Bersama Namamu, Kami Mengharap Berkah
Mendapat amanah dari Allah berupa buah hati, pasti sebuah kebahagiaan bagi setiap keluarga. Mungkin ada yang sudah menunggu tiga bulan, ada yang tiga tahun bahkan ada yang sampai belasan tahun menunggu dipercaya untuk dititipkan segumpal darah di dalam Rahim seorang perempuan. Tentu begitu Allah sudah mempercayai kita, maka sudah pasti kita akan menerima dengan suka cita. Mempersiapkan banyak hal, salah satunya adalah “nama baik yang penuh makna”
Bagi sebagian keluarga mungkin cukup mudah untuk menentukan nama
bagi anak-anak mereka. Bagi kami pasangan baru, yang memiliki anak pertama ini
tidak mudah. Mulai dari usia kehamilan 6 bulan, kami sudah mulai mencari-cari
nama untuk janin yang setiap hari kami ajak bicara ini. Mulai dari mencari di
Al-Quran, kamus Bahasa Arab, sampai di web keren ini. Karena tidak banyak juga artikel-artikel yang membuat tenang ibu hamil serta menyediakan beragam informasi terkait hal-hal yang dibutuhkan calon orang tua. Tetapi The Asian Parent, beda. Banyak ilmu dan pastinya berdasar dan menenangkan.
Menulis ini, ingatan ku kembali berkontemplasi 2 tahun yang lalu….
Malam itu akhirnya perutku melilit, seperti mau BAB, tapi tidak. Rasanya tidak begitu jelas, tapi aku tahu aku mengharapkan rasa itu sepanjang hari. Kuberitahu Ibu yang memang sudah stand by menungguiku dari beberapa pekan yang lalu. Menurut ibu, itu masih kontraksi palsu, karena aku masih bisa menahan sakitnya. Semakin lama, rasanya interval sakitnya semakin dekat. Aku memutuskan untuk melakukan video call dengan sahabat-sahabat sekaligus bidan di sekolahku untuk meminta pendapat, apakah aku harus ke RS atau tidak.Malam itu di bawah hujan yang berkah di kota Pekanbaru, kami memutuskan berangkat ke Rumah Sakit Annisa yang menjadi sejarah lahirnya seorang Ibu dan anak pada hari Kamis, 15 November 2018.
Pukul 22.00 kami sampai di Rumah Sakit, dan langsung menuju UGD. Sebelumnya, sudah kuambil handphone, kemudian mengetik sejumlah permintaan doa dan mengirimnya ke grup keluarga. Aku di check oleh dokter yang bertugas malam itu. Ternyata baru jalan bukaan 1. Hah? Baru jalan bukaan saja rasanya cukup mengharukan batinku. Ibu dan suamiku tetap berada di sampingku. Terlebih Ibu, sementara suamiku mengurus administrasi, beliau selalu ingin berada di dekatku. Oh bukan, aku yang selalu ingin berada dekat-dekat dengannya. Dari pancaran matanya, ada khawatir, bimbang, ragu, dan tak sabar. Tapi lebih banyak bahagianya. Mungkin sudah terbayang akan menggendong cucu dari anak bungsunya yang manja ini.
Kamar sedang disiapkan, Ibu menemaniku berjalan di koridor. Sesungguhnya ini cukup melelahkan, mengingat sudah 1 bulan aku tidak menginjakkan kaki ke lantai. 3 hari lalu aku diperbolehkan untuk berjalan karena usia kandunganku sudah masuk 9 bulan. Rasanya badan ini masih goyang untuk berdiri dan berjalan. Ditambah lagi mules dan perut melilit ini, jalanku menjadi tidak jelas. Tapi ibu masih saja memaksaku berjalan. Aku mulai manja dan menangis. Suamiku meminta banyak istighfar agar rasa sakitnya berkurang. Maka kuikuti saja sarannya.
Pukul 23.20 aku diajak masuk ruang persalinan. Terlihat ada kakak-kakak dengan suaminya sedang mendengarkan audio hynobirthing, dan kasur kosong yang sepertinya disiapkan untukku. Ternyata benar. Aku langsung mengambil posisi tidur, karena sudah lelah berdiri dan berjalan. Setelah berbaring, bidan di dalam ruangan itu menyapaku lembut, kemudian meminta check bukaan lagi. Alhamdulillah, sudah bukaan 2. Apa? Lagi-lagi apa wkwk. Baru bukaan 2 ya Allah. Diwaktu-waktu ini, rasa sakit mulai tak karuan. Kalau tadi di rumah masih bisa haha hihi video call, sekarang hanya bisa meringis dan merapal doa-doa ketakutan. Entah apa yang ditakutkan, aku juga tidak tahu pasti.
Mengisi malam itu, aku sudah tidak berjalan lagi di koridor. Ibu sudah kuminta istirahat di kamar pasien, yang nyatanya tetap tidak bisa tidur. Aku terbaring cukup lemah di ranjang yang memiliki pegangan besi itu. Dalam hati sudah kuazzamkan, ketika sakit kontraksi datang, maka aku akan berpegangan kepada pembatas kasur saja. Kasian kalau harus meremas-remas tangan suami pikirku.
Suamiku muroja’ah hafalannya sekaligus mengajakku untuk tetap berdzikir. Sesekali ia berhenti dan mengatakan, bahwa aku pasti bisa. Berhenti lagi untuk membesarkan hatiku dengan kata-kata tulusnya. Hatiku perlahan-lahan mulai tenang. Kontraksi berinterval semakin dekat. Semakin sering. Berkali-kali balik ke toilet, hingga akhirnya dipasangkan diapers dewasa agar aku tak bolak-balik lagi.
Keringat mengucur, sakitnya masih bisa ditahan, kerongkonganku kering. Aku baru teringat, kami membawa 6 botol kecil air zamzam dari rumah yang memang sudah disiapkan untuk hari ini. Suamiku membacakan ayat-ayat Al-Quran kemudian meminumkan kepadaku. Malam semakin larut, hujan masih turun walaupun sudah tidak sederas tadi. Ruangan semakin dingin kurasakan. Ibu dan suamiku masih berjaga dan bergantian untuk melihatku. Sebentar-sebentar ibu masuk dan suamiku keluar, kemudian ibu keluar, suamiku yang masuk. Padahal sudah tengah malam, tapi ibu bilang, ibu belum bisa tidur.
Malam berjalan sangat lama, kontraksi datang silih berganti. Punggungku sakit, perut sakit, kaki sakit, semua sakit haha. Suamiku mengusap punggung, tapi rasanya belum hilang sakitnya, kemudian gantian ibu, lalu suamiku, lalu ibu, begitu seterusnya. Sambil memberikan afirmasi-afirmasi positif, suamiku tetap berada disampingku melantunkan ayat suci Al-Quran. Mungkin itu satu-satunya alasan kenapa malu sekali mengeluhkan kesakitan ini. Aku hanya menarik napas lalu menghembuskannya ketika sakit terasa, kemudian berpegangan kuat dengan handle tempat tidur.
Pada pukul 02.00 dini hari bidan kembali ingin mengecek bukaanku. Sungguh aku berharap sudah maju dari 2 yang tadi. Karena rasanya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu buah hati kesayangan yang sudah kami tunggu-tunggu itu. Alhamdulillah, bidannya berseru. Sudah bukaan 8. Hah? Lagi-lagi aku kaget dan mengucapkan puji-pujian kepada Allah. MasyaAllah, Allah memberikan kejutan kepada kami. Jika sudah pembukaan 8, maka insyaAllah dalam waktu dekat sudah mencapai bukaan maksimal dan proses lahirannya bisa dilakukan.
Sakitnya semakin intens, getaran cintanya semakin terasa. Suamiku tetap dengan tenang mengeluarkan kalimat-kalimat penyemangat, bahwa aku pasti bisa melewati. Aku adalah ibu hebat yang akan segera bertemu dengan baby kami yang masih belum bisa kami putuskan namanya. Beberapa hari sebelumnya sempat berdiskusi tapi tetap saja belum clear. Terakhir kami melihat-lihat artikel ini. Seru juga memilih-milih nama, walaupun ujung-ujungnya kami masih galau. MasyaAllah bagi kami artikel-artikel tentang ibu dan anak ini sangat membantu. Bisa diakses gratis dan mudah dipahami. Semoga berkah dan menjadi pahala selama tulisan-tulisan tersebut bermanfaat bagi banyak ibu-ibu di manapun berada.
Tak berselang lama, Allah membuat kami tak henti mengucap syukur. Sudah ada bayi kecil disampingku. Prosesnya tidak seseram yang kami bayangkan. Finally, aku sudah resmi menjadi ibu. Air mata tak berhenti mengalir. Tapi tentu saja air mata haru dan bahagia. Allahpun memberi kami ketetapan hati untuk memberi nama buah hati kami yang sedang tidur nyenyak di dalam box bayi.
Kami memandangnya; Al-Ghaits, yang artinya hujan yang mendatangkan berkah. Dari malam sampai pagi ini, kota kamipun masih dirintiki berkah Allah. Pagi ini sejuk, sesejuk tatapan gadis kecil yang tadi subuh sempat memandangku.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai Al-Ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. (HR. Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Musa).
Karena engkau lahir dikala hujan membasahi bumi, kami berharap kelak kau akan tumbuh menjadi seperti hujan; yang menjadi berkah bagi bumi, yang menjadi penyejuk bagi hati-hati yang gersang.
Nak, kami beri nama Ghaitsa Afsheen Muthmainnah, semoga Allah menjadikanmu sebagai penunjuk orang yang berilmu (Ghaitsa), penerang bagai bintang yang bercahaya (Afsheen), serta memberi ketenangan dengan penuh kelembutan (Muthmainnah)


Comments
Post a Comment