Hitam dan Biru Duaribuenambelas
Pada sebuah garis waktu yang
merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah
hidupmu untuk selamanya. –FB-
2016 telah berlalu tanpa bisa
ditahan lajunya, berjuta kenangan telah kita lewati; yang Allah takdirkan atau
hanya sebatas angan yang tak kunjung menjadi nyata. 366 hari yang akan kita
pertanggung jawabkan nanti di hari berbalasnya semua perbuatan. Terimakasih kalian
yang sudah membuatku tidak takut menghadapi hari-hari itu. Sesungguhnya aku tidak
bertemu dengan satu orang yang akan
mengubah hidupku untuk selamanya itu, tapi aku bertemu BANYAK sekali orang-orang yang aku yakin karena merekalah aku bisa
sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Terimakasih untuk kesempatan mengenal
kalian, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak
perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terimakasih. Nasihat lama
itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi
aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Terimakasih untuk aku
yang tidak memberikan apapun dalam hidup kalian. (Kutipan dalam Novel
Terbaik sepanjang masa; Tentang Kamu-Tere Liye)
Begitu banyak pertemuan, dan
disaat yang sama kita sudah harus bersiap dengan pahitnya perpisahan. Dan ternyata
sakitnya bukan “ecek-ecek” kalau kata
Kirana. Kembali teringat betapa luka itu sulit sekali disembuhkan, jangan-jangan
ini diabetes. Uni, percayalah luka itu masih menganga hingga hari ini! Uni Ika,
yang Uni lakukan itu jahat. Kalau ada terbesit pertanyaan, siapa Uni Ika
silakan scroll hingga beberapa puluh postingan haha.
Siang diawal Ramadhan waktu itu
masih sama, bayangkan panasnya Pekanbaru ditambah hingar bingar lalu lintas
yang tidak bisa bekerjasama dengan perut membuat puasa terasa sedikit berat. Berita
kepulangan Uni Ika ke kota Ibu dan Bapaknya memang sudah kuratapi dari beberapa
hari sebelumnya. Tapi tangisan itu segera sirna ketika janji pertemuan sudah
diucapkan. Bodohnya aku percaya! Entah mengapa, dengan padatnya agenda sekolah
pada saat itu, aku tidak berpikir bahwa janji itu PALSU!
Dan pada sore yang membuat semua
kelabu itulah aku menagis sejadinya dengan “Es Jeruk Kasturi” di tangan kiri
dan handphone ditangan kanan yang didekatkan ke arah telinga kiri. Isakan pilu
itu menarik empati bapak-bapak yang sedang duduk di warung PO bus tersebut.
“Kenapa? Ketinggalan bus ya? Ayo diantar,
mumpung masih dekat” Bapak berkata tulus dan mengamati gerak-gerikku yang
mungkin mencurigakan.
Sambil tersenyum, aku menjawab “Bukan,
Pak. Hehe” lalu kulanjutkan menangisi Uni dari ujung telpon.
Sudahlah! Aku sungguh tidak
menangisi, kenapa pada saat aku sampai di PO Bus SAN itu, dan mobilnya pergi
membawa Uni Ika dan semua kenangan. Terimakasih, tatapan terakhir di kota ini!
Segenap kota ini masih setia menunggu untuk kita habiskan malam bersama
layaknya bersama Ibu pada suatu hari itu. Yes! Sisa luka itu masih dalam, tapi
tidak sesakit dulu. Yang pasti setiap melihat Bus itu melintas, rasanya ingin
ku bocorkan ban depannya *eh haha.
Pada sebuah garis waktu yang
merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka kau kehilangan pegangan. –FB-
Hai! 2016 bukan hanya kisah
menyedihkan di PO Bus jahat itu. Sebelum itu terjadi, bahkan kita sempat
merasakan bahwa Pekanbaru ini milik kita bersama dan yang lain hanya manekin
yang di pakaikan baju, sebelum kau menuju Tanah kelahiranku. Menyenangkan menghabiskan
waktu tanpa berbeban layaknya anak SMA yang udah selesai UN dan pengumuman
SBMPTN sudah menyatakan lulus di kampus terbaik 1 Indonesia. Begitu leganya
pasti.
Menghabiskan hari di labor,
berjalan menyusuri kota hanya demi menyelesaikan proposal seorang Adik,
menyaksikan lomba atas nama perkakak-adikan dan semua yang sudah kita jalani di
awal tahun lalu itu. Mengantarkan ku menjemput takdirku di Bintang Cendekia,
kau-lah orangnya. Orang yang aku tidak akan pernah bosan menceritakannya. Apalagi
bersamanya.
“Kakak bosen ga main ama kak etu?
:))” Ini pertanyaan terbaik yang pernah ada. Aku rasa jawabannya begitu haha
Karena aku pernah mencari, tapi
berkali-kali berujung dengan lengan yang memeluk diriku sendiri. Kemudian kau
datang meraih tanganku bahwa kita akan temukan apapun itu. Kau datang peluk
semua kekhawatiran bodohku.
Terimakasih, dan 2016 adalah masa
ketika alphabet hanya 25, karena hilangnya semua huruf R dari hidupku! Ririn Restu
Riska, kalian sudah pergi dengan membawa satu abjad hingga aku kepayahan
menyusun kata. Suatu waktu kembalilah! Pulanglah! Karena disini, luka kalian
tidak akan kalian tanggung sendiri.
Ribuan kata masih tercekat
ditenggorokan, bahkan berkali-kali dengan susah payah aku menelannya hanya
untuk menanyakan kabar. Aku takut! Entahlah aku benar-benar takut atau tidak. Terimakasih
untuk hari-hari itu. To be honest, aku tidak benar-benar cemburu dengan
siapapun di dekat kalian. Aku semakin bahagia, nyatanya kalian dikelilingi
dengan banyak cinta dari orang-orang terkasih. Aku juga tidak benar-benar marah
jika waktu kalian habiskan dengan yang lain. Justru aku lega, ternyata kalian
masih sebaik dan seramah dulu. Tapi aku benar-benar takut, takut kalian tidak
pernah kembali! Maaff.
Pada sebuah garis waktu yang
merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik
kenangan tertentu. –FB-
Tapi setiap itu hampir terjadi
selalu ada yang menahanku. Setiap hari! Kalian tau? Hidup berjauhan itu
menyiksaku. Tapi mereka yang baik hati telah merangkulku ketika bahuku tergugu
karena tangisan rindu, mereka yang selalu mengulurkan tangan setiap pagi bahkan
mengejarku hingga menubruk perutku. Au! Assalamu’alaikum sayang.. Sambil kuusap
dan cium lembut kepala mereka satu persatu. Mereka layaknya kalian, cans! Walaupun
kalian sudah membawa pergi satu huruf dari hidupku, setidaknya warnanya masih
utuh. Tawa mereka selalu menjadi supplier semangat di pagi senin, bahkan
tangisan dan tingkah konyol mereka membuatku tidak bosan untuk duduk tersenyum
dibalik mejaku. Hanya memandangi mereka dari jauh, lelahku terbalas. Walau rindu
kalian belum terbahas.
Aku bersyukur kita pernah salah
masuk ke gedung sekolah ini pada saat Rakernas Ikahimki 2013 lalu, Rin. Setidaknya
sudah ke semua tempat aku pernah duduk di belakangmu sambil tertawa
menceritakan apapun yang teringat. Begitupun tempat yang sekarang kuhabiskan
masa menunggu esok datang.
Ya! Awal tahun 2016 aku putuskan
untuk mengakhiri kesendirian *eh haha. Untuk mengakhiri masa penantian akan
kepastian hidup. Keputusan untuk bekerja, sebenarnya tidak ada paksaan dari
pihak manapun. Apalagi sebelumnya aku sudah siapkan beberapa hal untuk
melanjutkan studi. Haha hanya Allah yang sudah tau surga mana yang harus
kucapai terlebih dahulu. Melanjutkan kuliah; surganya ilmu. Bekerja; surga
dunia akhirat. Yang pasti, ibuku bahagia dengan keputusan itu. Ada pengharapan
di mata indah itu. Harapan itu sangat jelas dan semakin jelas ketika aku
bahagia menjalani hidup disini. Ini adalah design “tempat bekerja” yang sudah
aku gambarkan dalam doa-doaku dulu. Rasanya semuanya Allah kabulkan. Lingkungannya, suasananya, visi dan misinya,
idealismenya, dan beberapa hal pendukung lainnya.
Ilmu kimia-ku, mungkin
benar-benar tidak semaju teman-teman yang lanjut jenjang, tapi dalam hal lain,
aku menemukan jawaban-jawaban yang hadir seiring berjalannya waktu. Cara mendidik
anak? Di sekolah ini aku menemukan bergam bentuk orang tua dalam mendidik anak,
mulai dari orangtua super sibuk yang anak-anaknya kurang perhatian hingga
anak-anak yang di dungukan oleh kasih sayang berlebih orang tua yang menjadikan
anaknya tak mampu berbuat apa-apa. Pastinya banyak sekali orang tua luar biasa dalam
mendidik anak mereka. Yang bertanya tiap jengkal tumbuh kembang anak mereka,
memberi masukan yang membangun, bahkan ada yang terang-terangan meminta kami
menghukum anaknya jika tidak sesuai aturan sekolah. Mana tega~ Setidaknya ilmu parenting
sedikit mengalami kemajuan hha.
Tidak hanya siswa yang belajar di
sekolah ini, tapi yang paling penting adalah guru yang pembelajar. “Karena guru yang tidak mau belajar harus
berhenti mengajar”. Setiap hari selasa disisihkan waktu 2 jam lebih untuk
membahas masalah pendidikan terkini, dari buku ataupun jurnal internasional. Membedah
buku “Islamisasi Pendidikan” yang sangat berat itu menjadi hari-hari menakutkan
kalau diingat-ingat. Walaupun nilai mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam lumayan
bagus, dihadapkan buku ini ternyata bingung tidak nafsu makan.
Setiap agenda dalam mendidik anak
juga dijadikan ajang pembelajaran bagi gurunya, Leadership Activity setiap hari
jumat, Peer teaching kelas IV, COE kelas V, Big Assembly, Super camp, Special
Camp, Hubbul Quran, SLC, LPA dan segala bentuk kegiatan di sekolah ini demi
membangun karakter anak bangsa yang lebih baik. Mengeksplor multiple intelligence
siswa dengan berpatokan terhadap muwashofat mungkin ini sudah cukup membantu
demi terciptanya Khalifah fil Ard. Semua ini akan berhasil jika seluruh
komponen bersinergi dengan baik. Guru, orang tua dan siswa. Semoga!
Bertemu guru-guru luar biasa, aku
sangat kecil disini. Kecil dalam segala aspek. Ilmu, pengalaman, agama, kebaikan,
ketulusan dan UMUR. Terimakasih Kak Velly, yang telah berbaik hati mengajakku
bicara pertama kali menginjakkan kaki di kantin Bintang Cendikia dan menjabat
tanganku hangat. Dan siapa yang bisa prediksi, beliau menjadi wali kelas
pertama. Wali kelas terbaik hingga kapanpun. Semua yang terlihat baik dari ku
hari ini, banyak itu adalah karena pertemuan singkat itu dan semoga bertahan
lama hingga kapanpun. Dan semua tentang bintang cendikia, team level 1, team
Pramuka yang telah mewarnai hidupku menjadi lebih biru. Apa jadinya aku tanpa kalian!
Begitu banyak perjalanan yang
sudah dilewati tahun ini. Mengisi kekosongan hari bahkan kekosongan hati haha. Membawaku
dengan menemukan jawaban-jawaban atas sekelumit persoalan, menikmati hujan,
merasakan dinginnya malam, melihat matahari dan menyanyikan lagu kesyukuran. Bagaimanalah
aku yang bukan apa-apa dalam perjalanan itu, Kak Wirda, sopir cantik nan baik
hati, yang membawa mobil dengan sangat dan teramat baik. Bayangkan saja, kelok
44 kami tidak mual sama sekali bahkan tertawa takjub melihat pemandangan Danau
Maninjau. Widi, Navigator handal yang mampu menunjuk arah kami yang buta daerah.
Buktinya kita sampai ditempat yang kita mau. Keren! Terimakasih, Mapsist!
Pembaca peta maksudnya. Kak Velly dengan semua ketenangannya, yang mampu
memberi keyakinan kepada teman disebelahnya hanya dengan menatapnya. Ini ala-ala
Raib di buku Matahari haha. Kak Ega dengan semua pengetahuan tentang
tempat-tempat travelling yang tiada duanya. Cocok jadi coordinator memang. Kak
Diyah dan Bela yang selalu menghibur disetiap kesempatan mereka yang sering
tidur. Tapi mereka ucul banget haha. Dan Dini? Seorang anak kecil yang hanya
bisa bernyanyi dengan suara sumbang. Oh seperti useless people haha. Tapi kita
semua saling melengkapi. Jika ada yang membully seseorang, maka akan kita
lengkapi agar terkemas menjadi lebih baik berkelas dan lebih jelas *eh. Cool
kan? CoolKAS!
Perjalanan yang kita lalui tidak indah
semua. Suatu waktu kita bisa tidak yakin dengan apa yang akan kita tempuh. Jalan
berbatu runcing yang tidak aman untuk mobil, yang menghadirkan perdebatan. Sampai
akhirnya ada yang bilang, rela jalan 7 km demi sebuah tempat yang indah itu. Tidak.
Akhirnya kita tetap jalan pakai mobil, dan yang duluan mengeluh adalah manusia
yang mau jalan 7 km tadi. Padahal kita Cuma duduk di mobil, gimana jalan kaki? Ya
begitulah!
Pernah juga, kita dihadapkan
pilihan sulit. Waktu itu kita dari Solok menuju Pariaman. Dari Solok sore, sampai
di Pariaman sekitaran jam 20.00. Mau kemana? Kita tidak tau! Malam itu aku
sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa. Mengingat kita semua adalah
perempuan. Kenapa ga ajak laki-laki? Yaaa kalian tau lah jawabannya itu. Haha. Pilihan
pertama kita tidur di masjid musafir. Oke!
Karena semuanya oke. Ya oke lah! Menuju masjid, disana kami bertemu wanita
paruh baya yang tidak terlalu tua. Mungkin beliau melihat gelagat aneh, dan
menghampiri kami di mobil. Kami berbicara dibawah gerimis Kota Pariaman. Kami mengutarakan
maksud ingin menumpang di masjid ini dan menceritakan sedikit perjalanan kami.
Terlihat ibu itu berpikir dan kemudian menawarkan tempat menginap di rumah kakaknya. Kakaknya laki-laki dan istrinya
sedang di kota lain. Penawaran itu sungguh di luar dugaan. Tapi ada satu
kalimat yang membuat kami tidak bisa memutuskan cepat. “Tolong jangan kasih tau
siapa-siapa kalau saya menumpangkan adik-adik tidur di rumah kakak saya”, begitu
kira-kira. Jujur kami tidak bisa membaca pertanda apapun dari teka-teki ini.
Rerintik gerimis semakin deras menghujani Pantai Gondoriah yang sedang dalam masa
perbaikan malam itu. Kami meminta Ibu itu untuk meneduhkan diri di pelataran
masjid, agar tidak terlalu basah. Ibunya ikut. Mulai dari langkah pertama Ibu
itu menuju masjid, kami berembuk; berdebat; berargumen. Luar biasa ini pertama kali dalam perjalanan
kami yang tidak bisa memutuskan sesuatu. “Kalau
Sri di posisi ini, apa yang akan ia lakukan?”
Kami memetakan semua kemungkinan
buruk yang akan terjadi dan semua hal tentang keselamatan yang paling utama
pada saat itu. Jadilah keputusan kami menolak kebaikan ibu tersebut. Oh bukan! Ini
hanya demi kebaikan dan keselamatan kita semua, karena kita semua tidak tau
bagaimana keadaan kita nanti. Iya! Memang benar, dunia ini tidak hanya ada orang-orang jahat,
koruptor, penista agama, penjahat pemerintahan, tapi masih ada orang-orang
baik. Dan malam itu kami belajar kebaikan. Walaupun kami akhirnya harus mencari
kebaikan-kebaikan lain. Di atas tanah basah Pariaman, atas nama persaudaraan
Islam, semoga apapun yang diusahakan Ibu tersebut menjadi hal-hal kebaikan
semuanya. Dan pastinya semoga hidup beliau lebih baik. Mungkin jika Sri di
posisi itu, ia akan melakukan hal yang sama.
Sudah. Lupakan masalah penginapan
yang menyebabkan grup kita berganti nama “Princesspacker”. Mungkin sudah
saatnya kita berubah. Maka ikhlaskan saja kalau begitu.
Banyak hal yang sudah kulupakan
agar hidup terasa baik, karena sesungguhya, yang lebih menyakitkan dari
melepaskan sesuatu adalah; berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara
perlahan. –FB-
Ada yang menyakitkan selama
beberapa bulan ini? Ada yang sudah kita lewatkan tahun ini? Ada yang sudah kita
lupakan? Mungkin! Untuk hujan yang membuat kalian terburu-buru di senja jumat
itu, terimakasih. Kami sudah menutup habis cerita buruk tentang kita, bahkan
sampai sebelum kalian datang siang itu. Sejak saat itu tidak ada lagi
pembahasan tentang kegagalan. Mungkin tidak lupa secara sempurna, tapi harusnya
hati kita sudah berperan lebih dewasa. Kalian tetap menang dimata kami. Klise? Bisa
jadi!
Tapi percayalah, gagal hanyalah cara
kita memberi nama pada hasil yang sesuai keinginanNya, tapi tidak sesuai
angan-angan kita. Pastinya ratusan hari di pulau seberang sudah banyak
mengajarkan kalian makna dari sejumput kejadian masa lalu. Seperti sepatu
kalian, dek. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kalian
mesti kuat. Buatlah pijakan kalian kokoh. Karena bukan hasil yang menjadi inti dari
sebuah pencapaian, tapi proses menujunya. Maka untuk semua yang terjadi hari
ini, bersyukurlah!
Demi tidak tereduksinya makna
rindu, kami berterimakasih untuk hujan yang membuat kalian terburu-buru di
senja jumat itu. Walau waktu itu hujan tidak bisa menahan kalian disini,
sepertinya itu lebih bijak. Karena satu persatu akan pergi, dan kita mulai sadar bahwa mungkin kita sedang diuji dengan orang-orang yang tampak akan tinggal selamanya tapi ternyata meninggalkan. Ya! Itulah hidup.
Hidup terus berjalan dan perlahan
hujanpun mulai berbaik hati, mampu menahan orang-orang yang seharusnya tinggal
dan tidak meninggalkan. Tepat suatu sore jumat di gramedia yang diguyur hujan
lebat, kami memutuskan untuk menunggu reda dan sholat maghrib di musholla
gramedia tersebut. Awalnya mau ke Ar Rahman, ah banyak tumpukan rindu disana. Apalagi
hujan *eh haha. Azan dan berwudhu’. Sayangnya tidak bisa sholat berjama’ah, karena
ada seorang laki-laki yang sudah mulai sholat dan aku tidak berani untuk
menepuk pundaknya, apalagi bertanya kabar *loh?. Jadilah kami waktu itu
berempat sholat sendiri. Selesai sholat, 2 orang temanku sudah keluar,
mengingat kapasitas mushollanya tidak terlalu banyak. Kuselesaikan doa kala
itu, mumpung lagi hujan. Selesai berdoa, tetiba gerakan tanganku terhenti ketika
seseorang masuk dan mengambil tempat untuk sholat paling pojok. Kemudian sholat
dengan sesekali terdengar olehku bacaannya. Entah kenapa, anak yang seperti
mahasiswa ini menjadi perhatian dengan gerakan sholatnya yang nyaris sempurna. Haha
apasih! Kemudian setelah salam anak ini berdzikir dan doa panjaaang sekali, dan
lafalnya jelas sama dengan bacaan anak-anak di sekolah. Aku tertegun, melihat
style nya mungkin tidak akan percaya bahwa dia melakukan hal tersebut, mulai dari
menghindari “sesuatu” hingga memilih tempat paling pojok untuk sholat sampai
berdoa dengan khusyu’ seperti tidak sedang ditempat lain. Ya Allah ampuni aku! Ampun.
Setelah melihat kejadian itu, aku
segera bergegas melipat mukena karena anak tersebut sudah mengaminkan doanya. Buru-buru
meletakkan mukena dan berbalik. Kosong. Tidak ada anak tadi. Adanya kak Velly
dan satu orang baru masuk untuk sholat juga. Padahal sebelum menggantungkan
kain ini aku masih melihat ransel hitamnya di dinding musholla. Aku bergidik,
jangan-jangan… Sudahlah! Jangan sampai Muwashofat no 1 ku bermasalah lagi. Aku pura-pura
tenang, tapi tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan anak tadi.
“Kakak lihat yang sholat di ujung
tadi?” tanyaku memecah keheningan di musholla kecil itu.
“Lihat” jawab kak Velly mengangguk.
“Kemana kak?” tanyaku lebih kecil
lagi, takut yang lagi sholat ikut nguping haha
“Udah keluar”. Aku berYAH dalam
hati. Padahal mau minta tanda tangan. Bhay lah kalau gitu.
Kutunggu kak Velly memakai kaus
kaki, kemudian kami keluar dengan pikiran masing-masing atau jangan-jangan
sama. Sampai di luar terdengar suara hujan keras sekali, dan kami memutuskan
untuk menunggu hujan reda, agar tidak digenangi kenangan haha.
Duduk di depan musholla, dari
sudut mata kulihat ada beberapa anak laki-laki juga duduk di arah yang
berseberangan tapi kearah jam 5, bukan sejajar. Masih dengan kode yang sama
ternyata kak Velly mengetahui isi pikiranku. Lalu kami tertawa. Hahaha.
Di sela tawa dan bunyi hujan
terdengar seseorang menyanyikan sebait lagu
“I’m only one call away”…
Siapa yang menyanyikan? Lagu itukan…
Haha
Kak Velly bilang, yang ditengah. Dan
sampai pulangpun aku tidak berani untuk sekedar melihat siapa yang bernyanyi. Tapi
dengan keyakinan penuh setelah sedikit melihat tas diujung kursi panjang itu,
kami yakin yang menyanyikan adalah anak yang seperti mahasiswa tadi. Jadilah akhirnya
aku benar-benar butuh tanda tangannya setelah menyanyikan lagu Charlie
Puth yang kece itu. Sayangnya aku bukan seorang Widi yang berani menanyakan
helm orang yang sedang naik motor dari Bangkinang ke Pekanbaru tanpa penutup
kepala. Bahkan aku juga bukan kak Ek* yang berani mengajak abang-abang hanya
untuk dikenalkan dengan temannya. Hahah. Dan satu hal, anak laki-laki seperti
mahasiswa yang tidak tau rupanya itu, suaranya bagus! Bhak! Pelajaran malam itu
bukan di lagu yang dinyanyikannya, tapi sebuah pepatah dalam bajasa Inggria yang artinya “jangan
hanya menilai orang dari penampilan luar, terkadang itu bukan penampakan yang
didalamnya”. ITU!
Well, akhir Desember kualui
dengan berharap waktu berjalan lambat. Berharap agar kebersamaan tidak lenyap
begitu saja. 6 orang anak Ibu dan Bapak dengan seluruh menantu, maksudku 5
orang kakak ipar dan 11 keponakanku berkumpul di rumah kecil kami. Banyak cerita
beberapa tahun terakhir yang tidak terungkapkan. Banyak sekali! Sungguh aku
rindu masa-masa Uda, Abang bermain gitar dan kita bernyanyi bersama dan Ibu
hanya menangis karena lagunya sedih. Rindu masa bully membully satu sama lain. Rindu
masa berebutan tahu goreng ibu. Yah, walaupun tidak bisa bersua dengan Sahabat Baik, Inyun, Acho, Esa. InsyaAllah tahun 2017 kita bertemu. Semoga kita semua sehat selalu dan Alah
limpahkan segala kebaikan.
2017 yang baik, baik-baik ya!
2017 yang baik, baik-baik ya!
Ps: Setiap cerita bagaikan domba;
kalau tidak diikat ia akan hilang. Maka tulisan ini bukan bermaksud apa-apa,
jika ada pihak-pihak yang merasa tersakiti, mohon maafkanlah!
Pss: Doakanlah! Aleppo butuh
kita!

Comments
Post a Comment