Coretan Putri Matahari #Matahari Tenggelam di Ufuk Cinta


Bismillahirrohmaanirrohiim, kutulis ini dengan cinta, semoga dari setiap niat yang terbesit Allah jadikan peringan langkah menuju JannahNya~~
Kupersembahkan ini dengan tulus kepada mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk membersamai yang terTAKDIR!




Namaku Nasha, dibaca Nasya, dan aku mahasiswi!.

Berawal pijakan kakiku di kampus ini, rasa keikhlasan itu masih belum terbawa di setiap ayun langkah dan derai tawa yang terurai. Entah mengapa, sepertiga hatiku masih belum bisa menerima semua yang tertakdir untuk hidupku saat ini. Aku rasa ilmu agama yang sudah dibekalkan kepadaku tidak cukup mumpuni untuk memaksimalkan keadaan.
Sekarang aku bukanlah anak SMA yang imut lagi, seragamku sudah ku lepas dengan berganti pakaian bebas yang sudah kuidamkan sejak lama. Rasanya menanggalkan jabatan sebagai siswa sekolah menengah itu harusnya membuatku menjadi lebih dewasa.
Terlalu jauh flashback mengenai kisahku, ini tidak akan membuat hatiku membaik dengan keadaan. Aku tidak akan damai!
Sekali lagi tolong izinkan aku menggunakan bahasa "entahlah"~~ aku juga tidak bisa memengerti perasaanku saat ini, satu yang pasti aku belum menerima takdirku disini. Ya disini.

Aku bukanlah orang dengan latar belakang agama cetek. Jauh sebelum ini aku sudah diajarkan cara makan, cara minum, tidur, masuk wc, keluar masjid, sholat, bahkan cara berjalanpun aku sudah mendapatkan nilai mumtaz, bagaimana tidak aku sudah mempraktekannya dengan sempurna. Bagaimana menundukkan pandangan, berbicara dengan "mereka" dan beberapa hal lain nya yang tidak akan terlupakan. Tapi ternyata ada satu hal setidaknya hingga hari ini yang belum kupelajari dengan baik, cara menerima takdir!.

Perlahan kumendesah dengan alur mundur dikepala ku yang tidak bisa kuhentikan. Desahan itu membawaku melaju bersama busway yang aku naiki. Hingga akhirnya masa membawaku sampai di depan fakultasku.

Hanya untuk melengkapi kisah ini, kampus swasta terkenal seperti kampusku ini tidak terlalu memperingati hari pertama menginjakkan kaki dengan berospek ria, mengingat itu adalah ritual-ritual klasik yang sudah terkikis zaman. Era kekinian ini menguntungkan ku disatu sisi. Kami, para mahasiswa baru hanya diminta untuk berkumpul didalam satu ruangan dan nanti akan mendengarkan perkenalan kampus secara singkat, profil rektor dan nama-nama dosen setiap program studi. Tidak lupa dengan seragam hitam putih agar terlihat kompak dan papan nama sebagai tanda pengenal agar tidak hilang *eh

Pagi itu setelah turun angkutan berbayar tersebut, aku melangsungkan kaki ku kearah ruangan yang sudah disepakati sebelumnya. Tanpa basa basi, aku tidak ingin berlama-lama bertatapan dengan siapa saja, karena memang tidak akan  ada yang mengenaliku. Karena hanya aku yang terdampar di universitas ini. Ya hanya aku.

Pada hari itu banyak juga yang memakai baju putih dan bawahan hitam. Tapi aku tidak tahu mereka mahasiswa baru atau hanya sales yang magang di kampus *loh haha*. Yang pasti aku tidak tau mereka siapa, dan tidak mau tau. Hampir seratus persen dari mahasiswa berseragam hitam putih ini menuju ke gedung yang sama. Iya, gedung yang sama dengan ku. Beberapa diantara mereka berjabat tangan dan saling menyebutkan nama mereka masing-masing. Aku kira mereka belum mengenal sebelumnya, tapi sudah terlihat akrab. *Akrab dengan sok kenal itu memang beda tipis, batinku*. Aku hanya memastikan kaki ku berjalan dengan baik, menundukkan pandangan dengan sesekali melihat kesekitar, takut ketabrak manusia juga. Ya pilihan ini antara ghadul bashor atau malah nyariin uang hilang haha.
Aku tetap menunduk dan sangat yakin tidak ada yang akan memperhatikan gerak gerikku. Kemudian aku mengangkat kepalaku sebentar kemudian menunduk lagi, angkat kepala lagi, menunduk lagi.. mungkin ini dengan beberapa pengulangan, karena capek juga harus menunduk terus. Pada saat mengangkat kepala ke sekian, aku tidak ingat keberapa, ada lesatan yang melewati ku, aku merasakan hal aneh, merinding dan~~ ah ini lebay. Memang ada seseorang yang melewatiku, dan pada saat yang sama aku juga berusaha untuk mendahuluinya sampai akhirnya aku mengangkat kepalaku. Aku tidak ingin melihatnya, karena aku mengetahui bahwa makhluk ini mengenakan pakaian yang berbeda dengan ku, ia memakai celana, dan itu artinya ia adalah laki-laki. Untuk kali ini pilihanku adalah ghadul bashor, bukan yang lain.. no no no *jadi iklan*. Keputusan itu adalah pilihan yang tepat, karena aku tidak akan cari masalah dihari pertamaku, tepatnya tidak ingin mempermasalahi hatiku *ciieh*
Tapi ternyata setan tetap bisa menguasai mataku, entah apa yang dilakukannya, padahal mataku bukanlah mata kelinci yang bisa melihat 360 derajat, tapi kenapa aku masih bisa membaca tulisan nama didepan dada makhluk ini. Kenapaaaaaa`~~ aku histeriis dalam dada.
"Alianfa Dil.." kira-kira seperti itu. Hanya itu yang bisa ditangkap oleh mataku, karena sebagian huruf tertutup kebagian kanan siempunya, menyesal juga kenapa tidak kubaca sampai akhir *eh.
Nama yang bagus, Alii~~.
Hah? Alii??
Iya Alii.. aku sibuk dengan pikiran ku sendiri hingga akhirnya suara megaphone senior membuyarkan lamunan ku yang bagaikan ombak tak bertepi. Kuistighfarkan diri, dan kembali kubersihkan semua memori singkat tadi, dan segera kuambil langkah untuk memasuki ruangan yang sudah dipadati mahasiwa baru tersebut.

Singkat cerita, seharian itu aku mengira-ngira lanjutan dari nama tadi, Dil...
Dilawarman kah? Dilmaizar kah? Dilmaida kah? atau Diltopagelhe~~ entahlah pikiranku kembali menemui kebuntuan. Aku tidak sadar mengapa harus memikirkan itu. Entahlah~~
Mengapa aku tidak memikirkan nasibku yang tadi pagi sempat kutangisii bahkan tidak bisa kuterimaa. Entahlah.. saat ini aku tidak mempunyai cukup ilmu untuk itu.

Seiring berputarnya jarum jam, waktu terus bergulir, dan acara penyambutan mahasiswa pun hampir selesai. Setidaknya ada beberapa kesimpulan yang aku dapatkan dari agenda ini. Seperti kampus ini berdiri sejak kapan, nama pendirinya, perjalanan kampus ini hingga sebesar saat ini, profil rektor beserta capaian-capaian selama menjabat, latar belakang, dan beberapa mengenai pribadi beliau, setelah itu nama-nama beberapa dosen prodiku, dan jugaaa.. dan juga Ali. Kenapa masih dengan nama itu?? Secepat kilat aku mengembalikan fokusku kepada acara yang akan ditutup ini. Dengan guyonan ringan, senior ku menutup acara yang diikuti dengan riuh rendah tepuk tangan seisi ruangan itu. Ini adalah tepuk tangan penghormatan atau kebahagiaan susah untuk kudeskripsikan.
Setelah diizinkan keluar ruangan, para mahasiswa segera bangkit dan menyegerakan diri untuk pulang, dan secara spontan sumsum tulang belakang ku mengomandoi untuk mengikuti langkah yang sama menuju pintu keluar dan pulang. Ya karena kata pulang akan selalu menyenangkan. Dan siapa yang bisa menyangka semua akan tertakdir sulit seperti ini, kembali disebelah kananku aku merasakan kehororan yang sama seperti sebelumnya, entahlah aku mulai menakuti diri pribadi. Dan kembali mata ini menangkap nama yang hanya sampai "Dil" dan hampir saja mulutku mengeluarkan sapaan ramah andalan ku, untung saja itu tidak terjadi. Lagi-lagi setan memanfaatkan keadaan ini. Kenapa bisa bertemu lagi? Jangan-jangan?? Ah~~ Setan memang selalu punya jurus ampuh untuk menghubung-hubungkan apa yang terjadi, padahal sangat-sangat tidak berhubungan. Dasar SETAN -__-

Aku tidak akan berlama-lama membahas setan ini, karena itu bisa membahayakan keselamatan jiwa dan ragaku di kemudian hari. Kembali kuambil langkah seribu tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Berjalan cepat ke arah halte dan meloncat ke atas busway, seolah-olah aku dalam adegan film action bersama Will Smith haha dan aku sangat menikmati peran ini. Aku takut jikalau harus membertemuinya lagi kemudian "jangan-jangan" setan kembali akan menghantui kepalaku. Aku tidak mau!

Entah mengapa dalam menggumamkan kata 'tidak mau' ini aku merasa lengkungan tipis dibibir ku tercipta secara tidak normal. Jangan-jangan aku gilaa.. Oh tidak yaAllah aku gilaa~~. Ya Allah tidaak~~ ini kenapa baru bertemu Ali saja aku sudah seperti ini, bagaimana nanti kalau bertemu Abu Bakar, Usman ataupun Umar, tidak terbayangkan olehku bagaimana kehororan itu akan menggerogoti jantung hati ku. *Hatiii lagi* Harapku siang itu semoga matahari bisa menyinari hatiku yang mulai mengelam saat ini.

Mungkin hatiku memang sudah dikotori, buktinya pertemuan yang sebenarnya bukanlah pertemuan, terlalu menyita pikiran dan hatiku, aku tidak hanya memikirkan tapi sepertinya juga mehatikan. Sudah cukup hentikan semua ini! Ingin rasaya kuteriakkan~~ rokeeer juga manusia, punya rasa punya *loh kan, jadi salah fokus lagi*. Alianfa Dil... yang aku tidak tau kepanjangannya, entah Dil Maria yang tidak cocok bermain di Red Devil karena namanya Angle, entah Dil or nodil, entahlaaaah~~ yang pasti ia harus bertanggung jawab atas kerusakan jiwa ku ini. Tuhan safe me, batinku dalam-dalam.

Karena Ali setitik, rusak rantai hatiku sebelanga. Ya begitulah pribahasa yang cocok untuk keadaan ku saat ini. Jikalau boleh, nanti peribahasa ini akan kupatenkan ke lembaga yang berwenang. Semoga saja diterima. Harapan konyol apa ini~~

Sangat jarang, bahkan tidak pernah aku memberkesankan orang hanya dengan pertemuan pertama, apalagi ini hanya salipan perjalanan bukan overtaking dalam MOTOGP yang ditunggu-tunggu penonton, ini hanya fatamorgana bayangan! Mengapa bisa mengalihkan pemberontakan terhadap takdirku hari ini, mengapa bisa membuatku lupa bahwa tidak menerima Universitas ini, mengapa bisa ini dan bisa itu, aku serasa menjadi manusia multi-talent. Padahal aku adalah seorang Nasha yang tidak mudah terkesan, apalagi mengingat seseorang. Hari ini berkenalan, 2 minggu lagi bertemu, dan mereka menegurku, hal pertama yang akan kulakukan adalah tersenyum bingung, kemudian bicara sambil tertawa "Siapa ya?", sesaat itu juga yang bersangkutan akan pulang mengambil belati untuk sekedar membunuhku. Haha sekedar!

Ali~~
Perasaan yang tidak terlindungi seperti ini bertahan lama, dan aku tidak sadar dengan keberkaratannya. Layaknya alloy besi dan aluminium ditambah nikel dan tembaga jika tidak dilindungi cat yang bagus akan cepat berkarat dan terkelupas, begitu juga hatiku. Hati Nasha yang dulunya sangat jauh dari rasa ini itu, sekarang mulai timbul rasa coklat chip, kismis, mocca, yang semuanya adalah warna hitam. Dosa!. Satu setengah tahun yang membuat hatiku penuh dengan bercak hitam, yang tidak bisa dibersihkan Vanish sekalipun. Satu setengah tahun yang hitam yang dibungkus merah jambu kepalsuan. Satu setengah tahun kelabu, yang dibutakan sinaran kejahatan. Bodohnya, aku tidak menyadari itu sejak awal.
Ali memang bukanlah teman sekelasku, juga bukan teman satu jurusanku, tapi mengapa kita mempunyai intensitas bertemu yang lebih banyak. Aku tidak tau apakah setan yang merencanakan sekilas tatapan di depan masjid kampus ketika akan dhuha ini, sekilas tatapan sebelum menundukkan pandangan kearah bakso dimangkok kantin fakultas, bahkan ketika aku berlalu akan menaiki busway di halte seberang jalan. Aku tidak tau ini adalah takdir yang diikhtiarkan setan atau takdir yang memang tertakdir untuk mengujiku dari usaha setan itu. Entahlah~~

Ternyata kekuatan tekad setan jauh lebih kuat dari pada manusia. Memasuki semester kedua, entah angin apa yang menghembuskan aroma kejahatan, hingga akhirnya ada saja pembicaraan antara aku dan Ali. Entah siapa yang memulai, entah topik apa yang membantu. Entahlah~~ lama-lama judul cerita ini entahlah sepertinya. Sejak hari itu, matahari hatiku mulai meredup dengan cahaya samarnya yang tidak bisa mengalahkan cahaya kemaksiatan. Bodohnya lagi aku tidak menyadari bahaya itu dari awal. Ya aku memang bodoh!. Nasha dengan IP terbaik pada semester awal, ternyata tidak mampu mengestimasi dari apa yang akan terjadi dari lika-liku perasaan yang seperti struktur steroid. Ini berlangsung lama. Lama sekali. Seperti yang sudah kuutarakan diatas. Ini berlangsung hingga akhir semester 3ku. Semua itu terjadi bukan karena aku tidak dilingkupi oleh lingkaran religiuisme di kampusku, bukan berarti aku tidak belajar agama disini. Bukan! Aku berharap tidak ada yang menyalahkan agamaku, imanku dan Islamku dalam kasus ini, karena yang sempurna adalah akidahku dan yang mulia adalah Tuhanku. Akulah yang salah, bukan siapa-siapa dan apa-apa. Satu setengah tahun yang tidak akan aku jabarkan sedikitpun, satu setengah tahun yang tidak akan aku gambarkan lagi, satu setengah tahun, yang aku tidak tau matahariku tenggelam dimana, berharap bulan menggantikan perannya, tapi langit mengutukkinya sehingga bumipun tidak berani membantahnya.
Layaknya itu, saat ini aku tidak akan mengusik bayangan masa laluku, ketakutan mendalam murkanya sang pemilik langit bumi bulan dan matahari.

Sejauh ini, meski teruntai sebuah nama dalam tahajjud malamku, tetap saja tidak akan kudahului tetapan lauhul mahfudz untuk masa depanku. Walaupun sepertiga hatiku ingin tetap mematung kearah yang sama, sepertiga lainnya meminta untuk meninggalkan tanpa jejak, dan sepertiga lainnya meminta untuk memilih yang duapertiga *ini hati apa perut*.
Sekarang yang bisa aku lakukan adalah mencoba merayuMu agar yang membersamaiku nanti adalah ia yang berwajah teduh dan menenangkan yang akan menyempurnakan separuh agamaku yang kutemui di sujud panjang dua pertiga malam terakhirku. Adalah ia yang selalu kubahas dengan Rabbku. Adalah ia yang mempersiapkan Al Mulk dan Ar Rahmannya untukku. Adalah ia yang juga mencariku setelah salam sholat malamnya. Adalah ia yang sudah dituliskan Tuhanku.

Saat ini aku bukan menunggu tapi mempersiapkan diri hingga penantian itu berakhir dan bersabar untuk dijemput cinta yang mugkin belum terbaca.
Karena sesungguhnya rindu itu berlabuh dalam jiwa yang utuh mengabdi pada Rabb nya.
Akan kubiarkan "Ali" ku datang dengan satu kata "aku mencintaimu dengan iman".
Tak akan kuikuti gravitasi hati ini lagi, melainkan hanya akan kujaga hatiku untuk Ali manapun yang sudah disandingkan Tuhan dalam buku keabadian. Kupastikan bermula hari ini, tidak akan kubuka rantai ganda hatiku untuk sembarang DNA, tidak akan kebiarkan cincin benzena sembarangan masuk ke jemari imanku, dan tidak akan kuizinkan limbah pembenaran mengotori perasaanku. Karena sejatinya perasaan itu harus dilindungi ikatan yang disaksikan Tuhan. Sesimpel itu!

Sekarang ada dua hal yang sudah aku dapatkan jawaban atas pertanyaanku selama ini. Pertama dimana tenggelamnya matahariku selama satu setengah tahun itu dan yang kedua nama lengkap Ali yang dulu hanya spekulasi bodohku.

Mungkin benar yang diungkapkan Mba Dhira dalam blognya "Jatuh cinta itu menurut gue sesuatu yang dulu ketika gue lagi ga suka sama siapa-siapa, selalu pengen gue rasain lagi gimana rasanya.
Tetapi pas di kasih sama Allah untuk ngerasainnya, gue jadi cemen dan memilih untuk menghindar."
Entah itu rasa cinta atau hanya sekedar kagum, yang pasti akan membuatku lebih cengeng dan berusaha untuk menghindarinya~~
Terakhir, izinkan aku untuk bernyanyi dengan nada dasar di C. Sebait lagu dari Ali Sastra *masih Ali~~~ susah move on sepertinya haha* dengan judul Doaku.
Doaku semoga..
Aku tak terlambat..
Memberi yang terbaik
dari hidupku..
Semoga Kau terima..
Semua Ibadahku~~
Masukkanlah diriku
'tuk kekal di syurgaMu~~

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29