ini mimpi ku kawan !!!
ini mimpi ku kawan !!!
Kawan.
Pernah kah membayangkan tentang bagaimana kemenangan dakwah kampus. pernah
sepersekian detik kamu berkhayal tentang indahnya kampus ketika nilai Islam
meresapi setiap relung mahasiswa di kampus.
Tahukah
kamu kawan, aku pernah membayangkannya, aku pernah masuk dalam indahnya
bermimpi tentang kemenangan itu, rasanya sangat indah, dan aku ingin juga
membagi rasa ini kepada kawan semua.
Monolog
berikut kupersembahkan khusus untuk pejuang dakwah yang tak kenal lelah.
Yakinlah bahwa tetes keringat yang berjatuhan adalah saksi bisu atas perjuangan
besar Karena rindu pada Rabb..
Aku
sedang berjalan di jalan setapak taman masjid kampusku, sebuah masjid kampus
yang megah karena arsitekturnya yang kompleks. Arsitektur masjid tanpa pilar
dan kubah, serta di alasi oleh kayu yang menghangatkan jemari dan dahi yang
bersujud dan bersimpuh meraih nikmat Rabb. Aku menjadi teringat
pemandangan 10 tahun lalu, ketika aku dipercaya sebagai amirul mukminin
di kampus ini. tidak ada yang berbeda dengan nuansa kampus ini, tidak ada yang
berubah dari masjid kampus ini, masih sama, masih sejuk dan menimbulkan sebuah
kenangan indah atas perjuangan dakwah aku dan kawan-kawanku ketika masih
mahasiswa.
Siang
itu, azan zuhur tiba, “Hayya ‘alaa Sholaa” begitulah pekikan muazin ketika
aku melepas tali sepatu ku. Terdiam sejenak mencoba melihat sekeliling tempat
penitipan, segerombolan orang hilir mudik tergesa-gesa menuju kedalam masjid,
mereka berjalan menunduk dan dengan langkah sigap, seakan-akan ketinggalan kereta
terakhir di stasiun. Mereka bahkan rela membuang makanan yang mereka sedang
bawa demi meraih keutamaan Rukun Islam ini. toko pun menutup gerai mereka dan
memasang tulisan besar berwarna merah “TUTUP 10 MENIT, SEDANG SHALAT” di depan
pintu toko-toko yang menjadi bagian terintegrasi dari masjid kampus ini.
Melihat kearah timur, sebuah gedung kayu yang tak berubah masih berdiri tegak
disana, bisa aku lihat, mahasiswi berjilbab lebar dengan warna-warni komposisi
baju dan rok yang sangat indah. Memberikan kesan anggun tersendiri bagi mereka.
Aku memperhatikan mereka bergegas mengunci pintu gedung kayu dan segera
memasuki ruang wudhu perempuan.
Aku
mencoba berpikir apa yang terjadi, 10 tahun sejak aku berpisah dengan kampus
ini dan meraih pendidikan di luar negeri ternyata telah membuat sebuah nuansa
berbeda, tapi aku mencoba berpikir kembali “mungkin ini dampak ramadhan yang
baru usai pekan lalu”. Kutitipkan sepatu puma berwarna coklat milikiku,
ke penitipan sepatu, tak lagi kukenal siapa yang menjaga tempat sepatu itu,
diberikanlah kepada ku sebuah kartu yang mirip denga credit card berwarna
hijau toska sebagai tanda bukti penitipan sepatuku.
Berjalan
kembali diriku untuk mengambil air wudhu, “laa ilaaha illalallahu..” azan pun
usai, lantai keramik putih itu sudah diganti sepertinya, dengan lantai yang
lebih kokoh dan berwarna sawo matang, Basuhan wudhu terakhir ku ke jari
kaki kelingking bersamaan dengan bunyi microphone yang sedang di
nyalakan, aku pun bergegas menaiki tangga masjid untuk mengikuti ritual Shalat
zuhur ini.
Terperanjat
diriku melihat pemandangan yang hampir tidak bisa aku bayangkan 10 tahun silam,
jamaah zuhur sangat berlimpah, hingga ke koridor masjid, balkon lantai
dua dipenuhi muslimah-muslimah yang juga dengan rapat menjaga keutamaan shaff
berjamaah. Aku berpikir, kawan, mungkin itu mengapa banyak mahasiswa yang
terburu-buru menuju masjid, saat ini, hukuman bagi mahasiswa yang telat hadir
shalat berjamaah adalah tidak mendapatkan shaff pertama. Subhanallah, kuulangi
kawan, hukuman yang mereka khawatirkan jika telat bergabung dalam shalat
berjamaah adalah tidak mendapat tempat shalat di shaff pertama.
Aku
pun terpaksa shalat di koridor selatan masjid, siku-ku sangat dekat dengan
tembok pembatas, karena jamaah mencoba mengisi setiap millimeter ruang
yang ada dengan baik. Sebuah kebiasaan yang ditempa di masjid kampus ku,
teringat saat masih kuliah dulu, imam masjid tidak mau memulai jika shaff tidak
kunjung rapat.
“rapatkan
shaff shalat, ujung kelingking menempel kelingking sebelahnya dan pundak
menempel pundak. Pastikan shaff rata dan lurus. Sebaik-baik nya shaff untuk
pria adalah shaff pertama, sebaik-baiknya shaff untuk perempuan adalah shaff
yang paling belakang. Penuhi dahulu shaff terdepan, pastikan tidak ada celah
yang ada, shaff selanjutnya dimulai dari tengah. Rapatkan dan luruskan”
Kata-kata
rutin yang senantiasa di ulang, dan tanpa sadar aku pun melakukan hal yang sama
jika menjadi imam shalat.
Shalat
pun dimulai, hening, tenang, tidak ada suara pedagang, tidak ada klakson mobil
atau motor, yang ada hanya kicauan burung dan hembusan angin yang membuat
sengatan matahari tak terasa pedihnya. Sesekali aku mendengar hentakan kaki
pria dewasa yang tergesa-gesa bergabung dalam jamaah; sial aku telat,
mungkin itu kata-kata yang ia ucapkan dalam hati, meratapi dirinya yang gagal
mendapat shaff pertama.
“Assalamualaikum
warahmatullah” imam mengakhiri shalat dengan salam yang menggetarkan hati,
terasa dalam suaranya ia enggan berhenti dari suatu momen untuk berkomunikasi
dengan Rabb. Zikir dan do’a aku lantunkan dalam hati setelah salam ku,
seperti biasa aku menutup mataku dalam do’a setelah shalat. Tidak melihat
situasi sekitar. Sekitar 5 menit lamanya aku mencoba mencurahkan isi hati ku
pada Allah, mengucapkan syukur karena diizinkan kembali ke kampus ini, tempat
aku belajar dan mengenal dakwah Islam.
“Alhamdulillah”,
kalimat tahmid ini menutup do’aku seraya membuka kelopak mata dan
bergegas mengambil kacamata. Kulihat kanan dan kiri, dan lagi-lagi aku terkejut
dengan pemandangan yang aku lihat lagi saat ini, koridor masih penuh jamaah,
hanya sebagian yang telah meninggalkan masjid, dan kulihat di shaff belakang
ada rombongan jamaah kedua yang menjalankan shalat, aku yakin mereka
bukan telat datang, akan tetapi kapasitas masjid yang terbatas memaksa mereka
harus shalat di kloter kedua ( istilah yang kami buat saat masih
mahasiswa ).
Aku
melihat kedepan, seorang lelaki berkaus kerah warna putih, dan dipadu dengan
jeans biru serta mengenakan gelang karet sedang membaca Qur’an dengan baik. Di
belakangku, tampak mahasiwa high class, yang bisa aku di identifikasikan
dari kemeja hitam versacce dan celana coklat tua bermerek arbercrombie,
ia sedang sibuk membaca Qur’an melalui layar PDA nya, tipe HP iPaQ seri
terbaru, aku mentaksir harganya mencapai 8 juta saat ini.
Diseberang
sana, di dalam ruang utama, ada 2 orang bercelana bahan hitam dan di padu
dengan kemeja, serta berjenggot tipis, kader dakwah ini pastinya , aku
tersenyum dalam hati. Mereka sedang mengecek hafalan Qur’an satu sama lain.
Indahnya
kawan, sangat indah, tiba-tiba aku masuk dalam ruang fantasiku, aku
membayangkan, bukan, aku menjadi teringat diriku sendirian di ruang utama
masjid kampusku, tak banyak orang saat itu, aku mati-matian menghafal an-naba
sendirian, karena malamnya aku harus menyetornya ke murrobi ku, kejadian
itu tingkat satu kalau tidak salah, atau ketika tingkat 2, aku bersandar di
dinding masjid yang tanpa pilar ini, sendirian ( lagi-lagi ) mencoba menghafal al
muzzamil , teringat hari itu hujan lebat, menghafal al muzzamil dalam
keadaan hujan menjadi romantika tersendiri bagi diriku.
Allahu
akbar yaa Al Aziz, lantutan ayat-ayat mu saling sahut menyahut,
saling di lantunkan di masjid ini, di masjid kampus yang akan mencetak banyak
sekali pejuang-pejuang peradaban masa depan.
Aku
beranjak setelah membaca mushaf ku sekitar 4 halaman, kebiasaan yang
sejak kuliah aku coba bangun. Pukul 12.30 saat itu, aku beranjak mengambil
sepatu ku, dan berjalan menuju gerbang kampus, dan melihat time planning ku
di PDA ku, ;
12.45
; bertemu ketua prodi planologi ( labtek IX A planologi )
16.00
; afternoon coffee meet with presiden mahasiswa ( campus centre )
19.30
; bertemu aktifis dakwah kampus / sarasehan and dinner ( masjid kampus )
Tiga
agenda ini akan mengisi hariku di kampus penuh kenangan dan romantika hidup
yang tak tergantikan.
Langkah
ku menuju gerbang utama kampus disambut dengan baliho besar kegiatan-kegiatan
mahasiswa. Tiga baliho di sebelah kanan dan empat baliho di sebelah kiri
gerbang utama. Tertera di sana beberapa kegiatan; symposium energy nasional,
student entrepreneur expo, kolaborasi seni nusantara, bakti desa : sebuah
kontribusi kecil untuk bangsa, penyambutan mahasiswa baru oleh lembaga
dakwah kampus, Training ESQ , dan sebuah pengumuman resmi dari rektorat.
Kupandangi satu per satu baliho megah ini. lagi-lagi terlintas memori
mendirikan baliho ditengah hujan dengan bambu yang seadanya dan alat
seperlunya.
Sambil
berjalan aku mendengar percakapan mahasiswa mahasiswi yang berpapasan denganku
;
“alhamdulillah,
UTS ku dapat 95” ucap seorang mahasiswa tingkat 1
“Besok
Quiz, aku harus shalat tahajud mala mini” bisik seorang mahasiswi ke sahabatnya
“waa,
barokallah, senangnya ya sidang lulus” di iringi senyum menawan yang ikhlas
dari seorang mahasiswi
“nanti
malam mentoring jam berapa ?” Tanya seorang mahasiswa kepada temannya
“eh
katanya besok sabtu ada mabit yah di masjid kampus” seorang mahasiswa sedang
menelpon temannya
“assalamualaikum
ukhti, gimana tilawahnya hari ini?” dua orang mahasiswi berjilbab saling bersalaman
dan saling menyapa ramah
“bro,
udah hafal juz 30 belum ? pekan depan harus setoran nih” seorang mahasiswa
memotivasi sahabatnya
Lagi-lagi
termenung dalam langkah, gila ini kampus, macem pesantren aja pembicaraannya. Tidak ada
gossip, tidak ada cacian ke dosen, tidak ada pembicaraan tidak berbobot, tidak
ada kata-kata kotor dan tidak ada raut muka jarang shalat rupanya.
Aku
tersenyum dalam perjalanan ku, mengucap rasa syukur yang mendalam kepada Allah;
ya Rabb, sungguh indah janjiMu, terima kasih atas pertolongan yang Engkau
berikan kepada kampusku ini.
Aku
terus melangkah ke dalam kampus, langkah pelan namun pasti sambil mengamati
perubahan demi perubahan yang terjadi selama 10 tahun ini. tiba-tiba pundakku
di tabrak seorang mahasiswa yang sedang mendengarkan music melalui iPod dan tak
sengaja terlepas earphone nya, , lalu terdengarlah lantutan Qur’an dari
iPod mahasiswa itu.”punten mas, maaf, saya sedang menghafal musik yang saya
dengar” begitu kata mahasiswa tersebut dengan rendah hati. Dalam hati aku
menjawab, musik atau ayat Qur’an mas !. Kawan, jika kamu melihat
mahasiswa yang menabrakku ku tadi, pasti kamu tak akan menyangka pria ini
sedang menghafal Qur’an, tidak tampak dari nya sosok aktifis dakwah yang selama
ini kita kenal dan gemar menghafal Qur’an. Dan aku berkata kembali dalam hati, subhanallah,
kalau mahasiswa biasanya aja menghafal Qur’an bagaimana para kader dakwahnya,
pada hafidz mungkin yah?.
Gerombolan
muslimah berjilbab dan yang berjilbab aku lihat di sebelah kiri pandanganku,
mereka berjalan bersama dan saling bercerita bahagia satu sama lain, sepertinya
para muslimah berjilbab sudah bisa merangkul para muslimah yang belum
berjilbab. Dalam gerombolah itu tampak, perempuan potongan hongkong, seorang
lagi dengan rok serta atasan kemeja dengan rambut yang tampak sehabis di re-bonding,
seorang lagi perempuan tomboy, aku bisa mengenalinya karena rambutnya yang
seperti cowo, dan seorang lagi perempuan berpakaian seadanya,
tapi ia tampak paling antusias mendengar kawannya yang berjilbab lebar
bercerita.
Di
sekitar lapangan tengah kampus, aku melihat sekitar delapan kelompok mentoring
sedang duduk melingkar di bawah angin sepoi-sepoi dan daun yang berguguran. Ada
kelompok yang tampaknya memiliki mentor yang sangat semangat, aku tertawa
melihatnya, anggota kelompok mentoringnya tampak serius memperhatikan sang
mentor bercerita. Di sisi lain ada kelompok yang tenang, dan ditengah nya
tersedia brownies kukus bandung sebagai pengikat mentoring mereka, disisi lain,
ada kelompok yang sedang mengadakan simulasi, cukup heboh kelompok yang satu
ini, anak SR kutaksir sepertinya.
Di
lain sudut ada kelompok muslimah yang menjalankan mentoring, tampak teteh yang
lembut sedang memberikan nasehat kepada anggota mentoringnya. Tidak ada satupun
darinya yang mengenakan jilbab, hanya teteh nya saja.
Aiih,
sungguh indah pemandangan ini, apalagi jika kawan perhatikan apa yang saya
lihat, beberapa mahasiswa duduk-duduk di bangku taman sambil membaca Al Qur’an,
sebagian membaca buku dengan serius, ada pula yang tiduran di bangku taman
sambil murajaah hafalannya. Serta ada sebagian lain yang berdiskusi
serius satu sama lain.
Hingga
tibalah aku ke gedung perkuliahan ku yang dulu, rupanya masih sama, bangunan
enam lantai berbentuk landmark Jawa Barat, Tangkuban Parahu. Sebelum
menaiki lift menuju ruang kepala program studi, aku mengintip ruang kuliah yang
berada tepat di depan lift, ruang kuliah berkapasitas 100 orang itu tampak sama
dari segi fisik, tapi aku merasakan ada hal yang beda saat itu, aku mencoba
berpikir, kawan, apa yang beda ?
Ternyata
memang beda, mahasiswa dan mahasiswi tidak lagi duduk bercampur, mereka
terpisah oleh jarak sekitar satu bangku, mahasiswa di sebelah kanan dan
mahasiswi di sebelah kiri. Mereka semua sibuk mencatat dengan menggunakan laptop
yang mereka miliki, memperhatikan dosen yang dengan semangat menjelaskan
bagaimana politik dapat mempengaruhi perencanaan suatu wilayah.
Tampak
oleh ku, papan tulis itu dihiasi dengan lafadz basmallah di bagian
atas tengah. Sesekali sang dosen mengaitkan apa yang ia sampaikan dengan ayat
yang adi Al Qur’an. “perencanaan ini adalah sebuah keharusan bagi sebuah
negara, walau ada ilmuwan yang berpandangan, doing nothing is planning, tapi
Allah pernah berfirman dalam Ar Rdbu ayat 11 bahwa Ia tidak akan mengubah
keadaan sebuah kaum kecuali kaum itu berusaha untuk mengubahnya,. Jadi jika
perencanaan itu tidak dilakukan, maka sama saja kita anti perubahan” begitulah
ungkap dosen tersebut dengan intonasi yang membuat setiap orang
memperhatikannya, dan membuat jentik jemari kita siap siaga untuk mencatat
setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
Aku
melihat ke ujung lorong gedung ini, kuingat bahwa di situ ada secretariat
himpunan mahasiswa program studi ku, kucoba menghampiri dengan rasa ingin tahu,
perubahan apa yang telah terjadi.
Mading
ucapan ulang tahun masih sama seperti dulu, aku membaca salah satu pesan yang
ada di madding ucapan ulang tahun itu, aku terbelalak melihat kata-kata ucapan
yang ada.
“selamat
milad, semga semakin dekat dengan Allah”
“met
ulang tahun yah ! semoga semakin dewasa dan bertambah ketaqwaannya”
“happy
b’day my bro, people love you my man, and hope Allah also love you too”
“met
lamet kk, sukses dunia dan akhirat”
Hmhm…
tersenyum sendiri diriku membacanya, lalu, di samping madding selamat ulang
tahun ada madding lagi, disana di tuliskan kata-kata bijak yang membuat orang
yang membacanya tergugah dan termotivasi. Kata-kata dari hadits Rasul, potongan
ayat atau sajak arab kuno, dan ada pula quotes dari orang hebat, Donald
trump,bung hatta, dan barrack obama tertulis disana. Aku meyakinkan diri bahwa
pesan kata bijak ini member nilai tersendiri bagi mading ini.
Memasuki
ruang himpunan, aku mendengar seseorang sedang melantunkan Al Qur’an, kulihat
sekeliling, ada yang sedang mengerjakan tugas, ada yang sedang rapat
kaderisasi. Aku mendengar bahwa mereka sedang menyusun kurikulum mentoring
agama untuk di masukan dalam sistem kaderisasi mahasiswa baru. Bahkan, taukah
kamu kawan, ada seorang peserta rapat menyeletuk, “gimana kalau kita buat
standar ibadah harian untuk para peserta kaderisasi yang muslim”.
Tak
berlama-lama aku mengabiskan waktu di himpunan, sudah pukul 12.45, aku harus
bergegas ke ruang ketua program studi. Setiba aku ke ruang ketua program studi
aku disambut bak anak yang kembali dari perantauan. Kita berbicara sejenak
mengenai disertasi S-3 ku yang mendapat hasil sangat memuaskan.”sudah bapak
bilang, mahasiswa Indonesia itu cerdas-cerdas, sungguh kamu buat bapak bangga,
rekan saya di sana memuji habis teori kamu tentang integras pengelolaan kawasan
pesisir, sungguh orisinal”. Pembicaraan berlanjut tentang kondisi keislaman
kampus, beliau lagi-lagi berkata “saya juga sangat senang dengan kondisi Islam
di kampus sekarang ini, para aktifis dakwah nya adalah yang terbaik secara
akademik di kelas, hampir seluruh asisten praktikum di isi oleh orang-orang
masjid itu, dan mereka juga cerdas. Tingkat mencontek di kelas turun drastis,
mahasiswa menunjukkan hormatnya pada dosen, dan proses triple loop learning berjalan
dengan baik”
Pembicaraan
kami semakin menarik dan tak terasa sudah pukul 15.00, saya pun berpamitan
dengan beliau, dan beliau pun juga harus mengajar pukul 15.30. “sekarang jadwal
kuliah tidak boleh berbentrokan dengan jadwal shalat, ini kebijakan rektor
baru” dalam hati aku berkata kembali, seperti nya pak rector sudah berafiliasi
kepada Islam.
Aku
kembali ke masjid kampus, dan melihat mahasiswa berjalan cepat menuju masjid,
sangat banyak jumlahnya, seperti jamaah haji yang hendak melempar jumrah.
Aku pun shalat ashar, dan setelah itu aku menuju campus centre.
Aku
sengaja tiba lebih awak 15 menit dari waktu yang dijanjikan karena ingin
bernostalgia dengan campus centre, maklum sewaktu tingkat empat, aku bersama
teman teman di badan eksekutif mahasiswa memperjuangan campus centre agar
menjadi student centre secara fungsional, dan sepertinya cita-cita itu bisa aku
lihat terwujud saat ini.
Duduk
aku sendiri di anak tangga campus centre, lagi-lagi aku memperhatikan tingkah
laku mahasiswa yang ada disana. Ada kumpulan mahasiswa sedang rapat dalam
bentuk melingkar, akan tetapi ada batas antara pria dan wanita. Aku melihat
sepasang mahasiswa dan mahasiswi yang berpapasan, mereka saling menyapa tapi
tidak bersentuhan satu sama lain. Sepertinya budaya salaman berlawanan jenis
sudah tidak popular lagi.
Di
seberang sana, juga ada kelompok mahasiswa yang sedang mentoring, sepertinya
sang mentor sedang mengajarkan cara membaca Al Qur’an yang baik kepada para
peserta mentoring. Lapangan basket pun tampak ramai, ada yang berubah kawan,
bukan lapangannya, tapi para pemain basket mengenakan celana di bawah lutut,
bukan celana panjang memang, tapi aku yakin aurat mereka telah tertutup.
Tak
lama kemudian, sang presiden mahasiswa datang, “kak yusuf” ia menyapa. “Ya,
saya presiden mahasiswa kak,” ia melanjutkan kalimatnya diiringi salam yang
hangat dari beliau. Saya memperhatikan anak ini, pakaiannya casual,
paduan celana jeans dan kemeja putih lengan panjang, aku menilik ke dalam
saku kemejanya, ada mushaf kecil di dalamnya. Subhanallah, presiden
mahasiswa kampusku seorang yang dekat dengan Qur’an. Kami pun berbicara tentang
berbagai hal, dimulai dari kenalan singkat, pembicaraan mengenai kisah
mahasiswa dan perjuangannya masa lalu, dilanjutkan dengan kondisi saat ini, dan
pada bagian ini ia bercerita dengan semangat.
“kampus
ini sekarang bisa dikatakan tiada hari tanpa ta’lim, ya karena hampir
setiap hari ada lembaga dakwah program studi yang mengadakan ta’lim. Mahasiswa
pun sudah menyadari perannya dan kapasitasnya dalam kontribusi kepada
masyarakat. Saat ini Indonesia bisa merasakan manfaat kemahasiswaan
dengan nyata” ia bercerita dengan bangga dan menggebu-gebu. Aku pun terbawa
oleh arus kisahnya itu, sangat membanggakan memang.
“mahasiswa
pun sudah tersadari bahwa Agama adalah suatu yang integral dengan kehidupan
sehari-hari. Para ketua himpunan dan unit saat ini pun juga mempunyai ta’lim
khusus untuk mereka, isinya di sesuaikan dengan kebutuhan mereka sebagai
pemimpin”. Sepertinya lembaga dakwah kampus sudah berhasil menanamkan nilai
Islam dengan baik. Pembicaraan kami akhirnya masuk ke inti pembahasan, yakni ia
meminta saya untuk mengisi di sebuah acara diklat aktifis kampus yang akan di
selenggarakan satu bulan lagi.
Magrib
pun tiba, masjid kampus menjadi tempatku berteduh kembali, setelah ibadah
magrib, aku berencana menghabiskan target tilawah ku yang ku targetkan 2
juz satu hari, tinggal 6 halaman lagi, bisalah 10 menit selesai. Ternyata
aku tak sendirian membaca Al Qur’an saat itu. Mahasiswa sepertinya
mengalokasikan waktu diantara magrib dan isya untuk memaksimalkan interaksi
dengan Qur’an, kebanyakan dari mereka tilawah dan murajaah. Tidak
banyak yang meninggalkan masjid untuk makan malam atau pulang ke kost. Mereka
benar-benar telah memilih untuk mengisi waktu diantara shalat ini untuk mengisi
kembali semangat mereka dalam beraktifitas dengan cara yang sangat mulia,
berinteraksi dengan Qur’an.
Isya
berkumandang, aku pun shalat berjamaah kembali, sungguh nikmat hari ku ini.
setelah sekian lama berkelana demi gelar Ph.D aku akhirnya bisa merasakan
Shalat berjamaah empat kali di kampus ku, dengan bacaan imam yang panjang nan
merdu, membuat para jamaah hanyut dalam do’a dan komunikasi kepada
Allah. Seperti sendiri di padang pasir, tak ada yang melihat, hanya aku
dan Rabb ku, sangat terasa menggetarkan hati setiap untaian ayat yang diucapkan
imam.
Fabi
ayyiaa laa irabbikumaa tukadzibaan, lantutan Ar Rahman ini membuat separuh
jamaah menangis, aku rasa mereka mahfum terhadap makna dari ayat ini.
Shalat Isya pun usai, dan aku mempersiapkan diri untuk janjiku yang terakhir
hari ini.
Tak
lama setelah shalat rawatib , pundakku ditepuk dari belakang, “akh yusuf,
bagaimana kabarnya, pertemuan kita di sekre saja kak, teman-teman sudah
menunggu disana” kami pun berangkulan seakan kawan lama yang bertemu kembali,
lalu bersama menuju sekre. Sekre yang membesarkan namaku 10 tahun silam.
Aku
memasuki gedung kayu itu, sekre nya masih di lantai dua, Cuma saat ini tampak
lebih besar rapih. Aku masuk dan bersalaman dengan sekitar delapan
pengurus lembaga dakwah kampus lainnya. Aku mencoba melihat sekeliling, ada
beberapa piagam mengisi pelatihan, dan aku memperhatikan dengan seksama buku
dalam rak buku yang tersusun rapih, aku melihat buku-buku tulisanku dulu
tentang dakwah kampus masih di simpan dengan baik di rak itu. Romantika masa
lalu, aku pun teringat pada kawan-kawan seperjuangan ku di kampus, 3,5
tahun di lembaga dakwah kampus dan 1 tahun di badan eksekutif mahasiswa membuat
aku memiliki cukup modal untuk berjuang melewati dunia nyata.
Pertemuan
malam itu dengan kawan-kawan dari lembaga dakwah kampus adalah sebuah kenangan
tersendiri bagi hidupku kawan, aku seakan 10 tahun lebih muda, aku seakan
memasuki suatu dunia khayal baru, ketika mereka menceritakan kesuksesan mereka.
Rencana besar mereka yang akan menjadi tuan rumah international Islamic student
conference tahun depan, lalu mereka memperlihatkan suatu sistem memuat controlling
600 kelompok mentoring di kampus , mereka juga denga bahagia
memperlihatkan dokumentasi acara mereka yang selalu di hadiri banyak mahasiswa.
Malam
itu sangat indah kawan, dan kalimat terakhir dari mereka sebagai ungkapan
perpisahan malam itu dan ucapan selamat datang kembali bagi saya.
“ahlan
wa sahlan Pak Yusuf, kami harap kita bisa membuat legenda dakwah kampus
bersama”
—————-
Ya
kawan, kita akan selalu berjuang bersama
Kita
akan buat legenda kita bersama
—————-
Ini
adalah mimpi ku kawan, bukan khayalan belaka tetapi sebuah cita-cita mulai.
Kawan,
apakah kamu bisa merasakan keindahan yang kurasakan ? rasakanlah kawanku,
rasakan keindahan ini…
honestly..this is perfect !!!
ReplyDeleteKeep Going !!!
Ya Allaah.. have you read all of my posted? -__-
Delete