Terpaksa Review! (Part2)

Asaalamu'alaikum, sapaku seramah mungkin. Melihat layar tak bernama, kuberanikan diri mengangkatnya, mungkin walimurid minta tolong anaknya diingatkan tidak berlari di sekolah atau snacknya sudah di titip di pos satpam pikirku.

Kak! 
Loh? Aku menjauhkan telfon genggam itu dari telinga dan menggumam. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Hahah menyimpan nomor telfon anak sholeh ini.

Aduh! Sudah kepalang diangkat. Yasudah~

Ya? begitu jawabku singkat.
Kakak udah sembuh? Pertanyaan basa basi terdengar dari seberang sana

Kok tau sih? 
Eleh, gimana ga tau, kakak kan norak. Sampai naro di history instagram.

Alamak! Jadi itu bisa dilihat orang? *gugup 
Trus buat apa dibikin keles! Norak~

Kakak lagi dimana?
Di sekolah. 

Udah masuk?
Udah, ini anak-anak lagi dhuha. Sudahlah ya.

Yap, Asaalamu'alaikum.
'Alaikumus salaam warohmatullah wabarokatuh.

Menurut diagnosa sesaatku, permasalahan tadi sudah selesai, aku sudah sembuh, telfon sudah ditutup dan norak~ Ah sudahlah, maafkan aku! Haha

Aku teringat ayat AlQuran, Bahwa Allaah tidak akan menguji suatu kaum diluar batas kemampuannya. Itu yang kuingat. Mungkin Allaah masih melihat kekuatanku untuk satu ujian lagi. Well, ujian harus datang lagi haha.

Siapa sangka, siapa duga, anak sholeh itu kembali ingin "merusuh"kan hidupku. Kembali nomor telfon tidak bertuan menari di layar handphoneku, dan tentu saja aku sudah lebih tau itu siapa.
Tapi Tuhan menyelamatkanku. Sore ini jadwal home visit ke rumah salah seorang siswiku. Jadi tanpa berlama-lama telfonpun ditutup. Alhamdu....lillaaaaah.

Kalau bocah ini sudah menelfon, berarti ada sesuatu yang harus kita penuhi. Huh, mana mungkin anak ini menelfon hanya untuk bertanya kabar; mustahil, kaya sinetron Indonesia tuh, fiktif belaka.

Percakapan basa basi tetap terjadi dan pembahasan tidak penting yang membuat kepala mual perut pusing, mulai dari sakit apa, sudah sembuh, ga perlu di jenguk lah ya, bahas apel merah yang menandakan kejayaan apalah gitu, hubungannya dengan Snow white, Sleeping beauty, dan hal yang tidak sepantasnya pada cerita-cerita dongeng itu, nyangkut juga cerita Muhammad Al Fatih, Arman dan Seril *bukan ini tulisannya*. Huk, Arman? Blog? Sudahlah! Kebuntuan ini menemui titik terang.
Apalah yang diharapkan bocah ini selain REVIEW! Hantu review ini selalu membayangi hidupku. Dan aku tidak bisa bersembunyi.
"TETAP" memaksaku untuk membaca blog dan meminta review yang memang begitu selalu. Mengapa dari awal aku tidak mencium aroma kelicikan ini. Ah ini memang salahku!

Mana review, Kak?
Ga ada!

Sudah baca? 
Belum.

Lihat blognya?
Belum.

Ayolah gamau tau, baca dan segera review.
*Melongo dibalik telfon pintar ini.

Terror ini semakin sulit dihindarkan ketika beberapa jam setelah itu datang apel merah dan coklat sejenis cangkibaar di depan rumah. Ya, walaupun harus merelakan 1 buku yang mungkin bisa rusak oleh anak kecil ini. *Awas guratnya bertambah!

Akhirnya, tanpa basa basi ini reviewnya 
Dan harus diingat, bahwa yang memberi review tidaklah lebih baik dari pada yang membacanya. You better than me, ofcourse!!

Membaca bagian awal, pasti ini seri terakhir, tapi sepertinya tidak. "I'm not Romeo". Kenapa harus bakso? Ah lupakan! Sepertinya kurang ahsan kalau dibaca dari belakang, jadilah pembaca yang baik ini berjuang mencari awalnya.
Well, apa yang ditemukan? 
Kebingungan. Ini awalnya yang mana.

Saran, untuk sekuel posting atau postingan bersambung ini ada baiknya diberi tanda, judulnya sama kah, atau ada hashtag penanda kah, atau diurutkan terbitnya, eh tapi ini tidak mungkin ya. Ya, minimal jangan banyak banget artikel penghalangnya, jadi untuk pembaca yang hanya ingin membaca seri ini saja kan ga kewalahan. Memang sih, ada tandanya sudah, "selamat pagi kesiangan", tapi ternyata ada beberapa postingan yang sapaan awalnya menggunakan sapaan pahlawan bertopeng ini juga. Kan bikin emosi ga sih[?].

Kita mulai dari ragu, seperti keraguan kakak, ini bener awalnya apa engga, tapi sudahlah.
Narasi paragraf 1 dan 2 dewaaaa banget, nyaris sempurna tanpa cela haha. You did great, Anak Muda!
Tapi tetaplah ya ada repetisi yang agak mengganggu pembaca seperti kata-kata "pertanyaan". Tapi tergantung selera sih, ada yang suka sama repetisi, yang menandakan bahwa itulah bagian pentingnya. Dan kebetulan kakak yang kurang suka, biarkan!
Bapersih sama kata-kata yang ini
"Satu-satunya kepastian diantara kita adalah ketidakpastian itu sendiri".

Seketika semua kenangan huruf-huruf dalam novel hujan bergelayut indah di depan mata. Haahhh!! Agak sesak. Dewa banget bapernya *fix drama*

Lanjut ke Sabtu Petang.
Tetap bikin kesel, kenapa harus SBR bukunya, cari buku yang bikin pembaca ga sedih-sedih amat lah ya.. *oh kakak aja kali ya, maaf*

Sempurna deskripsi novelnya, mengangkat tulisannya. Dengan kekerenan novel itu, biasnya adalah kepada tulisannya. Berterimakasihlah kepada SBR yang sekarang sudah revisi judul dan cover.
Sabtu petang keren, ada salah satu kata yang membuat kakak check KBBI, you know lah ya.. 'Sesap'. Dan itu keren banget. Deskripsi kafenya kekinian banget sudah.

Kalau bagian 'Ngidam', jujur ga ngerti hubungannya apa, mungkin karena terlalu lelah atau terlalu baper, ga tau lah ya.. yang pasti ga jelas aja. 
Hubungannya apa sih~ 

Baca bagian ngidam ini yang terbayang adalah gedung SKA, yang gramednya ada di lantai sekian. Membaca detailnya langsung membayangkan mall itu. Mungkin memang iya setting latarnya Mall SKA.
Seneng ga sih kakaknya setelah abang itu foto selfie begituan? Yasih, PoVnya ga abangnya ya.. Tapi setidaknya beliau su*mi yang keren *ehapasih

Ada satu kalimat yang kayanya penulis banget
"Loh, biar aku ajalah mas". Sumatera style banget dah!

Well, I'm not Romeo hanya fokus ke bakso. Cara membeli cara menuangkan itu udah ekspert banget. T.O.P sudah~
Dengan 47 detik yang menenangkan tetap membuat yakin, bahwa bacaan mempengaruhi tulisan seseorang. Baguss!

Dengan memasukkan lirik lagu Charlie Puth *lupa bagian mana, blog ini serasa lebih riang, ga monoton permainan diksi aja isiinya.

Overall, as always~ Keren bukanlah kata-kata yang tidak pantas.
Narasinya dibeberapa paragraf itu sudah melangit. Deskripsinya juga udah mantaff sudah. Dialognya, monolognya, semuanya.

Maaf salah-salah kata. Terimakasih sogokaan demi sebuah review yang tak seberapa ini.

*Keep reading, keep writing, keep bloging*

Wassalamu'alaikum. Salam Bahagia

Nb: Untuk sahabat semua yang mau berbagi 2 buah Sajak Melawan Jarak, pasti saya akan merasa senang sekaliiii~ Ditunggu yes!! Masih ada give away insyaAllaah.

Comments

  1. It's Sheryl, not Seril 😒 .

    Ehaaaaaaaaaak, makasih kakakku yang luar biasaaaaaaaaa

    Tidak jelek juga tidak biasaaaaa 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin maksud anda "Mulai lebay" atau telusuri "Lebaymulai"

      Delete
    2. enter...

      tujuan anda tidak diketahui.. anda boleh coba browser lain~

      Delete
  2. "I am not Romeo"itu ada pesan moralnya juga loh, kok cuman fokus ke baksonya aja sih kak ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yakan kakak baper hahah

      "Jatuh cinta memang membuat orang jadi bodoh, tapi putus cinta bisa membuat lebih bodoh lagi. Aku kehilangan kemampuan menyikapi persoalan secara tenang. Mulai menyalahkan semua yang ada atas kegagalan hubunganku dengan Ayumi. Aku tak menyangka, hal seperti ini kembali terjadi padaku"

      Bukan melupakan yg jadi masalahnya, tapi menerima~

      Siapapun dia, perjuangkan! Ini Mas Devon kecelah~

      Ah, sudahlah..

      Delete
    2. Gak itu loh pesan moralnya kak -_-

      Kok redy mendadak jd merasa gagal sebagai calon penulis krna gak bisa mencerdaskan pembaca ya ? 😶

      Delete
    3. kan bener gajelas berarti..
      abisnya main diksinya keterlaluan sih.. kan jadi bingung~
      emosi niii
      besok jangan gitu lagi

      Delete
    4. Salah juga lagi diksi adek, kak 😒

      Yalaaaah, kakak suci redy penuh dosa~

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29