Aliran-Aliran Kasih
Sungguh hari-hari bahagia yang kita lalui hari ini tidak akan pernah terlepas dari aliran kasih dari ayah dan ibu yang dengan deras-derasnya selalu mengalir. Dimulai semenjak kita dilahirkan, atas izin Allah aliran air susu ibu yang menjadi nutrisi pertama untuk seorang anak. Hingga 2 tahun kemudian seorang anak menikmatinya.
Air susu ibu yang sering kita singkat dengan ASI, tapi perjuangannya tentu tidak singkat. Ada yang menangis dihisapan pertama, ada yang sampai berdarah-darah. Lebay? Kalau sudah tahu rasanya insyaallah akan mengiyakan dengan mudah. Dimulai dari keluarnya ASI pertama yang bagi beberapa ibu tidak mudah, tapi masih saja berjuang agar si buah hati tetap bisa minum. Lalu malam-malam panjang yang tidak berujung kata nyenyak. Ketika baru lahir, harus menyusui setiap dua jam. Seorang ibu harus berjaga. Belum lagi jika anaknya rewel, tentu akan tidak mudah.
Perjuangan meng-ASI-hi dilalui dengan suka dan dukanya. Berbulan-bulan dilakukan hingga akhirnya terbiasa. Terbiasa digigit bahkan sampai perih, terbiasa bangun malam walau paginya harus bangun untuk berkegiatan lagi. Tapi setelah itu semua menjadi biasa, tiba saatnya untuk mengganti kebiasaan lagi, yaitu menghentikan aliran kasih itu. Pastinya, ketika satu aliran terhenti, aliran yang lain menanti.
Berat sekali perjuangan seorang ibu, setelah 700an hari menyusui anaknya, diminta untuk menyelesaikannya. Bukan atas permintaan dokter, bukan saran suami, tapi ketentuan Allah. Menyapih ini bukan hanya tidak biasa untuk seorang anak, tapi sangaaaat berat bagi seorang ibu.
Saya adalah seorang ibu yang baru saja menyapih anak perempuan kami. Begitu berat hari-hari yang penuh air mata itu. Jika teringat kembali bagaimana kita sama-sama berjuang untuk melakukan perintah Allah; perintah Al-Quran tersebut.
Ghaitsa, 2 tahun di bulan November lalu. Sangat terang diingatan kami drama penyapihan di depan mata. Saya dan suami sudah bertekad untuk menyapih Ghaitsa diwaktu yang tepat. Walaupun beberapa kerabat mengatakan tak mengapa kalau harus lebih dari ketentuan itu. Tapi hasil diskusi kami sudah bulat. Insyaallah kita akan usahakan di bulan November, semoga Allah memudahkan.
Sebelum memasuki bulan November, kami aktif melakukan sounding kepada Ghaitsa bahwa di 2 tahun nanti Ghaitsa tidak boleh lagi minum ASI. Selain itu kami juga mengurangi intensitas minum ASI Ghaitsa dengan tujuan agar tidak terlalu kaget. Ghaitsa full ASI, jadi tentu kekhawatiran ini beralasan, karena tidak ada bantuan dari susu selain ASI yang Ghaitsa minum selama 2 tahun ini.
Kami juga menyiapkan mental. Saya dan suami selalu berdoa kepada Allah agar proses menyapih nanti dimudahkan. Dan juga berharap dikuatkan, karena dari cerita-cerita orang-orang terdahulu bahwa proses ini tidak mudah.
Bulan November tiba. Kami mulai makin gencar untuk prolog Ghaitsa. Setiap pagi, siang, malam selalu kami sampaikan. Disetiap kegiatan kami sempatkan untuk membahas bersama bahwa menurut AL-Quran, ketika sudah besar kita tidak boleh lagi minum ASI. Walaupun mungkin anaknya terlihat tidak mengerti, tapi kami selalu untuk menyampaikannya berulang-ulang. Harapannya agar diingat dan tersimpan di alam bawah sadar anak.
Deg-degan juga kami menunggu hari tersebut. Kami berniat dihari lahir Ghaitsa tepat 2 tahun maka itulah waktunya Ghaitsa tidak minum ASI lagi. Setiap sholat hanya mampu berdoa, mohon dilembutkan hati anaknya agar mudah prosesnya nanti. Karena cerita teman-teman, sungguh menakutkan. Saya juga pernah mendengar untuk menyapih pakai yang pahit-pahit, tapi rasanya ini tidak akan berujung baik bagi ibu dan anak. Saya juga berusaha mencari informasi di Artikel The Asian Parent Parent. Artikel disini banyak membantu, Alhamdulillah.
Ada beberapa teori yang kami baca, yang kesemuanya menyarankan untuk menyapihnya perlahan dan dengan cinta.
Hari yang ditunggupun tiba. Hari ini Ghaitsa 2 tahun. Tidak ada perayaan, tidak ada kue, tidak ada balloon, dan lilin-lilin. Kami hanya melakukan kegiatan bersama, berusaha mengalihkan Ghaitsa ketika teringat minum ASI. Dari pagi sampai siang, cukup berhasil pengalihan demi pengalihan. Menjelang sore, permainan sudah tidak mempan lagi. Ghaitsa mulai berontak, menangis dengan keras. Karena anaknya jarang sekali menangis dengan keras, jadinya kami cukup panik.
Berbagai cara kami coba, memberikan air putih, mengajak menonton, bermain bersama, tidak bisa. Ghaitsa mulai marah, dia hanya mau digendong suami saya. Pertahanan saya mulai runtuh, air matapun luruh. Saya mulai menangis dan tidak tega. Akhirnya hari itu gagal. Ghaitsa gagal disapih dihari pertama itu. Kami benar-benar harus berpikir lagi bagaimana caranya agar bisa mengalihkan ketika Ghaitsa teringat minum ASI.
Kami tidak putus asa. Hari kedua, kami coba lagi. Kali ini, saya mulai sounding Ghaitsa dengan ayat Al-Quran seperti satu bulan yang lalu. “Ghaitsa, Allah bilang kita boleh minum ASI itu 2 tahun. 2 tahun itu tandanya Ghaitsa sudah besar. Karena sudah besar, kata Allah minumnya air putih yaa. Ghaitsa bantu Ummi untuk patuh sama perintah Allah ya, Nak…” Kira-kira begitu kata-kata yang saya coba ulang-ulang sampai bosan. Bahkan tidak bosan satu hari itu.
Karena terbiasa untuk minum ASI sebelum tidur, jadilah bagian ini cukup sulit. Akhirnya kami coba gendong dengan diayun-ayun. Sembari diayun, saya tetap minta tolong Ghaitsa untuk bantu mematuhi perintah Allah; perintah AL-Quran.
Hari-hari itu Ghaitsa sedang suka-sukanya dengan lagu “dua mata saya”. Allah memberi ide untuk membuat sebuah lagu dengan irama lagu dua mata saya tersebut. Liriknya saya ganti menjadi seperti berikut ini
“Dua umur Ghaitsa
Ghaitsa sudah besar
Dua umur Ghaitsa
Tidak mimi lagi”
Qodarullah, anaknya suka dan minta dinyanyiin terus-terusan sampai malam. Alhamdulillahnya sudah mau tidur sambil dinyanyiin dua umur Ghaitsa tadi. Cukup lega drama tangisan berkurang, walaupun masih ada. Namanya sudah 2 tahun terbiasa minum ASI tiba-tiba sekarang sudah tidak boleh lagi. Pasti rasanya sediiih banget yaa. Sebagai ibu saja rasanya begitu sakit, apalagi seorang anak 2 tahun. Tapi lagi-lagi Allah memudahkan prosesnya. Ini bisa berhasil sampai hari ini, karena Allah melembutkan hati anak kami. Ini semua bisa terjadi atas izin Allah.
Hari ini kalau ditanya, “Ghaitsa mau mimi?”
Anaknya akan menjawab, “Gak, sudah besar.”
Walaupun terkadang teringat mau minum ASI, tapi dengan cepat dia minta dinyanyiin lagu tadi. Mungkin sebagai apresiasi dan untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia memang sudah besar.
Kira-kira begitulah kisah kami menyapih putri pertama kami, semoga bisa manfaat bagi teman-teman yang membaca. Dan jangan lupa untuk mengunjungi web keren ini, karena banyak sekali artikel-artikel tentang ibu dan anak yang bisa membantu ibu-ibu muda seperti kita.
Terima kasih sudah berkenan membaca,
Love
Ummi Ghaitsa

Terimakasih sharing super ketceh nyaa ummi ghaitsa.. Gak pernah mau berhenti ditengah kalau udah ada tulisan ummi yang satu ini..
ReplyDeletekecup sayang dari kami..
MasyaAllah biidznillah 😍
ReplyDeleteSenangggggg nyaa.. komennya sangaat berarti utk kami hmm 💙💙