna, matahari menarik diri dan bersiap-siap untuk sinar cerah
esok hari. Seketika bumi mengelabu dan dua rombongan burung bercerita sekian
hasta di atas kepalaku. Mungkin mereka akan migrasi, pikirku.
Masih sibuk memikirkan kemana burung-burung ini akan
pindah, apakah ketempat baru yang mungkin akan membuat mereka lebih bahagia
atau tidak. Apakah mereka membawa seluruh anak-anak mereka, atau ada yang
tertinggal. Mungkin mereka berniat meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang
ditempat sebelumnya. Apakah mereka akan merindukan tempat tinggal mereka yang
dulu? Kenapa aku jadi ngeyel akhir-akhir ini? Haha dengan pertanyaan tidak
penting itu, tentu hati dan pikiranku akan bertengkar hebat. Hatiku ingin
pembahasannya dilanjutkan, sedangkan pikiranku akan menutup kasus ini dengan 3
kali ketuk palu. Tok! Tok! Tok!. Kasus selesai dan peserta sidang bertepuk
tangan. Prok prok!
Membiarkan imajinasiku ribut dengan pengandaian
konyol itu, aku teringat celoteh seorang adik yang sangat mengganggu pikiranku
beberapa hari terakhir. Tentang perpisahan! Sekejap jadi uring-uringan, malas
makan, flu, batuk dan panas tinggi. Haha apasih abaikan. Terlalu berlebihan
mungkin ketika harus kuhatikan semua cerita yang mengalir. Lalu, aku harus
bagaimana? Menjadi orang yang tidak berperasaan, datar dan tidak baper? Tentu saja
tidak bisa. Jujur aku tidak sanggup! Berharap aku kuat dan tegar? Maaf, kalian
salah orang! Tapi disisi ini aku harus memainkan peran dengan professional;
menjadi kakak yang baik (untuk apapun; mungkin!)
Baiklah. Kalian tau dek, tidak ada itu yang namanya “Perpisahan”.
Yang ada hanya kalian tidak melangkah di jalan yang sama, tidak sholat di
masjid yang sama, tidak tertawa di kelas yang sama, tidak makan di asrama yang
sama, tidak main basket di lapangan yang sama, tidak memarahi junior yang sama,
tidak membuat jengkel guru yang sama, tidak menangis di bawah pohon yang sama
[lagi]. Kalian harus percaya, bahwa kalian masih hidup di bawah langit yang
sama dengan hembusan angin yang tidak berbeda kadar oksigen dan nitrogennya. Kalian
masih dalam bulatan bumi Allaah yang masih senantiasa dijaga oleh satelit indah
benderang itu. Dan pastinya kalian masih gen yang sama; Naval! Okefix, bagian
ini tidak ada satupun yang kuketahui. Entah apa itu naval, artinya, bentuknya, warnanya,
bahkan rasanya. Tapi kutau, harganya sangat mahal; yang tidak akan kalian jual
sampai paceklik melanda sekalipun.
Ingin kudeskripsikan lebih luas, tapi tetap saja
buntu. Maka izinkan aku melambaikan bendera putih ke kamera. Aku menyerah. Naval!
Ratusan bahu menjadi satu demi suatu beban istimewa. Kutau banyak keterpurukan
yang sudah mendapatkan bahunya. Banyak kaki-kaki rapuh menemukan sokongannya. Banyak
hati-hati yang menemukan kepingannya. Eh kalau masalah itu jangan kalian kotori
hati kalian hanyak dengan godaan serendah itu dek! Tolong. Ribuan hari kalian
lewati dengan mengakumulasi segala rasa. Tidak hanya bahagia, tetesan air
matapun mengalir disela derai tawa kalian. Tentu saja kakak percaya jika kalian
tidak menginginkan perpisahan ini dek! Tak kuasa berpisah dengan sahabat,
teman, bahkan seseorang yang dimasa depan tetap akan menjadi seseorang atau
tidak, itu adalah hal yang wajar; MANUSIAWI. Tapi hidup harus tetap dijalani,
dan kalian memang harus meninggalkan kisah lama untuk dikenang menjadi kisah
klasik dimasa depan.
Semudah itu melupakan? Tentu tidak, bahkan aku masih
remedial untuk BAB “Perpisahan” ini, lebih sulit dari 5 BAB skripsi, sungguh! Bagiku,
berpisah itu sangat tidak mudah, bahkan ketika sebesar kalian, kakak masih
menangis pada hari ketiga setelah perpisahan. Ada satu bagian yang hilang rasanya, tapi bagian yang mana
kita tidak tau. Dan rasanya sakit, itu saja. Mungkin kalian jauh lebih kuat,
masih bisa bersitatap walaupun air mata mengalir deras. Sedangkan kakak, pada
hari perpisahan itu… Ah, sudahlah, memori itu akan sangat jelas dalam rekaman video
masa lalu, tak harus diputar lagi. Pada saat itu, kita sama, berusaha
melupakan. Tapi ternyata dek, ini bukan tentang melupakan, tapi menerima. Menerima
takdir yang Allaah tuliskan.
Kalian kira semudah menuliskan itu menerimanya dek? Tidak!
Bahkan sampai hari ini, ketika kenangan itu berkelabat, maka aku putus asa. Putus
asa karena tidak bisa menghentikan kenangan itu berputar. Banyak sekali. Mungkin
salah satunya, PKM itu, halte busway itu dan, dan jangan salahkan ketika aku
tidak bisa berpura-pura tegar pada saat itu. Kalian tau, berpura-pura bahwa aku
baik-baik saja pada waktu itu membutuhkan energy yang besar. Dan jujur pada
saat itu akupun tak berdaya.
Terimakasih telah membuat otot mataku malam ini berolah
raga, secepat kilat mataku langsung berkeringat. Banyak sekali potongan
kejadian yang akan membuatku menangisi perpisahan, salah satunya kalian. Karena
aku sangat berhak atas kenangan itu, maka izinkan aku yang menyelesaikan urusan
ini sendiri. Kuharap kalian juga mampu menyelesaikan permasalahan itu. Beranjak
dari sana bukan berarti tidak setia, tidak bersama-sama lagi bukan berarti
tidak cinta. Hidup kalian untuk mimpi-mimpi yang sudah orang tua kalian
sketsakan diawal, maka lanjutkan warnai harapan mereka.
Setelah ini telah menunggu orang-orang luar biasa
yang tidak akan bisa kalian lupakan juga, akan kalian lewati hari-hari yang
membuat kalian juga tidak mau beranjak dari kenangan itu. Bertebaranlah di
pondok-pondok ilmu terkenal di negeri ini. Percayalah! Kalian akan tetap belajar
walaupun tidak di gedung ini, kalian akan tetap bersahabat walaupun tidak
berjalan di lorong ini lagi, sholat akan tetap ditegakkan walaupun tidak di
masjid ini lagi, dan langit akan tetap biru walaupun tidak kalian tatap dari
sisi ini. Jadikan kenangan itu sebagai penyemangat ketika lelah, jadi penguat
ketika lemah dan jadi tongkat ketika rapuh.
Sesungguhnya hidup berjarak mendidik kita
mendekatkan hati. Mengajarkan kita manisnya rindu ketika menuai temu. Bertemu denganmu
indah, hingga akhirnya berpisah tak gelisah, indahnya ukhuwah karena Allaah.
Mungkin karena kakak bukan orang yang ahli dalam
masalah ini, maka kalian boleh belajaaar dengan yang lain, yang mampu
mengajarkan kalian akan arti perpisahan. Bahkan tulisan inipun bukan untuk
menggurui kalian memaknai perpisahan, tapi hanya ingin mengingatkan bahwa
didepan sana telah menunggu orang-orang luar biasa yang akan menemani langkah
menuju mimpi kalian, jangan abaikan mereka yang menunggu hanya karena kalian
belum bisa beranjak dari kenangan lama. Jangan-jangan mereka menyiapkan banyak
hal untuk bertemu kalian, dek! Sombong sekali jika hari ini kalian masih
bermain, bersedih dan tidak mempersiapkan apapun untuk bertemu mereka. Teman-teman
lama, akan tetap menjadi teman. Sahabat tetaplah sahabat, mereka tetap akan
disimpan dilubuk hati terdalam hingga nanti. Walaupun pernah tersakiti,
terabaikan, tertinggalkan, mereka tetaplah saudara. Karena tidak akan ada yang
hilang dari hati sampai kalian tidak berhati lagi.
Untuk kalian disana, setinggi apapun mimpi-mimpi
kalian, tetaplah membumi. Karena ingatlah, Allaah akan melautkan garam-garam
kesombongan, dan menggunungkan pohon-pohon ketawadhu’an. Tetaplah menjadi baik
seperti ini, orang-orang berwajah surga yang selalu menebarkan senyum kebaikan
dan sapaan kesantunan.
Dek, sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang
namanya perpisahan. Berpisah itu ketika satu diantara kita di surga, sedangkan
yang lainnya ditempat berbeda.
Untuk kalian yang merasakan perpisahan SMA. Sampai jumpa;
kapanpun itu!
-Kakak-


Comments
Post a Comment