Hitam dan Biru Duaribuenambelas

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. –FB-


2016 telah berlalu tanpa bisa ditahan lajunya, berjuta kenangan telah kita lewati; yang Allah takdirkan atau hanya sebatas angan yang tak kunjung menjadi nyata. 366 hari yang akan kita pertanggung jawabkan nanti di hari berbalasnya semua perbuatan. Terimakasih kalian yang sudah membuatku tidak takut menghadapi hari-hari itu. Sesungguhnya aku tidak bertemu dengan satu orang yang akan mengubah hidupku untuk selamanya itu, tapi aku bertemu BANYAK sekali orang-orang yang aku yakin karena merekalah aku bisa sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Terimakasih untuk kesempatan mengenal kalian, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita. Terimakasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. Terimakasih untuk aku yang tidak memberikan apapun dalam hidup kalian. (Kutipan dalam Novel Terbaik sepanjang masa; Tentang Kamu-Tere Liye)

Begitu banyak pertemuan, dan disaat yang sama kita sudah harus bersiap dengan pahitnya perpisahan. Dan ternyata sakitnya bukan “ecek-ecek” kalau kata Kirana. Kembali teringat betapa luka itu sulit sekali disembuhkan, jangan-jangan ini diabetes. Uni, percayalah luka itu masih menganga hingga hari ini! Uni Ika, yang Uni lakukan itu jahat. Kalau ada terbesit pertanyaan, siapa Uni Ika silakan scroll hingga beberapa puluh postingan haha. 

Siang diawal Ramadhan waktu itu masih sama, bayangkan panasnya Pekanbaru ditambah hingar bingar lalu lintas yang tidak bisa bekerjasama dengan perut membuat puasa terasa sedikit berat. Berita kepulangan Uni Ika ke kota Ibu dan Bapaknya memang sudah kuratapi dari beberapa hari sebelumnya. Tapi tangisan itu segera sirna ketika janji pertemuan sudah diucapkan. Bodohnya aku percaya! Entah mengapa, dengan padatnya agenda sekolah pada saat itu, aku tidak berpikir bahwa janji itu PALSU! 

Dan pada sore yang membuat semua kelabu itulah aku menagis sejadinya dengan “Es Jeruk Kasturi” di tangan kiri dan handphone ditangan kanan yang didekatkan ke arah telinga kiri. Isakan pilu itu menarik empati bapak-bapak yang sedang duduk di warung PO bus tersebut. 

“Kenapa? Ketinggalan bus ya? Ayo diantar, mumpung masih dekat” Bapak berkata tulus dan mengamati gerak-gerikku yang mungkin mencurigakan.
Sambil tersenyum, aku menjawab “Bukan, Pak. Hehe” lalu kulanjutkan menangisi Uni dari ujung telpon.

Sudahlah! Aku sungguh tidak menangisi, kenapa pada saat aku sampai di PO Bus SAN itu, dan mobilnya pergi membawa Uni Ika dan semua kenangan. Terimakasih, tatapan terakhir di kota ini! Segenap kota ini masih setia menunggu untuk kita habiskan malam bersama layaknya bersama Ibu pada suatu hari itu. Yes! Sisa luka itu masih dalam, tapi tidak sesakit dulu. Yang pasti setiap melihat Bus itu melintas, rasanya ingin ku bocorkan ban depannya *eh haha.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka kau kehilangan pegangan. –FB-

Hai! 2016 bukan hanya kisah menyedihkan di PO Bus jahat itu. Sebelum itu terjadi, bahkan kita sempat merasakan bahwa Pekanbaru ini milik kita bersama dan yang lain hanya manekin yang di pakaikan baju, sebelum kau menuju Tanah kelahiranku. Menyenangkan menghabiskan waktu tanpa berbeban layaknya anak SMA yang udah selesai UN dan pengumuman SBMPTN sudah menyatakan lulus di kampus terbaik 1 Indonesia. Begitu leganya pasti. 

Menghabiskan hari di labor, berjalan menyusuri kota hanya demi menyelesaikan proposal seorang Adik, menyaksikan lomba atas nama perkakak-adikan dan semua yang sudah kita jalani di awal tahun lalu itu. Mengantarkan ku menjemput takdirku di Bintang Cendekia, kau-lah orangnya. Orang yang aku tidak akan pernah bosan menceritakannya. Apalagi bersamanya. 

“Kakak bosen ga main ama kak etu? :))” Ini pertanyaan terbaik yang pernah ada. Aku rasa jawabannya begitu haha

Karena aku pernah mencari, tapi berkali-kali berujung dengan lengan yang memeluk diriku sendiri. Kemudian kau datang meraih tanganku bahwa kita akan temukan apapun itu. Kau datang peluk semua kekhawatiran bodohku. 

Terimakasih, dan 2016 adalah masa ketika alphabet hanya 25, karena hilangnya semua huruf R dari hidupku! Ririn Restu Riska, kalian sudah pergi dengan membawa satu abjad hingga aku kepayahan menyusun kata. Suatu waktu kembalilah! Pulanglah! Karena disini, luka kalian tidak akan kalian tanggung sendiri. 

Ribuan kata masih tercekat ditenggorokan, bahkan berkali-kali dengan susah payah aku menelannya hanya untuk menanyakan kabar. Aku takut! Entahlah aku benar-benar takut atau tidak. Terimakasih untuk hari-hari itu. To be honest, aku tidak benar-benar cemburu dengan siapapun di dekat kalian. Aku semakin bahagia, nyatanya kalian dikelilingi dengan banyak cinta dari orang-orang terkasih. Aku juga tidak benar-benar marah jika waktu kalian habiskan dengan yang lain. Justru aku lega, ternyata kalian masih sebaik dan seramah dulu. Tapi aku benar-benar takut, takut kalian tidak pernah kembali! Maaff.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. –FB-

Tapi setiap itu hampir terjadi selalu ada yang menahanku. Setiap hari! Kalian tau? Hidup berjauhan itu menyiksaku. Tapi mereka yang baik hati telah merangkulku ketika bahuku tergugu karena tangisan rindu, mereka yang selalu mengulurkan tangan setiap pagi bahkan mengejarku hingga menubruk perutku. Au! Assalamu’alaikum sayang.. Sambil kuusap dan cium lembut kepala mereka satu persatu. Mereka layaknya kalian, cans! Walaupun kalian sudah membawa pergi satu huruf dari hidupku, setidaknya warnanya masih utuh. Tawa mereka selalu menjadi supplier semangat di pagi senin, bahkan tangisan dan tingkah konyol mereka membuatku tidak bosan untuk duduk tersenyum dibalik mejaku. Hanya memandangi mereka dari jauh, lelahku terbalas. Walau rindu kalian belum terbahas. 

Aku bersyukur kita pernah salah masuk ke gedung sekolah ini pada saat Rakernas Ikahimki 2013 lalu, Rin. Setidaknya sudah ke semua tempat aku pernah duduk di belakangmu sambil tertawa menceritakan apapun yang teringat. Begitupun tempat yang sekarang kuhabiskan masa menunggu esok datang.

Ya! Awal tahun 2016 aku putuskan untuk mengakhiri kesendirian *eh haha. Untuk mengakhiri masa penantian akan kepastian hidup. Keputusan untuk bekerja, sebenarnya tidak ada paksaan dari pihak manapun. Apalagi sebelumnya aku sudah siapkan beberapa hal untuk melanjutkan studi. Haha hanya Allah yang sudah tau surga mana yang harus kucapai terlebih dahulu. Melanjutkan kuliah; surganya ilmu. Bekerja; surga dunia akhirat. Yang pasti, ibuku bahagia dengan keputusan itu. Ada pengharapan di mata indah itu. Harapan itu sangat jelas dan semakin jelas ketika aku bahagia menjalani hidup disini. Ini adalah design “tempat bekerja” yang sudah aku gambarkan dalam doa-doaku dulu. Rasanya semuanya Allah kabulkan.  Lingkungannya, suasananya, visi dan misinya, idealismenya, dan beberapa hal pendukung lainnya. 

Ilmu kimia-ku, mungkin benar-benar tidak semaju teman-teman yang lanjut jenjang, tapi dalam hal lain, aku menemukan jawaban-jawaban yang hadir seiring berjalannya waktu. Cara mendidik anak? Di sekolah ini aku menemukan bergam bentuk orang tua dalam mendidik anak, mulai dari orangtua super sibuk yang anak-anaknya kurang perhatian hingga anak-anak yang di dungukan oleh kasih sayang berlebih orang tua yang menjadikan anaknya tak mampu berbuat apa-apa. Pastinya banyak sekali orang tua luar biasa dalam mendidik anak mereka. Yang bertanya tiap jengkal tumbuh kembang anak mereka, memberi masukan yang membangun, bahkan ada yang terang-terangan meminta kami menghukum anaknya jika tidak sesuai aturan sekolah. Mana tega~ Setidaknya ilmu parenting sedikit mengalami kemajuan hha.

Tidak hanya siswa yang belajar di sekolah ini, tapi yang paling penting adalah guru yang pembelajar. “Karena guru yang tidak mau belajar harus berhenti mengajar”. Setiap hari selasa disisihkan waktu 2 jam lebih untuk membahas masalah pendidikan terkini, dari buku ataupun jurnal internasional. Membedah buku “Islamisasi Pendidikan” yang sangat berat itu menjadi hari-hari menakutkan kalau diingat-ingat. Walaupun nilai mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam lumayan bagus, dihadapkan buku ini ternyata bingung tidak nafsu makan. 

Setiap agenda dalam mendidik anak juga dijadikan ajang pembelajaran bagi gurunya, Leadership Activity setiap hari jumat, Peer teaching kelas IV, COE kelas V, Big Assembly, Super camp, Special Camp, Hubbul Quran, SLC, LPA dan segala bentuk kegiatan di sekolah ini demi membangun karakter anak bangsa yang lebih baik. Mengeksplor multiple intelligence siswa dengan berpatokan terhadap muwashofat mungkin ini sudah cukup membantu demi terciptanya Khalifah fil Ard. Semua ini akan berhasil jika seluruh komponen bersinergi dengan baik. Guru, orang tua dan siswa. Semoga!

Bertemu guru-guru luar biasa, aku sangat kecil disini. Kecil dalam segala aspek. Ilmu, pengalaman, agama, kebaikan, ketulusan dan UMUR. Terimakasih Kak Velly, yang telah berbaik hati mengajakku bicara pertama kali menginjakkan kaki di kantin Bintang Cendikia dan menjabat tanganku hangat. Dan siapa yang bisa prediksi, beliau menjadi wali kelas pertama. Wali kelas terbaik hingga kapanpun. Semua yang terlihat baik dari ku hari ini, banyak itu adalah karena pertemuan singkat itu dan semoga bertahan lama hingga kapanpun. Dan semua tentang bintang cendikia, team level 1, team Pramuka yang telah mewarnai hidupku menjadi lebih biru. Apa jadinya aku tanpa kalian!

Begitu banyak perjalanan yang sudah dilewati tahun ini. Mengisi kekosongan hari bahkan kekosongan hati haha. Membawaku dengan menemukan jawaban-jawaban atas sekelumit persoalan, menikmati hujan, merasakan dinginnya malam, melihat matahari dan menyanyikan lagu kesyukuran. Bagaimanalah aku yang bukan apa-apa dalam perjalanan itu, Kak Wirda, sopir cantik nan baik hati, yang membawa mobil dengan sangat dan teramat baik. Bayangkan saja, kelok 44 kami tidak mual sama sekali bahkan tertawa takjub melihat pemandangan Danau Maninjau. Widi, Navigator handal yang mampu menunjuk arah kami yang buta daerah. Buktinya kita sampai ditempat yang kita mau. Keren! Terimakasih, Mapsist! Pembaca peta maksudnya. Kak Velly dengan semua ketenangannya, yang mampu memberi keyakinan kepada teman disebelahnya hanya dengan menatapnya. Ini ala-ala Raib di buku Matahari haha. Kak Ega dengan semua pengetahuan tentang tempat-tempat travelling yang tiada duanya. Cocok jadi coordinator memang. Kak Diyah dan Bela yang selalu menghibur disetiap kesempatan mereka yang sering tidur. Tapi mereka ucul banget haha. Dan Dini? Seorang anak kecil yang hanya bisa bernyanyi dengan suara sumbang. Oh seperti useless people haha. Tapi kita semua saling melengkapi. Jika ada yang membully seseorang, maka akan kita lengkapi agar terkemas menjadi lebih baik berkelas dan lebih jelas *eh. Cool kan? CoolKAS! 

Perjalanan yang kita lalui tidak indah semua. Suatu waktu kita bisa tidak yakin dengan apa yang akan kita tempuh. Jalan berbatu runcing yang tidak aman untuk mobil, yang menghadirkan perdebatan. Sampai akhirnya ada yang bilang, rela jalan 7 km demi sebuah tempat yang indah itu. Tidak. Akhirnya kita tetap jalan pakai mobil, dan yang duluan mengeluh adalah manusia yang mau jalan 7 km tadi. Padahal kita Cuma duduk di mobil, gimana jalan kaki? Ya begitulah!

Pernah juga, kita dihadapkan pilihan sulit. Waktu itu kita dari Solok menuju Pariaman. Dari Solok sore, sampai di Pariaman sekitaran jam 20.00. Mau kemana? Kita tidak tau! Malam itu aku sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa. Mengingat kita semua adalah perempuan. Kenapa ga ajak laki-laki? Yaaa kalian tau lah jawabannya itu. Haha. Pilihan pertama kita tidur di masjid  musafir. Oke! Karena semuanya oke. Ya oke lah! Menuju masjid, disana kami bertemu wanita paruh baya yang tidak terlalu tua. Mungkin beliau melihat gelagat aneh, dan menghampiri kami di mobil. Kami berbicara dibawah gerimis Kota Pariaman. Kami mengutarakan maksud ingin menumpang di masjid ini dan menceritakan sedikit perjalanan kami.
Terlihat ibu itu berpikir dan kemudian menawarkan tempat menginap di rumah kakaknya. Kakaknya laki-laki dan istrinya sedang di kota lain. Penawaran itu sungguh di luar dugaan. Tapi ada satu kalimat yang membuat kami tidak bisa memutuskan cepat. “Tolong jangan kasih tau siapa-siapa kalau saya menumpangkan adik-adik tidur di rumah kakak saya”, begitu kira-kira. Jujur kami tidak bisa membaca pertanda apapun dari teka-teki ini. Rerintik gerimis semakin deras menghujani Pantai Gondoriah yang sedang dalam masa perbaikan malam itu. Kami meminta Ibu itu untuk meneduhkan diri di pelataran masjid, agar tidak terlalu basah. Ibunya ikut. Mulai dari langkah pertama Ibu itu menuju masjid, kami berembuk; berdebat; berargumen. Luar biasa ini pertama kali dalam perjalanan kami yang tidak bisa memutuskan sesuatu. “Kalau Sri di posisi ini, apa yang akan ia lakukan?” 

Kami memetakan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi dan semua hal tentang keselamatan yang paling utama pada saat itu. Jadilah keputusan kami menolak kebaikan ibu tersebut. Oh bukan! Ini hanya demi kebaikan dan keselamatan kita semua, karena kita semua tidak tau bagaimana keadaan kita nanti. Iya! Memang benar, dunia ini tidak hanya ada orang-orang jahat, koruptor, penista agama, penjahat pemerintahan, tapi masih ada orang-orang baik. Dan malam itu kami belajar kebaikan. Walaupun kami akhirnya harus mencari kebaikan-kebaikan lain. Di atas tanah basah Pariaman, atas nama persaudaraan Islam, semoga apapun yang diusahakan Ibu tersebut menjadi hal-hal kebaikan semuanya. Dan pastinya semoga hidup beliau lebih baik. Mungkin jika Sri di posisi itu, ia akan melakukan hal yang sama.

Sudah. Lupakan masalah penginapan yang menyebabkan grup kita berganti nama “Princesspacker”. Mungkin sudah saatnya kita berubah. Maka ikhlaskan saja kalau begitu.

Banyak hal yang sudah kulupakan agar hidup terasa baik, karena sesungguhya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah; berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan. –FB-

Ada yang menyakitkan selama beberapa bulan ini? Ada yang sudah kita lewatkan tahun ini? Ada yang sudah kita lupakan? Mungkin! Untuk hujan yang membuat kalian terburu-buru di senja jumat itu, terimakasih. Kami sudah menutup habis cerita buruk tentang kita, bahkan sampai sebelum kalian datang siang itu. Sejak saat itu tidak ada lagi pembahasan tentang kegagalan. Mungkin tidak lupa secara sempurna, tapi harusnya hati kita sudah berperan lebih dewasa. Kalian tetap menang dimata kami. Klise? Bisa jadi!

Tapi percayalah, gagal hanyalah cara kita memberi nama pada hasil yang sesuai keinginanNya, tapi tidak sesuai angan-angan kita. Pastinya ratusan hari di pulau seberang sudah banyak mengajarkan kalian makna dari sejumput kejadian masa lalu. Seperti sepatu kalian, dek. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kalian mesti kuat. Buatlah pijakan kalian kokoh. Karena bukan hasil yang menjadi inti dari sebuah pencapaian, tapi proses menujunya. Maka untuk semua yang terjadi hari ini, bersyukurlah!

Demi tidak tereduksinya makna rindu, kami berterimakasih untuk hujan yang membuat kalian terburu-buru di senja jumat itu. Walau waktu itu hujan tidak bisa menahan kalian disini, sepertinya itu lebih bijak. Karena satu persatu akan pergi, dan kita mulai sadar bahwa mungkin kita sedang diuji dengan orang-orang yang tampak akan tinggal selamanya tapi ternyata meninggalkan. Ya! Itulah hidup.

Hidup terus berjalan dan perlahan hujanpun mulai berbaik hati, mampu menahan orang-orang yang seharusnya tinggal dan tidak meninggalkan. Tepat suatu sore jumat di gramedia yang diguyur hujan lebat, kami memutuskan untuk menunggu reda dan sholat maghrib di musholla gramedia tersebut. Awalnya mau ke Ar Rahman, ah banyak tumpukan rindu disana. Apalagi hujan *eh haha. Azan dan berwudhu’. Sayangnya tidak bisa sholat berjama’ah, karena ada seorang laki-laki yang sudah mulai sholat dan aku tidak berani untuk menepuk pundaknya, apalagi bertanya kabar *loh?. Jadilah kami waktu itu berempat sholat sendiri. Selesai sholat, 2 orang temanku sudah keluar, mengingat kapasitas mushollanya tidak terlalu banyak. Kuselesaikan doa kala itu, mumpung lagi hujan. Selesai berdoa, tetiba gerakan tanganku terhenti ketika seseorang masuk dan mengambil tempat untuk sholat paling pojok. Kemudian sholat dengan sesekali terdengar olehku bacaannya. Entah kenapa, anak yang seperti mahasiswa ini menjadi perhatian dengan gerakan sholatnya yang nyaris sempurna. Haha apasih! Kemudian setelah salam anak ini berdzikir dan doa panjaaang sekali, dan lafalnya jelas sama dengan bacaan anak-anak di sekolah. Aku tertegun, melihat style nya mungkin tidak akan percaya bahwa dia melakukan hal tersebut, mulai dari menghindari “sesuatu” hingga memilih tempat paling pojok untuk sholat sampai berdoa dengan khusyu’ seperti tidak sedang ditempat lain. Ya Allah ampuni aku! Ampun.

Setelah melihat kejadian itu, aku segera bergegas melipat mukena karena anak tersebut sudah mengaminkan doanya. Buru-buru meletakkan mukena dan berbalik. Kosong. Tidak ada anak tadi. Adanya kak Velly dan satu orang baru masuk untuk sholat juga. Padahal sebelum menggantungkan kain ini aku masih melihat ransel hitamnya di dinding musholla. Aku bergidik, jangan-jangan… Sudahlah! Jangan sampai Muwashofat no 1 ku bermasalah lagi. Aku pura-pura tenang, tapi tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan anak tadi. 

“Kakak lihat yang sholat di ujung tadi?” tanyaku memecah keheningan di musholla kecil itu.
“Lihat” jawab kak Velly mengangguk.
“Kemana kak?” tanyaku lebih kecil lagi, takut yang lagi sholat ikut nguping haha
“Udah keluar”. Aku berYAH dalam hati. Padahal mau minta tanda tangan. Bhay lah kalau gitu.

Kutunggu kak Velly memakai kaus kaki, kemudian kami keluar dengan pikiran masing-masing atau jangan-jangan sama. Sampai di luar terdengar suara hujan keras sekali, dan kami memutuskan untuk menunggu hujan reda, agar tidak digenangi kenangan haha.

Duduk di depan musholla, dari sudut mata kulihat ada beberapa anak laki-laki juga duduk di arah yang berseberangan tapi kearah jam 5, bukan sejajar. Masih dengan kode yang sama ternyata kak Velly mengetahui isi pikiranku. Lalu kami tertawa. Hahaha.

Di sela tawa dan bunyi hujan terdengar seseorang menyanyikan sebait lagu
“I’m only one call away”…
Siapa yang menyanyikan? Lagu itukan… Haha 

Kak Velly bilang, yang ditengah. Dan sampai pulangpun aku tidak berani untuk sekedar melihat siapa yang bernyanyi. Tapi dengan keyakinan penuh setelah sedikit melihat tas diujung kursi panjang itu, kami yakin yang menyanyikan adalah anak yang seperti mahasiswa tadi. Jadilah akhirnya aku benar-benar butuh tanda tangannya setelah menyanyikan lagu Charlie Puth yang kece itu. Sayangnya aku bukan seorang Widi yang berani menanyakan helm orang yang sedang naik motor dari Bangkinang ke Pekanbaru tanpa penutup kepala. Bahkan aku juga bukan kak Ek* yang berani mengajak abang-abang hanya untuk dikenalkan dengan temannya. Hahah. Dan satu hal, anak laki-laki seperti mahasiswa yang tidak tau rupanya itu, suaranya bagus! Bhak! Pelajaran malam itu bukan di lagu yang dinyanyikannya, tapi sebuah pepatah dalam bajasa Inggria yang artinya “jangan hanya menilai orang dari penampilan luar, terkadang itu bukan penampakan yang didalamnya”. ITU!

Well, akhir Desember kualui dengan berharap waktu berjalan lambat. Berharap agar kebersamaan tidak lenyap begitu saja. 6 orang anak Ibu dan Bapak dengan seluruh menantu, maksudku 5 orang kakak ipar dan 11 keponakanku berkumpul di rumah kecil kami. Banyak cerita beberapa tahun terakhir yang tidak terungkapkan. Banyak sekali! Sungguh aku rindu masa-masa Uda, Abang bermain gitar dan kita bernyanyi bersama dan Ibu hanya menangis karena lagunya sedih. Rindu masa bully membully satu sama lain. Rindu masa berebutan tahu goreng ibu. Yah, walaupun tidak bisa bersua dengan Sahabat Baik, Inyun, Acho, Esa. InsyaAllah tahun 2017 kita bertemu. Semoga kita semua sehat selalu dan Alah limpahkan segala kebaikan. 
2017 yang baik, baik-baik ya! 

Ps: Setiap cerita bagaikan domba; kalau tidak diikat ia akan hilang. Maka tulisan ini bukan bermaksud apa-apa, jika ada pihak-pihak yang merasa tersakiti, mohon maafkanlah!

Pss: Doakanlah! Aleppo butuh kita!

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29