Coretan di Bulan Juli


Assalamu’alaikum semuanya. 
Disela hari-hari berat yang luar biasa yang harus kita lalui demi berganti ke hari berikutnya, semoga banyak hal yang kita dapatkan sebagai buah dari yang namanya perjuangan. Semoga dengan banyaknya deadline, kita tetap dalam keadaan yang tidak kurang satu apapun.  Semoga apapun yang diusahakan dalam hidup ini menjadi ibadah yang akan menolong kita dihari pembalasan nanti. Hidup yang kita jalani hanya sebagai ladang yang kita garap sesuai keinginan petaninya. Petaninya adalah kita. Petaninyalah yang memilihkan bibitnya, unggul atau biasa saja, apakah akan diberi pupuk atau dibiarkan, disiram atau dibiarkan lekang oleh matahari. Maka yakin saja, apa yang kita usahakan itulah yang akan kita dapatkan hasilnya. Tidak lebih dan tidak kurang, kecuali Allaah memberikan bonus atas apa yang sudah kita lakukan. Bonus akhir tahun mungkin. Haha! Tidak mungkin ketika kita tidak menyiram dan memberi pupuk tanaman kita tapi tanaman itu akan tubuh subur tiada terkira. Tidak mungkin ladangnya tidak dirawat, tapi hasil panennya melimpah. Perhitungan banget! *eh. Ya ini sama dengan hitung-hitungan jodoh, bahwa laki-laki yang berusaha menjadi baik, maka ia akan mendapatkan perempuan yang baik-baik juga. Nah, para jomblo, perbaiki diri agar mendapatkan yang baik juga yes. *Lohkook..

Ibaratkan ladang tadi, maka para “Single Fighter” yang ada di dunia ini adalah petaninya. Apasaja kebaikan yang ia usahakan untuk memperbaiki dirinya maka itulah yang akan ia dapatkan atas usahanya. Tapi, berbaik diri bukan hanya perkara J**OH! Menjadi baik, tidak melulu masalah pendamping hidup.
Menjadi anak, kalian harus baik. Karena itu adalah parameter sampai dimana nasihat malam hari ayahmu kau dengarkan, sampai dimana omelan cinta ibumu kau aplikasikan. Apakah hanya sampai telinga atau… atau hanya menari indah di telinga kanan kemudian keluar panggung telinga kiri.

Menjadi adik, harus baik. Karena itu tolok ukur kakak dan saudara kalian dalam berbagi kebaikan. Menjadi kakakpun harus baik. Agar bisa kebaikan itu dialirkan kepada adik-adik yang meneladani cara kalian bermain.

Menjadi ibu yang merupakan sekolah pertama bagi seorang anak, harus juga memahami makna kebaikan. Sebenarnya, tidak ada aturan baku kebaikan itu sebentuk apa, bahkan hanya dengan mendengarkan cerita mereka bisa mencuci piring di sekolah, itu juga kebaikan. Kebaikan memaksimalkan waktu bersama mereka yang terkadang hanya menjadi selingan disela kesibukan Ibu yang bekerja di luar rumah. Anak-anak itu hanya butuh didengarkan, kemudian direspon dengan kata “Iya? Wah bagus sekali”, hati mereka sudah terbang menuju langit dan siap-siap saja, Ibu tersebut akan menjadi Ibu terbaik sepanjang abad. Percayalah! Atau tunggu nanti akan kuceritakan kisah mengenai "mereka". Tunggu yes!

Tugas mengalirkan kebaikan tidak hanya jatuh kepada seorang Ibu yang sebenarnya memiliki tugas yang banyak. Mencuci, memasak, menyapu, menyiapkan apapun. Apapun. Seorang ayah yang digadang-gadang bertugas mencari nafkah yang halal dan baik bagi keluargapun harus memberikan kebaikan-kebaikan dalam bentuk lain. Karena kebaikan tidak hanya memberikan belanja bulanan kepada Ibu dan uang saku kepada anak-anak. Meluangkan waktu menonton, berkebun dan bermain, sekaligus memperkokoh dasar-dasar Aqidah mereka itu akan lebih jauh dari cukup dibandingkan jajan dua puluh ribu satu hari.

Jadilah ibu  yang baik, ayah yang keren, yang akan mereka banggakan dihadapan teman dan guru mereka. Bahwa Ibu mereka adalah wonder woman, wanita terhebat yang akan ditirunya sepanjang hidupnya. Bahwa ayah mereka adalah super hero yang lebih kece dibandingkan superman bahkan hulk yang berotot besar itu. Semoga dengan bersuri tauladan baik, besar nanti mereka akan menjadi orang-orang yang baik. Pilot yang baik, yang sebelum take off menamatkan Al-Mulk terlebih dahulu. Pramugari yang baik, yang menutup auratnya ketika terbang ke luar negeri sekalipun. Tentara yang baik, yang push upnya diiringi dzikir Al-Ma’tsurat. Polisi yang baik, yang kalau menilang yang melanggar aturan lalu lintas, baca Innalillahi wainnailaihi roji’un (musibah ya, haha). Dokter yang baik, yang sebelum menyuntik, baca bismillah. Dan menjadi guru yang baik, yang akan mengajarkan pilot, pramugari, tentara, polisi dan dokter dengan cinta tak terbendung. Mendidik dengan cinta, menegur dengan cinta, marah dengan cinta serta mengapresiasi dengan cinta.

Karena menjadi baik adalah tentang perhargaan. Menghargai setiap detik hidup kita yang akan Allaah tanya nanti, hidup yang kita jalani untuk apa saja. Bagaimana kita menjawabnya jika di dunia kita tidak berusaha menjadi baik dan berbagi kebaikan terhadap sesama.

Iya! Menjadi baik tidak hanya urusan dunia. Menjadi baik adalah perkara SURGA! Perkara MATI!
Tulisan ini tidak hanya memastikan satu rumah di surga untukmu dengan segenap kebaikan yang sudah terpikirkan mulai saat ini. Tapi cerita ini tentang surga yang ingin kau bagi dengan yang lain.
***

Bye! Jangan tanyakan 29’s Warrior, karena aku tidak punya jawabannya. Maafkeun.
Akhirnya ada postingan di bulan ini. Tulisan ini terinspirasi dari ragam kebaikan anak baru di sekolah ini. Entahlah! Mungkin karena terlalu menikmati, semuanya terlihat baik. Haha! Sudahlah, nanti akan kuceritakan tentang mereka yang mampu membuat pagiku dihiasi pelangi dan soreku disuguhkan sunset terbaik di tepi pantai. Begitu indah.
Akhir kata maaf kalau ada salah. Assalamu'alaikum.


Comments

  1. Assalamu'alaikum.. budiiiiiiin..

    *sapaan dibulan oktober 😁😆😆😆

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29