Coretan Putri Matahari #Mawar Putih
Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali: cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika.
Itu merupakan sepenggalan kata di novel salah satu novelis favorit saya. Akankah ada hubungannya dengan postingan saya ini? Saya juga tidak yakin. Maafkan!
Ucapan salam seiring doa kebahagiaan selalu termohon kepada Sang Pemilik hati, agar tetap mengistiqomahkan kita di jalan ini. Jalan yg masih kita tempuh hingga saat ini. Jalan berat, ringan, bahkan jalan santaipun kita lakoni. Semoga jalan ini berujung Jannah InsyaAllaah~
Lama tidak membaca membuat hati gelisah.
Lama tidak menulis membuat hati cenderung mengeras.
Membaca apa saja, Al-Quran? Buku? Novel? Komposisi Mie instant? Cara pemakaian pewangi ruangan? Ya itu.
Menulis apa saja, resep kue? surat? pesan untuk sahabat? Iya semuanya! Bahkan yg terakhirpun sudah jarang saya lakukan.
Entahlah hanya mencoba mundur berjarak agar rasa tidak semakin memburuk. Kembali saya ingin mengulang mengucapkan "Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali; cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri.
Seperti mawar putih ini misalnya. Berharap memilikinya, tapi takdir belum mempersilakan maka hati berhak untuk memintanya untuk ada. Saya sangat menyukai mawar putih. Bukan mawar merah? Bukan. Alasannya? Tidak akan dipublish untuk sembarang hati *eh Ya oke, sekian persen koma sekian perempuan menyukai mawar merah, mungkin karena banyak filosofi yang terdapat pada spesies bunga tersebut. Memiliki duri, kelopak, kepala putik dan batang merupakan materi yang tidak akan saya lanjutkan. Sedekat ini saya masih menyukai mawar putih dan iya itu alasannya.
Tapi, mawar putih ataupun merah, ia sama-sama memiliki kesempatan untuk dimaksimalkan, dan mereka memainkan peran mereka dengan baik. Walaupun mawar putih kini telah berubah menjadi coklat dan mawar merah menjadi lebih menghitam, perubahan ini tidaklah bisa dihentikan. Karena memang sejatinya semua akan berubah seiring perjalanan waktu. Ya karena waktu itu diciptakan agar semua kejadian tidak terjadi bersamaan. Begitulah. Ada hal yang tidak bisa kita kita putar kembali, apalagi dijilat kemudian dicelupkan. Waktu bukan oreo yang iklannya sangat menyenangkan untuk disenandungkan. "Akankah dia berubah menjadi menyenangkan!" Menyanyikan iklan tersebut, ada rasa menyulut duka lebih dalam.
Ini bukan tentang mawar putih atau pun merah. Ini kisah taman bunga yang sudah dipupuk dalam kurun waktu setengah dekade. Ini juga lebih indah dibandingkan mawar putih yang ditatap lamat-lamat agar tak lewatkan perubahan warnanya. Iya ini lebih indah. Sebelum memiliki mawar putih yang ini, saya juga memiliki mawar yang lain, yang sama indahnya, bahkan jauh lebih indah. Mawar itu tidak akan pernah layu apalagi gugur. Kelopaknya akan tetap menopang setiap kuntum bunga yang akan mekar. Batangnya akan tetap menyokong tiap helai daunnya. Bahkan akarnya akan tetap setia mencarikan unsur haranya. Mawar itu akan tetap hidup. Hidup selamanya walaupun tanpa dipupuk dan disirami. Ada kekuatan lain yang mengizinkannya untuk tetap hidup.
Hari ini mawarku tetap mekar dengan sempurna, tidak kekurangan apapun. Ketika kata sapaan "Saya" berubah menjadi "Aku" itu artinya aku tidak bisa mengendalikan diriku layaknya menulis di awal paragraf ini. Air mata tidak berhak untuk kisah mawarku ini. Air mata tidak akan mempengaruhi apapun. Air mata tidak akan merubah apapun saat ini. Aku tidak akan menangis? Tentu saja ini mustahil.
Memulai pembicaraan tentang mawar saja, mataku hampir tidak bisa melihat huruf-huruf abjad ini. Mawar putihku adalah seseorang yang jauh disana. Ya memang jauh. Jarak menghukum kita untuk bisa memaknai rasa rindu. Waktu menghukum kita agar mampu memaksimalkan rasa ketika bertemu. Dan semua hukuman ini terjadi tanpa aku mengerti kesalahan apa yang sudah aku perbuat. Dalam hati aku membatin, aku tidak bersalah untuk kasus ini, tetapi hukuman itu tetap saja akan tetap ada untukku.
Jauh dariku apakah mawar putihku layu? TIDAK sama sekali. Bahkan ia mekar tanpa butuh pertolongan dari siapapun. Iya, tanpa aku, tanpa air dan tanpa pupuk. Berbeda tanah menyebabkanku harus berhati-hati. Aku tidak ingin membuatnya terjatuh hanya karena tanah tempatku berpijak dibasahi hujan air mata. Aku juga tidak ingin membuat bunganya berguguran hanya karena pupuk kerinduan yang aku sampaikan terlalu banyak. Banyak sekali ketidakinginanku untuk tetap menjadikan ia mawar putih dimanapun ia berada.
Walaupun kita terpisah dibelahan bumi berbeda, tapi lapisan langit kita tetap sama yang sewaktu-waktu bisa menurunkan hujan untuk membasahi kekeringan hati kita. Kini, tidak akan kupermasalahkan jarak yang membentang. Hanya saja izinkan tetap kusebut namamu dalam sujud panjang yang terkadang tidak khusyu' karena memori yang ingin kukembalikan di depan mata.
Maafkan jika kuberi jarak untuk ini, karena aku sedang belajar memahami cara hidup berjauhan yang materinya baru kudapatkan. Menurutku, mempelajari ini lebih sulit daripada hibridisasi senyawa organik atau overlaping ikatan kimia. Ini jauh lebih sulit.
Tidak mengapa, jika menganggapku bukan bunga yang hebat, Bunga Matahari yang payah yang tidak akan pernah menghasilkan kuaci selamanya, hanya karena aku tidak bisa membersamaimu dalam beberapa kesempatan, tidak menanyakan kabarmu setiap hari, tidak ini dan tidak itu, jangan salahkan caraku, kumohon.
Dan aku mulai takut dengan apa yang akan terjadi, satu bulan, dua bulan bahkan dua tahun kedepan. Ketakutan ini beralasan. Seperti takutnya aku menulis namamu disini. Aku tidak bisa untuk berdamai dengan hatiku saat ini. Taukah? Setiap melihat list name di handphoneku, yang merangkai nama itu, mataku akan dengan cepat di diagnosa tidak dalam keadaan normal. Kalenjer air mataku akan secepat kilat mengambil tugas menyebalkan itu, dan bulir tidak berwarna itu akan sukses melintasi parit disudut mata indahku. Dan moment ini selalu begitu seterusnya. Dan ini sangat menyebalkan!
Sampai kapan aku bisa berdamai dan memahami keadaan ini? Sampai engkau menemui seseorang yang tentunya lebih baik apapun dari bunga yang tidak ada apa-apanya ini. Ketika itu terjadi, aku akan mundur ke belakang. Tenanglah, hanya menjarak beberapa langkah, agar perjalananmu menuju masa depan tidak terhalang. Kau pernah memintaku untuk membiarkan mu untuk membuatku bangga sekali saja.
Kau tau? Ini sudah sangat membahagiakan. Kebanggaan mana lagi yang akan kucari, ketika aku memiliki bunga yang memiliki kepribadian luar biasa, dan perbandingan kita tentunya sangat jauh!. Harapku tidak akan muluk-muluk. Semoga kau temui bahagia disana, di negeri berawalan huruf "B" yang dulunya aku ingin singgahi, tapi karena kau sudah menapaki, maka tunai sudah rasaku ingin ke kota itu. Terimakasih telah ajarkanku hidup berjauhan. Tetaplah disana. Kumohon jangan tinggalkan aku terlalu jauh. Karena setelah mengenalmu, aku tak temukan tanda berhenti; berjalan di jalan-Nya.
Maafkan aku sudah menulis ini. Ini terlalu buruk bukan? Iya. Maafkan aku. Ini memang untukmu mawar putihku. Aku rindu masa-masa sholat berjamaah, buka puasa bersama, mengaji bersautan, tertawa lepas, menangis tertahan, bercerita banyak hal, berkeliling kota, bersilaturrahim, menyambangi masjid, dan ragam hal yang tidak akan kulupa untuk apapun itu.
Berjuanglah disana, karena akupun akan memperjuangkan hidupku disini. Tidak garis lintang yang sama, tapi namamu masih jelas dalam pelafalan doaku. Bismillaah, yang teristimewa.... Sampai akhirpun aku masih ragu untuk menuliskan namamu, karena aku aku takut kecerobohanku akan merusak banyak hal.
Tersenyumlah di kota itu, aku merindukanmu.
Sungguh!
Jumat pertama di bulan terakhir tahun ini
Dini Febria Qisthy
#Ah iya: terimakasih untuk mawar putihnya~
Ucapan salam seiring doa kebahagiaan selalu termohon kepada Sang Pemilik hati, agar tetap mengistiqomahkan kita di jalan ini. Jalan yg masih kita tempuh hingga saat ini. Jalan berat, ringan, bahkan jalan santaipun kita lakoni. Semoga jalan ini berujung Jannah InsyaAllaah~
Lama tidak membaca membuat hati gelisah.
Lama tidak menulis membuat hati cenderung mengeras.
Membaca apa saja, Al-Quran? Buku? Novel? Komposisi Mie instant? Cara pemakaian pewangi ruangan? Ya itu.
Menulis apa saja, resep kue? surat? pesan untuk sahabat? Iya semuanya! Bahkan yg terakhirpun sudah jarang saya lakukan.
Entahlah hanya mencoba mundur berjarak agar rasa tidak semakin memburuk. Kembali saya ingin mengulang mengucapkan "Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali; cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri.
Seperti mawar putih ini misalnya. Berharap memilikinya, tapi takdir belum mempersilakan maka hati berhak untuk memintanya untuk ada. Saya sangat menyukai mawar putih. Bukan mawar merah? Bukan. Alasannya? Tidak akan dipublish untuk sembarang hati *eh Ya oke, sekian persen koma sekian perempuan menyukai mawar merah, mungkin karena banyak filosofi yang terdapat pada spesies bunga tersebut. Memiliki duri, kelopak, kepala putik dan batang merupakan materi yang tidak akan saya lanjutkan. Sedekat ini saya masih menyukai mawar putih dan iya itu alasannya.
Tapi, mawar putih ataupun merah, ia sama-sama memiliki kesempatan untuk dimaksimalkan, dan mereka memainkan peran mereka dengan baik. Walaupun mawar putih kini telah berubah menjadi coklat dan mawar merah menjadi lebih menghitam, perubahan ini tidaklah bisa dihentikan. Karena memang sejatinya semua akan berubah seiring perjalanan waktu. Ya karena waktu itu diciptakan agar semua kejadian tidak terjadi bersamaan. Begitulah. Ada hal yang tidak bisa kita kita putar kembali, apalagi dijilat kemudian dicelupkan. Waktu bukan oreo yang iklannya sangat menyenangkan untuk disenandungkan. "Akankah dia berubah menjadi menyenangkan!" Menyanyikan iklan tersebut, ada rasa menyulut duka lebih dalam.
Ini bukan tentang mawar putih atau pun merah. Ini kisah taman bunga yang sudah dipupuk dalam kurun waktu setengah dekade. Ini juga lebih indah dibandingkan mawar putih yang ditatap lamat-lamat agar tak lewatkan perubahan warnanya. Iya ini lebih indah. Sebelum memiliki mawar putih yang ini, saya juga memiliki mawar yang lain, yang sama indahnya, bahkan jauh lebih indah. Mawar itu tidak akan pernah layu apalagi gugur. Kelopaknya akan tetap menopang setiap kuntum bunga yang akan mekar. Batangnya akan tetap menyokong tiap helai daunnya. Bahkan akarnya akan tetap setia mencarikan unsur haranya. Mawar itu akan tetap hidup. Hidup selamanya walaupun tanpa dipupuk dan disirami. Ada kekuatan lain yang mengizinkannya untuk tetap hidup.
Hari ini mawarku tetap mekar dengan sempurna, tidak kekurangan apapun. Ketika kata sapaan "Saya" berubah menjadi "Aku" itu artinya aku tidak bisa mengendalikan diriku layaknya menulis di awal paragraf ini. Air mata tidak berhak untuk kisah mawarku ini. Air mata tidak akan mempengaruhi apapun. Air mata tidak akan merubah apapun saat ini. Aku tidak akan menangis? Tentu saja ini mustahil.
Memulai pembicaraan tentang mawar saja, mataku hampir tidak bisa melihat huruf-huruf abjad ini. Mawar putihku adalah seseorang yang jauh disana. Ya memang jauh. Jarak menghukum kita untuk bisa memaknai rasa rindu. Waktu menghukum kita agar mampu memaksimalkan rasa ketika bertemu. Dan semua hukuman ini terjadi tanpa aku mengerti kesalahan apa yang sudah aku perbuat. Dalam hati aku membatin, aku tidak bersalah untuk kasus ini, tetapi hukuman itu tetap saja akan tetap ada untukku.
Jauh dariku apakah mawar putihku layu? TIDAK sama sekali. Bahkan ia mekar tanpa butuh pertolongan dari siapapun. Iya, tanpa aku, tanpa air dan tanpa pupuk. Berbeda tanah menyebabkanku harus berhati-hati. Aku tidak ingin membuatnya terjatuh hanya karena tanah tempatku berpijak dibasahi hujan air mata. Aku juga tidak ingin membuat bunganya berguguran hanya karena pupuk kerinduan yang aku sampaikan terlalu banyak. Banyak sekali ketidakinginanku untuk tetap menjadikan ia mawar putih dimanapun ia berada.
Walaupun kita terpisah dibelahan bumi berbeda, tapi lapisan langit kita tetap sama yang sewaktu-waktu bisa menurunkan hujan untuk membasahi kekeringan hati kita. Kini, tidak akan kupermasalahkan jarak yang membentang. Hanya saja izinkan tetap kusebut namamu dalam sujud panjang yang terkadang tidak khusyu' karena memori yang ingin kukembalikan di depan mata.
Maafkan jika kuberi jarak untuk ini, karena aku sedang belajar memahami cara hidup berjauhan yang materinya baru kudapatkan. Menurutku, mempelajari ini lebih sulit daripada hibridisasi senyawa organik atau overlaping ikatan kimia. Ini jauh lebih sulit.
Tidak mengapa, jika menganggapku bukan bunga yang hebat, Bunga Matahari yang payah yang tidak akan pernah menghasilkan kuaci selamanya, hanya karena aku tidak bisa membersamaimu dalam beberapa kesempatan, tidak menanyakan kabarmu setiap hari, tidak ini dan tidak itu, jangan salahkan caraku, kumohon.
Dan aku mulai takut dengan apa yang akan terjadi, satu bulan, dua bulan bahkan dua tahun kedepan. Ketakutan ini beralasan. Seperti takutnya aku menulis namamu disini. Aku tidak bisa untuk berdamai dengan hatiku saat ini. Taukah? Setiap melihat list name di handphoneku, yang merangkai nama itu, mataku akan dengan cepat di diagnosa tidak dalam keadaan normal. Kalenjer air mataku akan secepat kilat mengambil tugas menyebalkan itu, dan bulir tidak berwarna itu akan sukses melintasi parit disudut mata indahku. Dan moment ini selalu begitu seterusnya. Dan ini sangat menyebalkan!
Sampai kapan aku bisa berdamai dan memahami keadaan ini? Sampai engkau menemui seseorang yang tentunya lebih baik apapun dari bunga yang tidak ada apa-apanya ini. Ketika itu terjadi, aku akan mundur ke belakang. Tenanglah, hanya menjarak beberapa langkah, agar perjalananmu menuju masa depan tidak terhalang. Kau pernah memintaku untuk membiarkan mu untuk membuatku bangga sekali saja.
Kau tau? Ini sudah sangat membahagiakan. Kebanggaan mana lagi yang akan kucari, ketika aku memiliki bunga yang memiliki kepribadian luar biasa, dan perbandingan kita tentunya sangat jauh!. Harapku tidak akan muluk-muluk. Semoga kau temui bahagia disana, di negeri berawalan huruf "B" yang dulunya aku ingin singgahi, tapi karena kau sudah menapaki, maka tunai sudah rasaku ingin ke kota itu. Terimakasih telah ajarkanku hidup berjauhan. Tetaplah disana. Kumohon jangan tinggalkan aku terlalu jauh. Karena setelah mengenalmu, aku tak temukan tanda berhenti; berjalan di jalan-Nya.
Maafkan aku sudah menulis ini. Ini terlalu buruk bukan? Iya. Maafkan aku. Ini memang untukmu mawar putihku. Aku rindu masa-masa sholat berjamaah, buka puasa bersama, mengaji bersautan, tertawa lepas, menangis tertahan, bercerita banyak hal, berkeliling kota, bersilaturrahim, menyambangi masjid, dan ragam hal yang tidak akan kulupa untuk apapun itu.
Berjuanglah disana, karena akupun akan memperjuangkan hidupku disini. Tidak garis lintang yang sama, tapi namamu masih jelas dalam pelafalan doaku. Bismillaah, yang teristimewa.... Sampai akhirpun aku masih ragu untuk menuliskan namamu, karena aku aku takut kecerobohanku akan merusak banyak hal.
Tersenyumlah di kota itu, aku merindukanmu.
Sungguh!
Jumat pertama di bulan terakhir tahun ini
Dini Febria Qisthy
#Ah iya: terimakasih untuk mawar putihnya~
Comments
Post a Comment