29's Warrior #2of29

Namanya Muhammad Zafran Adnanta. Zafran begitu teman-temannya memanggil.


Tidak susah mencari data dirinya, karena kita berada dalam suatu organisasi; tapi beda divisi. Tak pernah sekalipun kita berinteraksi secara langsung, sebab begitulah aturan yang disetujui. Bahkan rapat dalam satu ruangapun, akan dibatasi oleh tabir yang menyebabkan kita tidak akan pernah tau siapa yang berbicara, kecuali sudah mengenalnya. Berjalan menundukkan kepala, bergaul hanya dengan yang se-gender menyebabkan kita seolah-olah layaknya orang-orang yang sedang bermusuhan.

Entah pikiran apa yang muncul, tanpa sadar membuat mata seolah bergerak sendiri menelusuri orang yang dipikirkan diantara sekumpulan orang yang sedang sibuk dengan tugas keorganisasiannya. Yes! Organisasi kita, eh “kita”? Haha siapa aku yang menggabung-gabungkan aku kamu menjadi kita? Seketika syaraf pipiku mengembang keatas dengan formasi 2-2-7. Tau 2-2-7? 2 cm ke kanan 2 cm ke kiri dan ditahan 7 detik. Mungkin sebentar lagi aku akan diantar ke psikiater terdekat. Fix, abaikan! 

Kali ini di kampus ada acara penyambutan Tahun Baru Islam, maka dari itu semua divisi dituntut untuk bekerja sama dalam acara ini. Agar acara ini tidak mengecewakan, maka persiapanpun harus semaksimal mungkin. Imbasnya adalah panitia yang harus bekerja keras demi tepuk tangan tamu yang datang di hari H. “Dia dimana?”, tiba-tiba tercetus pertanyaan tanpa kutau siapa yang mengomandoi. Astaghfirulloh, kenapa aku ini? jeritan histeris itu hampir diketahui oleh anggota divisiku. 20 detik kubenamkan kepala kemudian mengangkatnya kembali, lalu berjalan gontai mencari gunting. Bunuh diri? Bukan!! Terlalu dini spekulasi kalian, gen(g).

Terlihat beberapa orang sedang berdiri di atas kursi hendak memasang spanduk selamat datang, ada juga yang baru selesai dhuha, dan ada juga yang sedang menyusun kursi sambil muroja’ah hapalannya. Aku terus berjalan. Hingga tiba disuatu sudut secara sadar memandangi, masih dengan wajah teduh yang sulit sekali dihindarkan pesonanya. Berharap tak peduli, tapi mata ini enggan menghindari. Kalian mungkin tau, sesuatu yang semakin dihindarkan akan membuat rasa penasaran semakin tak terelakkan. Ada saja hal yang ingin kuketahui, dan ketika itu terpenuhi aku merasakan kebahagiaan tersendiri.

Aku tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini. Ya, mungkin karena belum pernah kurasakan hal yang sama sebelumnya. Aku adalah seorang gadis introvert, yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar jika menurutku itu tidak penting. Menurutku, bersama Ibuku semua bisa kulakukan menjadi menyenangkan. Dan aku tidak butuh teman, apalagi teman special beda gender, karena Ibuku bisa memberikan semuanya. Iya semuanya! Kalau dulu aku tidak memiliki orang special karena menurutku itu tidak terlalu kubutuhkan pada saat itu, dan aku tetap bisa menjalani hidupku tanpa “dia” yang menurut teman-teman sekolahku adalah penyemangat dan pelengkap hidup. Haha klise! But, see! Hari ini aku merasakan sesuatu yang kosong dalam diriku seolah-olah dituangi sesuatu, dan itu manis sekali. 

Kasus ini berbeda. Sangat berbeda malah! Perasaan itu hadir saat lingkungan tidak mengizinkan, saat aku mengetahui hukum akan sebuah perbuatan, saat menyadari bahwa itu sebuah kesalahan. Lalu, what should I do? Apakah rasa penasaran itu harus kukubur tanpa harus kumandikan dan kukafani terlebih dahulu? Setega itu? Atau sehoror itu?

Ah, rasa penasaran ternyata tidak sama dengan teriakan abang Ice Cream Medan. Vanilla, Coklat, Strawberry.

***
Pembaca yang baik, haruskah aku memberikan note setiap postingan ini? Sekali lagi, ini hanya cerita fiktif bersambung yang penulisnya pun tidak tau apa kelanjutannya apalagi endingnya. Tolong biarkan dia mengalir selayaknya. Ini hanya cerita yang terinspirasi dari salah seorang di luar sana. Tapi ini versi perempuannya. Sangat mirip mungkin, maafkan aku! 

Dan baru episode satu kalian sudah request ending of this story? Allaah… apa salahku? Ini hanya selingan, karena merdu untukmu suaraku serak, dan coretan putri matahari terlalu kontroversial kurasa. Ya, dari pada aku harus menuliskan tentang teman-teman dekat kalian yang mungkin mengganggu, lebih baik aku menulis tentang kamu! Haha jangan terlalu dipikirkan, nanti bisa diabetes atau bahkan stress ringan *eh.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29