Pertemuan sesungguhnya. Satu tahun yang lalu. Saya bertemu dengannya dalam keadaan hati yang tidak baik, ketika ia akan kembali ke kotanya, kota yang sangat ia banggakan hingga saat ini. Disana terdapat pantai yang indah, benteng yang megah, bunga yang langkah, eh langka, yang hanya dimiliki satu-satunya tempat di Indonesia, langit yang pecah banget, pecah fase terdispersi dan pendispersi awan-awannya, matahari yang cerah, bulan yang merekah dan Masjid yang Baitul Izzah. Dan ya kota itu, Bengkulu. Kota kesekian yang berawalan B yang terdapat di dunia ini yang ada dalam kertas impian saya, tapi sayangnya kota ini belum sempat tertuliskan. Dan ternyata, Tuhan berkehendak lain. Saya diizinkan untuk mengunjungi “B” city ini dan akhirnya bertemu salah seorang dari orang yang mampu merubah pola pikir saya tentang arti ketulusan, keikhlasan dan kekeluargaan. Tapi pada saat itu, pertemuan ini adalah pertemuan yang mungkin akan saya hindari, mungkin saya nantikan, mungkin dan mungkin lagi...