[Merdu Untukmu-Teman Hidup]




Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini kunanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang




Tetaplah bersamaku
Jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu
Kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu

********************************************************************************


Hai! Ketika tulisan ini sudah diposting, kau pasti sudah tau artinya [!].
Mungkin aku rindu; itu saja!
Bagaimana bisa setelah berjauhan kita baru bisa memaknai perpisahan.
Bagaimana bisa kita tidak akan seperti waktu itu lagi? Bagaimana?
Terimakasih sudah ajarkanku hidup berjauhan, setidaknya untuk bekal hidupku nanti setelah kau benar-benar menjarak. Sungguh, terimakasih.

Kita pernah menghabiskan waktu hampir lima tahun, dan hari ini aku merasa ternyata 365 dikali 5 itu ternyata jawabannya “singkat”. Sangat singkat bahkan. Mungkin jika siswaku mengetahuinya, aku akan ditertawai habis-habisan, dan mereka akan percaya nilai matematikaku anjlok. Mereka akan percaya Ustadzah Dinii mereka payah! Okelupakan! Banyak kisah yang sudah kita pahatkan di lubuk hati terdalam, alat tercanggih manapun tidak akan bisa menghapusnya dari sinapsis neuron yang tersambung sudah menjadi ingatan yang seharusnya bisa putus pada suatu masa. Tapi entah mengapa bagian ini tidak. Aku jadi teringat, salah satu novel yang sekarang sudah menjadi novel favoritku, hujan. Di novel itu diceritakan ada seorang wanita yang ingin menghapus ingatan menyedihkan di hidupnya. Bodoh mungkin. Tapi pada akhirnya dia menjadi orang yang sangat bijaksana, memeluk erat kesedihan itu sehingga tidak ada yang dihapus oleh mesin canggih itu. Itu hanya cerita di novel hujan tersebut, sayangnya zaman ini belum ada alat kece itu. Aku keduluan lahir haha!


Sejenak aku berkontemplasi, merunut jutaan kisah ke belakang. Semuanya sangat jelas berkelabat dihati dan pikiranku. Kan aku sudah pernah bilang, aku tidak hanya akan memikirkan kisah hidup bersama itu, tapi juga akan mehatikan. Kau masih tidak percaya? Ah, akan selalu begitu.


Tentu saja aku akan setuju dengan lantunan merdu Tulus di atas. “Didekatnya, aku lebih tenang. Bersamanya, jalan lebih terang.” Rasanya kalau kita sudah bersama, semuanya akan terasa baik-baik saja; lebih mudah. Entah dimana pun itu, untuk apapun itu. Contohnya di tongkrongan andalan kita, yap Laboratorium. Mungkin sudah lebih dari 100 larutan yang kita buat bersama, bahkan ribuan partikel sudah memapar tubuh yang terkadang sebenarnya sudah tidak berdaya ini. Tapi kau tetap berikan kekuatan terbaik untuk kita taklukkan itu, selesaikan ini. Yang kaupun tau itu tidak mudah.


Sejenak aku harus kembali ke masa itu. Masa dimana hidup terasa lebih sulit dari sebelumnya. Latar belakang dicoret sampai 7 kali, angket disempurnakan sampai 5 kali, materi harus diganti secepatnya bahkan doa dengan 3 kali pengulanganpun aku rasa tidak cukup. Haha kalau boleh tertawa, aku akan menertawakan kisahku satu tahun belakangan itu. Ternyata hidupku sempat sebercanda itu. Tentu saja itu cukup menghibur; percayalah itu lucu! Dan yang lebih lucu lagi aku harus menangis di depan laptop selama satu bulan, dank au lah penghapus air mata itu. Kuucapkan terimakasih tulus dari sini.


Ya! Dan kau hadir merubah segalanya, menjadi lebih indah. *Maaf harus menyanyi, maklum saja kita kan juara nasyid se-Riau. Haha. Sorry spam, abaikan!


Sahabatku, kau dengan masalah yang tidak jauh lebih ringan, selalu menjadi orang nomor satu yang membesarkan hatiku, bahwa salah itu tidak buruk, kita hanya harus memperbaiki lagi. Kau selalu meredakan tangis tertahan bahkan sebelum tangisan itu terakumulasi. Well, ini bukan kisah menyenangkan untuk dikenang, tapi tetap saja jika terlintas, bibir ini sukses melengkung tulus dan air bening mengalir di tepian parit mataku.


Detik ini sebenarnya aku hanya mengenang, mengenang betapa beruntungnya melewati kisah manis itu bersamamu, melewati rintangan pertanyaan, yang bahkan aku sampai saat ini tetap tidak mengetahui jawabannya bagaimana itu semua terlewati. Ada Allaah? Iya aku tau, Allaah bersama-ku, bersama kita. Allaah membersamaiku, bersamamu mungkin itu jawaban yang lebih rasionalistis.


Mungkin karena kisah yang kita lewati hampir semuanya berujung air mata, maka kau pergi tanpa salam dariku. Baik, aku tau banyak hal tidak menyenangkan yang hanya milik kita berdua. Merasa tidak enak dengan apapun, takut menyinggung perasaan orang lain, segan ini segan itu, takut ini takut itu dan ketakutan konyol lainnya yang jika dibeberkan disini kalian akan berdosa membacanya. Itu aib! Haha. Tapi ketika bahagia pun kita biasanya akan menangis. Ah, untuk apa menangis sebenarnya[?]. Konyol!


Bicara konyol, tentu saja itu konyol. Tapi ada satu hal yang hingga saat ini adalah hal terkonyol yang pernah kita lakukan. Well, halte fakultas teknik UR-lah saksinya. Mungkin mereka yang bernama anak SMA di asrama itulah inti dari segala kekonyolan kita. Tapi tenang saja, kita tetap akan menjadi kakak terbaik mereka! Trust me, Insya Allaah.


Membahagiakan ketika kita memiliki banyak kesamaan. Kita punya adik kece yang sama, punya adik gen(g) yang sama, punya junior menyebalkan yang sama, punya junior yang seolah-olah senior, punya senior yang mengaku junior, punya dosen kece yang sama, we called “Papiii”, did you still remember it? Punya kenangan yang sama, punya sebutan yang sama, punya kebiasaan yang sama, menangis di Chemistry Championship 2014, tidak tau kenapa padahal masih bertemu; aneh memang! Dari sekian banyak kesamaan, ada satu yang kita miliki – tidak sama. Takdir! Kita tidak dituliskan untuk mengukir kisah yang sama lagi. Mungkin kita diminta berjuang masing-masing. Mungkin! Mungkin itu tidak adil.


Kau tau, hidup sendiri disini tidak enak! *Siapa suruh jomblo haha. Tapi baiklah, Life must go on. Hidup harus tetap kita jalani. Ya! Untuk apapun yang akan kau lakukan, sertakan Allaah dalam setiap keputusannya. Untuk apapun, kuliah, bekerja atau menik*h, haha sampai saat ini akupun masih belum bisa melengkapi kalimat itu dengan kesemua hurufnya. Takut baper. Wkwk. Ini adalah pembahasan yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi mantap. Masih ingat itu? “Biasa-biasa saja tapi mantap!” huh! Anak asrama. Ah ya, izinkan aku mengetahui pangeran beruntung itu sebelum namanya tertulis di kertas undangan putih merah jambu itu. *eh kok main menentukan warna sendiri. Maaf! Haha. Aku akan menjadi tim penyeleksi yang baik, percayalah! Sekali lagi, izinkan aku… Izinkan aku menghentikan pembahasan ini, karena permbahasan ini tidak baik dalam masa ini.


Baik disana, sahabatku. Maaf tak kuasa menyapamu dari sini. Kau tau, karena hai setitik rusak move on sebelanga. Bukan ingin menghilangkanmu, tapi sungguh aku masih belajar hidup berjarak, dan aku masih kalah. Kalah telak!



Selamat mempersiapkan diri, untuk semua impian itu. Doa akan selalu dikirim ketika raga tidak membersamai. Karena ada satu ikatan yang tidak mungkin putus; -Persahabatan-. Dan aku mohon bahas aku dalam bait-bait melangit menuju Robb-mu.
 

Pada paragraph terakhir kuberanikan diri menyapa yang jauh disana. Atas nama persahabatan, Hai, Restu Desriyanti, tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku. Terimakasih untuk segala rasa. Bhay! :D

Comments

  1. Sahabat adalah dia yang tau cara menutupi kelemahanmu ^^ ...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29