29's Warrior #3of29

Benar saja. Aku merasakan hal yang tidak biasa itu. Luar biasa? Tidak juga!


Lagi-lagi aku tidak mengerti akan perasaan ini. Ia tiba-tiba saja hadir tanpa salam. Masuk tanpa permisi dan pergi tanpa pamit. Setiap hari aku merasa harus bertemu dengannya. Walaupun hanya melihat sekilas mata wajah teduh itu; itu sangat membahagiakan. Ada apa ini? Aku merasa dikendalikan oleh kekuatan lain; ini horror sungguh! Pada saat berhasil menemukan mata itu, aku terkesiap dan seketika berusaha menetralkan hati yang tidak bisa kukendalikan ritmenya. Kurasa syaraf gilaku sudah hampir aktif keseluruhan. Oh Allaah, tolong aku!

Harapan-harapan kecil mulai terbesit. Semoga hati pemilik senyum itu juga merasakan hal yang sama. Ah, astaghfirulloh. Mungkin beristighfar bisa membuatku melupakan khayalan konyol itu. Tapi ini semua tidak bisa dihindarkan. Aku terjebak, dan naifnya aku tidak ingin melepaskan diri. Kuambil bantal guling berdiameter 8,5 cm itu, lalu kubenamkan kepala, agar bayangan itu tidak muncul lagi. Tapi usaha itu sia-sia. Semakin aku berusaha menghapusnya, semakin ditulisnya kembali; bahkan lebih jelas.

Hujan diluar sana masih belum berhenti mengalunkan potongan music layaknya resital biola yang mengalun merdu. Kunikmati tiap tetes jatuhnya. Atap rumahku sepertinya sudah menerima dengan lapang dada ketika ia harus dijatuhi air yang merupakan rahmat bagi penduduk bumi. Lelah setelah peringatan tahun baru itu sedikit menguap mendengar rintik hujan yang melewati jendelaku, rasanya ada resah yang tiba-tiba lenyap melihat aliran air itu berjalan lurus tanpa komando.

Masih tersisa gerimis akibat hujan barusan. Sayup terdengar handphoneku berbunyi kecil; hampir tidak terdengar. Pikiranku masih sibuk dengan kenangan kejadian kaku beberapa hari yang lalu di halte itu. Tanganku enggan untuk bergerak membuka gadget yang berbunyi.

“Biarkan dulu, palingan pesan broadcast puasa senin kamis”, gumamku. 

Selang beberapa menit, keinginan untuk membuka hp muncul walaupun antara niat dan tidak.
“Ternyata sms ya”, aku berbicara sendiri. Karena bunyinya tidak jelas, jadi prediksiku tentu salah total. Pesan itu dari nomor baru yang tidak tersimpan di ponselku, tapi hatiku tau siapa pemilik nomor ini. Aku pernah melihat ujung dari nomor ini pada rekapitulasi presensi rapat panitia. Yap, Zafran! Entah mengapa nomor itu menempel dikepalaku dengan sangat jelas. Kurasa lemnya mahal. Haha.

Bunyi pesan itu singkat saja. Dan akupun menjawabnya jauh lebih singkat. Sebenarnya aku dalam kesadaran penuh tidak ingin melakukan kesalahan dalam hal ini; megotori hati mungkin. Pesan itu; jika dinilai dari segi konten tentu sangat tidak berbobot sekali, karena memang tidak peting. Tapi jika dinilai dari estetika, tentu ini sangat indah. Seperti rasanya kejatuhan bunga-bunga sakura dimusim semi. Dan aku duduk manis di bawahnya sambil membaca novel best seller karangan penulis terbaik di negeri ini. Seketika aku merasa ada yang kembali bersorak riang sekali, dan lagi-lagi aku tak tau asalnya dari mana. Gejolak itu muncul lagi, tapi aku berusaha memendamnya. Kubalas pesannya dengan sangat datar.

“’Afwan sebelumnya, kalau tidak ada keperluan yang mendesak mohon tidak menghubungi secara pribadi”. Kukirim pesan itu dengan mengucapkan bismillah, lalu kemudian ponsel berkapasitas 4 giga byte itu kumatikan dengan penuh cinta.

Sesungguhnya ada pertanyaan besar dalam kepalaku, “Mengapa Zafran…?”. Dan aku tak kuasa melanjutkan pertanyaan itu karena aku tidak berhak untuk merekayasa jawaban atas pertanyaanku sendiri. Kembali kuhempaskan diri dikasur beralas hello kitty ini, agar semua pikiran itu rontok bersama getaran yang merambat dikamarku.

‘Aku hanya ingin dengan cara yang halal”, ucapku lirih pada langit malam yang sudah mulai mengantuk.

***  

*Guys, kali ini tidak ada note yang terlalu berarti, tapi aku hanya ingin minta maaf. Beberapa hari kedepan tidak upload dulu ya. See yaa on Sunday, Insya Allaah.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29