Coretan Putri Matahari #Terpaksa Review!

Bismillahirrohmaanirrohiim~~
Selamat pagi semuanya, bagiku waktu selalu pagi.. diantara potongan 24 jam.
Bagiku pagi adalah waktu paling indah.
Karena pagi _____________________

*silakan lanjutkan dg membaca SBR halaman pertama bab satu 😍



Well, mohon maaf jika di tempat kalian bernaung saat ini bukanlah waktu yang tepat dengan sapaan itu, semoga ini tidak menjadi pemecah konsentrasi dalam memahami setiap kalimat yang akan mengalir.

Berawal dari kisah sebuah telpon dari polres Payakumbuh, sontak membuat jantung saya berdebar kecamuk tidak karuan, pikiran absurd saya belum bisa menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Dengan tidak ada nya pelanggaran hukum yang pernah saya lakukan, tentu saja rasa itu alamiah.
Ketakutan itu segera sirna begitu saya terbangun dari mimpi buruk itu.. dan ah ya, saya tersadar ketika suara cempreng diseberang sana memberikan aura yang sedikit bersahabat *sedikit loh ya* dengan ikhlas jantung saya memompa kembali darah dan hemoglobin kembali mengikat oksigen kemudian membentuk HbO2 sembari mengalirkan darah kesetiap penjuru nadi.
Otak yang mendapat suplay inipun juga kembali bekerja dengan baik dan setelah neuron-neuron itu terhubung dengan sempurna barulah saya tersadar bahwa ini bukanlah polisi apalagi  pos kamling, ini adalah seorang anak yang sedang mengadu nasib di negeri orang demi melanjutkan hidup dengan serangkaian civitas akademika yang tidak bisa dihindari.

Sebut saja namanya bunga, orang terabsurd yang pernah saya temui selama 22 tahun terakhir ini, belum ada nominasi lain yang akan menggatikan posisi membanggakan itu. Tenanglah!
Tidak perlu berlama-lama membahas nasib anak ini, karena saya bukan dukun! Biarkan lah nasibnya menjadi jalan hidup yang sudah di tentukan Rabbnya dari sejak zaman di dalam perut Ibunya. Bercerita sebelum kelahirannya, dia adalah anak yang mengira dilahirkan kembar *ah ya, tidak perlu untuk dilanjutkan, karena informasi ini tidak terlalu mendukung pengisahan ini*

#*&!(@&&)!&^#*//!(#)/!

Sekian puluh menit berlalu, hingga akhirnya saya menemui titik temu, tujuan utama dari anak ini adalah MEMAKSA saya untuk me-review *tulisannya dimiringkan* tulisan di blognya yang saya rasa sangat jauh dari unsur sastra (mohon maaf sekali, terkadang hinaan itu yang membuat kita bangkit hahah). Oke lanjut, beberapa tulisannya juga absurd dan tidak jelas, kebanyakan seperti daily activity, dan pembahasa-annya pun juga terbilang kurang menarik (puaspuasin menghina dulu ya wkwk).
Ya, walaupun ini hanya beberapa tulisan yang bisa saya baca, karena membacanya merusak mood seketika, dan hari ini kembali saya dihadapkan dengan pilihan yang berat, membaca BLOG "kurang jelas" itu kembali, atau menangisi masa depan yang akan terancam di depan mata. Tentu saja saya tidak akan membiarkan itu terjadi, apapun yang terjadi masa depan saya adalah hal yang lebih prioritas dibandingkan apapun hingga saat ini. Jadilah saya memilih pilihan berat ini.

Berkaca dengan pengalaman sebelumnya, hari ini saya sudah lebih siap dalam menghadapi tulisan ini. Saya sudah menyiapkan bantal, guling dan selembar selimut. Karena tidak bisa mempersiapkan camilan disebabkan sesuatu hal, jadi saya lebih fokus untuk mempersiapkan diri jika tetiba dalam keadaan membaca tulisan tersebut saya tertidur, setidaknya saya sudah dalam keadaan siap. Tidak lupa sebelum itu saya berwudhu, kemudian membaca surat Al-Mulk, ayat kursi, 3 qul, ayat terakhir surat Al- Baqarah hingga terakhir miring ke kanan.

Perlahan saya mulai meminta separuh hati untuk tidak memainkan perannya dalam hal ini, karena benar saja itu akan merusak persiapan yang sudah saya rangkai dengan baik dari awal.

Sedikit saja ia berperan, maka semuanya akan hancur berantakan, dan satu kata masa depan akan tiba di belakang.
Sebenarnya saya bisa saja memaksa diri untuk mengabaikan ancaman doa masa depan tersebut, tapi saya sudah lebih dahulu termakan omongan seorang tetua bahwa "karena kita tidak tau doa siapa yang akan terkabul, jadi mintalah doa sebanyak-banyaknya". Terimakasih tetua nun jauh disana~~
Point pentingnya adalah karena kita tidak tau doa siapa yang akan terkabul, silakan di garis bawahi. Bagaimana jika doa itu yang terakumulasi, bagaimana jika Tuhan mendengar doa itu ketika dipanjatkan. Mengingat hari ini adalah hari istimewa yang jika seorang hamba berdoa, doanya tidak akan ditolak. Dan saya adalah makhluk yang sangat percaya dengan kekuatan doa. Ini menjadi momok dalam kepala saya yang menghantui seperti hantu-hantu Indonesia *horor-horor sumbang gimana gitu* hingga kemudian memasrahkan diri atas apa yang sudah saya percayai.

Dalam keadaan terpaksa seperti itu kemudian saya mulai membaca yang tertulis, dan seketika saya merasa ada yang aneh. Tapi dalam keadaan ini saya berjanji untuk tidak mempedulikan perasaan apapun, begitupun dengan keanehan itu. Bahasa manisnya Bo*o amat! haha ampun~~

Beranjak dari satu kata ke kata lain, kemudian sampai ditengah paragraf pertama If I'm not Wrong jawaban dari keanehan itu hadir.. Taraaaaaaa 🎉🎉🎊🎊🎉🎉🎊
bak mercon yang memekakkan telinga mencoba mencari selaput eustachius *haha apa hubungannya*.

Terang saja ada keanehan di awal paragraf itu, dengan memakai kata sapaan "Saya" membuat saya agak lebih nyaman menyambungkan kata demi kata dalam kalimat tersebut. Tidak ada kesan terlalu bagaimana di dalamnya, terlihat di dalam nya ada kerendahan hati yang ingin ditampilkan penulis, bukan sebuah cerita ke-AKU-an yang mungkin sedikit mengganggu dalam pemikiran pembaca, atau mungkin tepatnya saya pribadi.

Apresiasi yang sangat tinggi saya luapkan, bukan mengenai siapa yang memberikan ide atau saran mengenai tulisan terdahulu, tapi mengenai penerimaan akan pembaharuan yang sangat bijak untuk dijadikan pembelajaran.

Sebagai orang yang sangat jauh dari dunia tulis menulis, saya angkat topi untuk semua perubahan yang ingin di lakukan oleh penulis. walaupun hasilnya baru beberapa persen, tapi itu sudah memberikan warna yang berbeda pada tulisan ini.
Dengan sentuhan "saya" dan sedikit alur cerita secara runtut yang mungkin sudah menjadi ciri khas penulis, saya rasa ini tidak jadi masalah.
Karena saya tidak akan membuat masalah dengan anak ini, biarkan lah ini semua~~ Biarkaan.

Melanjutkan review tulisan ini, bukan berarti saya lebih baik dari penulis. Sama sekali bukan, tapi besar harapan saya untuk tulisan selanjutnya "tajam"kan untuk sesuatu yang layak untuk di"istimewa"kan. Apapun itu. Agar pembaca semakin terbawa dengan kisah yang dipaparkan.
Begini juga sudah bagus, tapi jujur saya pribadi agak merasa datar dalam membaca kisah dari paragraf 6 ke bawah. Mungkin ini hanya pewarnaan dalam tulisannya saja. But overall that's great lah ya~~

Mungkin beberapa contoh akan saya paparkan sedikit
1. Bagian jatuh dari becak atau apalah itu namanya. Akan lebih terdengar indah jika mungkin dibuat lebih sedikit dramatis dibagian Yogi nya, maaf saya sebutkan orangnya biar jelas. Kalau dibagian penulis, tentu saja sudah drama sekali mengingat yang jatuh adalah yang bersangkutan, jadi seolah olah saya sedang membayangkan orang jatuh, lalu kemudian di nodai dengan penggambaran yang kurang baik dari kalimat selanjutnya. Ini kan menyebalkan!~~

2. Bagian bertemu Ka Dhani atau Bang Dhani Sesepuh Dhani atau apalah itu namanya. Ekspektasi saya ini akan menjadi kenangan yang tidak akan dilupakan penulis, mengingat beliau adalah salah seorang yang berperan penting dimanalah gitu kan.. Harapan saya kisah ini agak dikemas lebih panjang dan ringan sedikit, tapi mungkin karena kegugupan bertemu Mantan Korwil yang mungkin dulu pernah menjadi BURONAN wilayah satu, hal itu berakibat buruk terhadap penulisan bagian ini.

Dan ada beberapa kisah yang menurut saya kurang eksplorasinya, seperti kedekatan dan kekompakan atau bahasa lainnya kemesraan dengan Berlin selaku Wakorwilnya belum terlihat. Maksud saya disini bukan mendukung gerakan GLBT, LGBT, TLBG dan sejenisnya, hanya saja eksplorasi penokohan dibuat agak lebih ganteng begitu haha

Dan bagian akhir ini adalah bagian yang ingin saya tuliskan sejak awal, tapi saya rasa ini mungkin kurang etis, dan saya simpulkan ini akan saya tuliskan nanti *eh sekarang*.
Jujur saja pada bagian ini juga saya agak merasa sisi melankolis ini mengambil tempat dengan rapi.
Ya bagian pemeran utama hati.. pemicu detak jantung ini~~ setelah berlayar pergii.. percaya atau tidak saya menyanyikan dengan penuh penghayatan dan notasi yang pas *haha Raisa wannabe!*.
Sebelum semuanya menjadi lebih kacau beliau, izinkan saya untuk berterimakasih kepada penulis, karena telah memilih Pemeran utama yang pas. Ketidakmenyangkaan saya penulis begitu bijaksana dalam mengambil kesimpulan mengenai pemeran utama. Dengan tidak menjadikan dirinya sebagai pemeran utama itu sudah pilihan yang tepat, apalagi pemeran utama nya jatuh kepada Putri dari Goa Pempek yang~~~ ah ya, ini hanya review dan saya tidak berhak untuk menambahkan deskripsi ini.
Akan lebih manis mungkin pemeran utama ini digambarkan terlebih dahulu sebelum dia berperan. Jadi ada deskripsi tambahan yang bisa membuat saya lebih "rindu" dari ini terhadap sosok makhluk Allah itu dan membuat pembaca tidak liar dengan pemikirannya mengenai pemeran utama yang bukan Raisa ini.

Tapi sejauh mata membaca, tulisan ini sudah lebih baik dari tulisan sebelum sebelum nya yang saya juga dipaksa untuk membacanya.

Permohonan maaf saya haturkan mengenai penulisan ini. Sekali lagi saya bukanlah orang yang pandai dalam menulis, sama sekali bukan. Saya juga bukan orang yang mengerti sastra dengan baik. Saya hanyalah manusia biasa dengan beberapa kelebihan yang sedang belajar melembutkan hati, ya.. salah satunya dengan menulis.
Semoga dari setiap kata yang terukir, dari setiap kalimat yang terpikir, dan setiap makna yang tergulir, Allah berkenan menjadikan kebaikan yang selalu mengalir.

Teruslah menulis!
Teruslah meminta kritikan!
Teruslah memperbaiki!

Kalau ini terlalu puitis, abaikan saja tulisan Putri Kuaci ini *eh 😁😁

Dalam keterpaksaan, hanya ini yang mampu saya tuliskan sebagai bentuk penyelamatan masa depan.

Terimakasih. Sampai jumpa lagi.

Shodaqollahul'azhiim.
Astaghfirulloh wasubhanakallahumma wabihamdika asyhadualla ilaahailla anta astaghfiruka wa atuubuilaik

-Jumat ke empat di bulan Syawal 1436 H-

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29