Untuk yang (Tidak) Terlewatkan!
[Laskar juang Thalhah bin Ubaidillah]
Selamat
pagi semuanya. Tidak mengapa jika waktu membaca tulisan ini bukanlah pagi yang
dimaksudkan, namun bagiku waktu selalu pagi. Pagi dimana matahari mampu
tersenyum dengan anggunnya bersandar pada langit putih. Pagi dimana awan lembut
berusaha menepi mempersilakan perkasanya penguasa sinar di seluruh penjuru
dunia. Pagi dimana jalan cendana dipenuhi mobil dan motor berbeda kepentingan.
Pagi dimana sebuah mimpi siap untuk diukir kembali. Pagi dimana ternyata sinar
mataharipun terkalahkan! Terkalahkan oleh sorot mata berbinar dan pelukan
hangat mereka, terkalahkan oleh senyuman tulus dengan wajah siap menerima
apapun yang akan kusuguhkan. Pagi yang akan selalu kunantikan ketika malam gelap
menghantui.
***
Matahari
tersenyum malu-malu di ufuk timur; hangat sekali. Sinar kuningnya tepat jatuh
di atap-atap rumah manusia yang sudah siap dengan aktivitas permulaan minggu
ini. Senin yang menyenangkan, batinku. Perlahan kumasuki bangunan hijau orange
yang konon katanya seluas satu setengah hektar itu dengan segenap shalawat nabi
dan doa yang sudah kupelajari sebagai penenang. Jujur ini lebih gugup jika
dibandingkan sidang skripsi. Bismillah!
Anak-anak
berlarian memakai baju putih bawahan merah layaknya seragam sekolah dasar yang
lain, tapi ada rompi dibagian luar yang membedakan mereka sekaligus membuat
mereka menjadi lebih rapi. Terlihat di sebelah kanan jalan menuju pintu gedung
sekolah telah berdiri cantik Ibu-ibu menyambut putra-putri terbaik mereka.
Senyum tulus dan ucapan salam untuk siapa saja yang berjalan melewati mereka,
termasuk aku. Sedetik hatiku bergetar.
Pada
pagi itu kupetik hikmah dari beberapa potongan kejadian singkat di sekolah ini.
Mungkin potongannya tidak utuh, tapi tetap akan kucoba rangkai menjadi
pelajaran bermakna. Akan kukumpulkan potongan hikmah itu disetiap Seninnya.
Pagi
itu upacara bendera. Upacara memang sudah menjadi sarana mengenang para
pahlawan bangsa yang sudah berjuang demi kemerdekaan negeri ini. Kegiatan pagi
Senin itu terasa lebih dalam bagiku yang tidak ikut berdiri di halaman sekolah.
Mungkin karena tidak kepanasan dan alasan paling tepatnya adalah sudah sangat
lama aku tidak menyaksikan ceremony kenaikan
bendera. Dari balik pintu kaca
transparan kusaksikan wajah-wajah bahagia bercampur lelah karena kepanasan di
bawah sinaran matahari pagi, dan hati-hati yang membatin semoga upacara ini
cepat berakhir.
“Baiklah,
level 2 boleh masuk ke kelas”, sayup terdengar suara salah seorang guru di luar
sana. Hanya selang beberapa detik, puluhan anak menyerbu kelas dan memulai
keributan yang sudah tertahan sejak tadi. Upacara sudah selesai, artinya proses
belajar mengajar akan segera dimulai. Belum sempat membayangkan bagaimana
nasibku setelah ini, seorang Ibu ramah dan baik hati mengajakku berjalan menuju
salah satu ruangan di lantai satu. Kelas! Tempat dimana akan kuhabiskan waktu
selama 5 hari dalam seminggu dari jam 07.15 – 15.15. Hingga mataku berhenti
pada suatu nama.
Thalhah
bin Ubaidillah.
Ia
adalah seorang pemuda Quraisy yang memilih profesi sebagai saudagar yang
dermawan. Beliau mendapat gelar “Assyahidul Hayy”, manusia yang berpredikat
syahid padahal masih hidup. Selain itu, Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah
seorang sepuluh orang pertama yang masuk Islam. Dalam hidupnya, ia memiliki
tujuan utama yaitu bermurah dalam pengorbanan jiwa.
Percayalah
setelah baris kata ini, bisa dipastikan tidak akan kita lanjutkan membahas
mengenai sahabat Nabi Muhammad yang sangat luar biasa ini. Pembahasan ini akan
kita alihkan sedikit, kepada mereka yang juga dermawan yang selalu mengisi
piring berbagi dengan aneka kue yang mereka bawa, kepada mereka yang juga murah
dalam pengorbanan jiwa seperti merapikan lemari buku, menurunkan kursi teman
yang masih di atas meja, bahkan menyapu kelas yang berantakan lalu duduk tertib
untuk belajar kembali. Kunamai mereka laskar juang Thalhah bin Ubaidillah!
***
Sepagi
itu, masih jelas bagaimana kucoba menguatkan kaki menegarkan hati memasuki
kelas berjudul Thalhah bin Ubaidillah tersebut. Jutaan ketakutan berkelabat di
kepala ku, takut mereka tidak menyukaiku, takut mereka akan langsung berontak
tidak mau diajar oleh guru baru; aku. Ketakutan ini sangat beralasan, karena
menurutku belajar adalah proses ridho-meridhoi. Siswa ridho diajar oleh
gurunya, dan tentu gurunya pun ridho mentransfer ilmu kepada siswanya. Jadi
ketika ada satu bagian saja yang tidak singkron, maka proses belajar mengajar
tidak akan menuai hasil maksimal.
Sekujur
aku yang terpaku dikagetkan oleh sapaan yang hingga saat ini dan kapanpun akan
menjadi sapaan yang kurindukan. “Ustadzah!”. Setelah sapaan manis itu, semuanya
mengalir apa adanya, hingga aku tidak dapat mengingat kronologi hari pertama
yang indah itu. Mereka 21 anak-anak terbaik, yang mampu memahami keadaan dengan
lebih bijak. Mereka memperlakukanku layaknya guru-guru mereka yang lain. Mereka
memanggilku dengan panggilan yang sama, cara yang sama, intonasi yang sama dan ketulusan
yang sama. Tidak terdeteksi olehku dari sorot mata mereka untuk memperlakukanku
dengan gaya berbeda. Entah mengapa pada saat itu aku merasa menjadi orang yang
sangat beruntung, dipertemukan dengan anak-anak hebat seperti mereka.
Siang
itu terlihat salah seorang dari mereka memegang matanya sangat lama, ternyata
ia menangis. Waktu itu aku masih baru dan masih dalam tahap orientasi, maka
dari itu tak banyak yang bisa kulakukan untuk mengatasi air mata tersebut. Wali
kelas menghampiri siswa yang menangis itu kemudian dengan penjelasan yang
mengagumkan permasalahan selesai dan tangisan itu reda. Bagaimana bisa? Mari
kita usut dari inti permasalahannya. Anak ini, sebut saja Ali, menangis karena
temannya berbicara agak keras kepadanya; marah. Ali merasa sedih ketika nada
suara temannya terdengar kurang bersahabat, kemudian dia menangis. Sayup
terdengar olehku, ternyata Ali terlebih dahulu membuat temannya ini tidak
nyaman. Sesaat kemudian sang wali kelas menjelaskan suatu teori yang belum
kutemui selama ini, “Bahwa setiap orang berhak marah ketika dia tidak suka
terhadap apa yang orang lain lakukan kepadanya, tapi tidak menyakiti temannya
tersebut”. Tidak ada yang melarang manusia untuk mengekspresikan apa yang
dirasakannya, termasuk marah. Asalkan tidak merugikan orang lain, seperti
menyakiti fisik. Luar biasa! Mereka tidak diajarkan untuk saling menyalahkan.
Bahkan yang merasa terintimidasipun tidak akan mendapatkan pembelaan ketika
mereka salah. Memberikan pengertian adalah solusi terbaik sampai akhirnya
mereka berjabat tangan dan saling memaafkan satu sama lain.
Sehari
bersama mereka, aku resmi mendapatkan jawaban atas pertanyaan burukku. “Mengapa
anak-anak kecil ini mampu berpikir luar biasa?”. Jawabannya tidak jauh dari
selemparan batu saja, “karena mereka diajar oleh guru-guru yang luar biasa,
karena mereka dididik oleh orang tua yang mendukung sistem sekolah ini. Jika
kedua elemen ini tidak melakukan tugasnya dengan baik, maka mustahil akan kita
dapati generasi baik untuk masa depan.
Mereka
diajarkan membaca dan mencintai Al-Quran tapi tidak meninggalkan ilmu
tekonologi, mereka diajarkan cara sholat tapi tidak melupakan cara menggunakan
computer, mereka diajarkan oleh sistem yang berintegrasi Islam. Dari kelas 1
mereka sudah dilatih untuk menjadi imam, menjadi leader yang merupakan
pembelajaran yang sangat berguna untuk masa depan. Mereka diajarkan untuk
menghormati guru, menyayangi teman dan mematuhi orang tua. Mereka diajak untuk
selalu menggunakan 3 kata ajaib, “Maaf, Tolong, dan Terimakasih”. Mereka
diajarkan untuk berbagi sebelum diminta, menolong sebelum diseru, berwudhu
dengan benar, sholat dengan khusyu’ dan berdoa dengan menundukkan kepala
menampungkan tangan, menghabiskan makanan, membersihkan lantai yang mereka
kotori, dan hal lain yang terkadang terlihat simple tapi sulit untuk orang
dewasa lakukan. Mereka dibiasakan untuk mandiri, tidak untuk menjadi anak manja
yang tidak bisa apa-apa. Iya! Mereka dididik untuk menjadi “khalifah fil ardh”.
Untuk kalian yang pernah menjadi bagian UTUH hidupku,
izinkan kukutip satu bait kalimat dari buku terbaik karangan Ahmad Fuadi
berikut ini; “Beruntunglah kalian
sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan kalian ke surga, malaikat
membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan
paus di lautan memintakan ampun bagi orang yang berilmu. Reguklah ilmu di sini
dengan membuka pikiran, mata dan hati kalian”. Yap! Bersungguh-sungguhlah
belajar disini, karena proses tidak akan pernah menghianati hasil. Man Jadda
Wajada!
Setelah
ini, waktu akan terus berjalan tanpa bisa dihentikan dan hidup akan terus
dijalani sebagaimana mestinya tanpa kita tau ujungnya. Kita semua akan beranjak
dari kelas ini menuju level selanjutnya; beranjak meninggalkan jutaan kenangan
yang sudah kita ukir bersama. Dan naifnya aku sudah terlalu nyaman. Menahan
mereka? Tentu itu bukan keputusan yang bijak. Semoga kesuksesan selalu
mengiringi, hanya bait-bait merdu menuju langit yang akan selalu kami
senandungkan untuk generasi hebat seperti kalian.
Terimakasih
telah ajarkan banyak hal. Ya, akupun belajar dari mereka, belajar menerima
perbedaan, belajar memahami persamaan, dan belajar memaknai satu kata dari sisi
yang berbeda. Terimakasih tulus sekali lagi. Rajinlah belajar, bahagiakan orang
tua. Dan hari ini aku kembali jatuh hati. Dengan kesadaran penuh kubangun cinta
di sekolah ini; di kelas ini. Terakhir, betapa inginnya kami agar kalian
mengetahui, bahwa kalian lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri. Laskar
juang Thalhah bin Ubaidillah, selamat naik level! Kelas kita akan tetap menjadi ruangan ternyaman disini. Percayalah, Ustadzah sayang kalian. :D
***
Hai semuaaaaa.. #TOLONGJAWAB.
Betapa inginnya hati melanjutkan yang tergantung, tapi apalah daya tangan tak sampai, penyambungnya pun tak bertemu. #29'sWarrior yang katanya serial ramadhan mubarok belum kunjung terampungkan. Maafkeun!! *senyum manis.
Disela pengisian Laporan hasil belajar anak-anak, target Al-Quran dan penyelesaian novel Bulan mungkin postingan ini sedikit perlu sebelum momennya terlewati jauh. Mungkin tidak terlalu penting, tapi catatan ini akan menjadi sejarah. Karena sejarah itu tidak hanya fosil hewan purbakala, tapi perjalan hari-hari yang terlewati tanpa kita sadar sudah banyak yang kita lalui; percayalah ini akan menjadi sejarah. Kita akan menjadi sejarah. *mata berkaca-kaca.
| Numpang satu foto dulu disini... |
Nice !!!!
ReplyDelete