Menang Dari Hujan (Part1)
MENANG
DARI HUJAN
HUJAN kali ini nyaris menghalangi derap
langkah perjuangan, perjuangan di jalan yang akan selalu ditempuh walaupun
hujan badai menghadang. Titik kecilnya mulai menetes bagai mutiara kecil yang
menggelinding dari cangkangnya. Tetesan itu mulai menghadirkan butiran
kebimbangan untuk melangkah. Entah mengapa keraguan itu muncul, seharusnya kata
‘bisa’ akan terlontar dengan baik, ya kita bisa sampai disana sebelum mutiara
tadi menjadi pasir. (satu mutiara dikonversi menjadi 200 gram pasir J)
TIDAK semudah dua kali dua empat, untuk setan
menghalangi niat perjuangan ini. Sepertinya dia harus bekerja keras untuk itu.
Ku perbaiki jilbab, pastikan pergelangan tangan, dan sentuhan terakhir kaus
kaki pink kesayanganku. Melangkah dengan pasti meraih gagang pintu dan meluncur
menuju jalanan yang masih seperti hari-hari biasa, menebar gas CO yang tidak
baik untuk kesehatan, merusak lapisan ozon, efek rumah kaca, global warming,
dan pastinya sangat tidak aku suka sejak mengetahui bahwasanya CO itu lebih bebahaya
dari temannya, CO2, ternyata lapisan ozon itu penting sekali untuk
melindungi kita dari sinar UV, dan sesungguhnya global warming itu ancaman luar
biasa bagi kelangsungan hidup manusia di dunia ini. Aku jadi ngeri sendiri
dengan fikiran sok filosofis ini.
LIHAT kiri pastikan kanan dan sebrangi, itu
motto hidupku sejak pindah ke kos baru ini. Karena kekurangmahiran dalam hal
menyeberang, jadi aku harus mulai semuanya dengan niat dan tekad yang kuat,
kalau tidak, masuk pukul 07.00, aku sampai di kampus waktu dhuhapun sudah
berakhir (dikalkulasikan dengan menunggu mobil dan motor kosong di jalanan
setelah itu baru menyeberang, menunggu angkutan umum, ternyata tidak ada,
memutuskan untuk jalan kaki ke kampus, dan sebelum sampai di gerbang mampir
dulu di warung untuk membeli coklat,, silakan di estimasi jarak dan
kecepatannya dalam Satuan Internasional).
TEEEET.. Klakson mobil hijau agak kekuningan
dengan pintu belakang terbuka, dihiasi deretan kursi yang sebenarnya sudah
berubah dari susunan aslinya dan ditambah alunan music dangdut yang agak
sedikit mengganggu telinga berhenti tepat di depanku. Tanpa basa-basi ala orang
sumatera, aku langsung menaiki mobil pascabayar itu, dan mengambil tempat
strategis seperti biasa. Menunggu beberapa menit, mobil indah itu berhenti
tepat di depan fakultasku, turun lewat pintu, bayar 2000 rupiah, dan cau
langsung menuju kumpulan orang-orang yang selalu aku rindukan, yang aku tidak
pernah sekalipun ingin untuk keluar dari lingkaran itu, tidak ingin terasingkan
dari kelompok makhluk yang selalu berusaha memperbaiki diri, sungguh, sumpah
demi apa J.
HARI ini, acaranya di sebuah Masjid yang
sangat terkenal di kota ini, dan merupakan masjid favoritku setelah beberapa
masjid yang ada dalam list masjid yang aku selalu ingin sholat disana. Berharap
beberapa orang sudah berkumpul di tempat yang dijanjikan sebelum berangkat ke
masjid tersebut, tapi disana aku tidak menemukan siapa-siapa, kecuali sesosok
kakak yang sangat luar biasa yang pernah ada dalam peradaban dunia ini, yang
rela memberikan jiwa, harta, impiannya demi jalan ini, jalan yang sangat
diyakini beliau pasti jalan yang benar. Beliau adalah kakakku, dan aku sangat
ingin menjadi adiknya seutuhnya.
AKU berhenti sejenak pada anak tangga
kesekian itu, berhenti karena capek dan juga berhenti untuk menatap dan
memastikan lantai yang luas itu hanya diduduki oleh satu orang saja. Ada rasa
kecewa pasti, tapi yang paling menonjol adalah kesedihan. Karena aku sangat
ingin bertemu mereka, untuk menggali ilmu demi perbaikan diri kearah yang lebih
baik lagi, tapi mereka tidak ada disini. Tapi tidak apa-apa, mereka tidak ada
juga karena ada sesuatu yang urgent. Selang beberapa menit tiga orang dari
makhluk-makhluk yang selalu aku rindukan itu menampakan pesonanya. Setelah
tilawah empat lembar, dibumbui dengan musyawah untuk mencapai kesepakatan, kami
mendapat suatu keputusan secara aklamasi (ciieeh), yaitu sore itu kami akan ke
salah satu took buku terkenal di kota ini, dengan inisial GRAMEDIA.
GRAMEDIA. Itu bukan tempat yang dekat dari
KOTA tempat kami kuliah, karena harus mengusahakan 30 menit dengan motor, atau
kalau mau memanfaatkan angkutan umum, bisa mencapai 1 jam lebih, silakan
dikalkulasikan dengan kecepatan dan percepatannya J. Bersedia, siap yak.. (bukan lomba lari
hehe), dengan otomatis kami bersiap di motor untuk berangkat, dan tiba-tiba aku
merasakan rintik hujan menetes perlahan, menepis lembut butiran kabut
dinding-dinding kaca dan meronta..
***
“Ma, udah dong, aku mau berangkat ni..”
teriakan Bita dari ruang tamu yang memecah kebuntuan Mamanya di dapur (untung
saja tidak memecahkan piring-piring di lemari)
“Iya, sayang, mama nyiapin bekal kamu ini.
Mama kan ga mau kalau kamu tiba-tiba dibopong karena pingsan di toilet pas
istirahat nanti, kasihan teman-teman kamu”
“yah mama.. ayoookk..” Tsabita merengek
manja.
“Taraaa..” Mamanya bersorak girang.
“Aku kan Bita, Ma.. bukan Tara..” sambungan
manja yang masih bersisa.
“Ah, iya sayang, udah deh, nanti mama
mentionin aja penjelasannya, sekarang kamu sekolah dulu ya, nanti terlambat”
Mamanya berkata lembut menenangkan dengan senyuman dua sentimeter ke kiri dan
satu setengah sentimeter ke kanan (silakan direkayasa bentuknyaJ)
“Siap, Mama sayang” Tsabita meletakkan
tangannya di kepala ala hormat ke bendera.
“Oke sayang, salam dulu sini”
“Assalamu’alaikum, Mama sayang.. Tsabita
sayang mama karena Alloh juga sayang mama.. J” tersenyum manis dengan mata dilentikkan.
“’Alaikumus salam warohmatullohi
wabarokaatuh, sayang mama.. Mama juga sayang sama kamu, bidadariku sayang” mata
mama agak berkaca-kaca.
“Daa mama.. I love you.. mmuuah” sambil
mengambil sepedanya di garasi.
“Iya sayang, hati-hati. Belajar yang rajin ya
nak..” sambil melambai-lambaikan tangan.
TSABITA menengadah menatap langit bersyukur takzim
dengan bismillah di dalam hati sebelum mengayuh sepedanya dengan kecepatan 120
km/jam dan diperkirakan pada jam 06.47 WIB, dengan gaya gravitasi bumi tetap
9,8 m/s2. Seandainya ada hambatan di jalan, Tsabita masih bisa
merayu bapak satpam untuk membukakan gerbang sekolah tanpa sogokan apapun.
Biasanya faktor-faktor penyebab kelirunya estimasi tadi bermacam-macam,
kadang-kadang Tsabita liat bunga layu di jalanan, lalu turun dari sepedanya,
dan langsung menyiram dengan air yang di siapkan mamanya tadi pagi, atau malah
tiba-tiba saja dia ingin makan bekalnya, dan membuka sepatunya lalu duduk manis
diatas bangku di pinggir jalan di bawah pohon rambutan yang lagi rame-rame
buahnya, dan dengan rasa tidak berdosa Tsabita mencoba untuk memanjat pohon
rambutan yang tidak berdosa itu. Setelah itu tanpa rasa takut dan sedih dia
melanjutkan perjalanannya menuju sekolah tercinta.
TEPAT pukul 06.54 WIB Tsabita melewati pos
satpam, dan tersenyum simpul melihat kearah pak satpam yang sedang khusyu’
melototin papan catur yang belum tersusun dengan baik, sepertinya beliau ingin
bermain catur melawan diri sendiri, karena jihad yang paling susah itu adalah
jihad melawan diri sendiri, Tsabita teringat ceramah ustad di radio kemarin. Tanpa
memperdulikan pak satpam yang lagi bengong tadi, Tsabita melaju indah menuju
parkiran, dan memilih tempat paling strategis untuk menidurkan sepeda yang
comel mengalahkan dirinya itu. Seremoni pemarkiran selesai dengan keputusan
memarkir si comel di sebelah barat daya musholla, dekat dengan kelasnya dan
jauh dari kantin dengan berbagai pertimbangan.
BITA melangkah pasti menuju kelasnya, 2A
tertulis di atas pintu sekitar 5 cm dari ujung pintu kelas mereka. Terlihat
anak-anak dengan perawakan menarik, rambut di kuncir dua, pita warna-warni di
kepala, membuat Tsabita juga ingin menampakkan pesonanya, dia masuk dengan
menggerai rambutnya yang sebahu ala model video klip artis-artis papan atas
yang ternyata disampingnya ada kipas angin dengan diameter 15 cm. memakai gaun
indah, dan high heels 15 cm, lamunan Tsabita seketika buyar, ketika dikagetkan
suara melengking milik Awa bergema di telinganya.
“Assalamu’alaikum Bita…J” mempraktikkan pelajaran di MDA sore
kemarin, yaitu memberi salam dan menebar senyuman, dari setengah jam yang lalu
Awa sudah berada di sekolah, dan dari setengah jam itu pula ia mengucapkan
salam kepada siapa saja yang ia temui, tepatnya ia kunjungi seraya menebar
senyuman yang tak selebar daun kelor itu.
SEJENAK Tsabita menetralisir keadaan
telinganya, takutnya cairan eustasius yang berfungsi menyeimbangkan telinga dan
mulut itu tergganggu, kalau-kalau nanti Tsabita gagu, kan ga lucu. Balon
khayalan itu buru-buru diledakkan.
“’Alaikumus salam, Awa… Happy birthday??”
Tsabita belagak sok bule.
“Hah??” yang ditanya bingung. “Bukan happy
birthday, Bita… Tapi How are you today…” Awa terpaksa harus menampakkan
kepintarannya di depan Tsabita.
“Iya itu dia yang aku maksud barusan, Aw..”
nyengir ga karuan.
SETELAH menyempurnakan ‘greeting’ pagi itu
dengan beberapa penghuni kelas yang sudah berdatangan, kedua sahabat karib itu
langsung mengambil posisi untuk ‘sepertinya’ membicarakan sesuatu yang urgent.
Seperti biasa, Tsabita mengambil posisi nomor dua dari depan, deretan ketiga
dari kiri, kursi sebelah kanan, dan Awa dengan senantiasa duduk di sebelahnya
tanpa rasa ragu dan bimbang kalau-kalau di bangku itu ada jebakan. Mereka lalau
terhanyut dalam dunia mereka, sampai mereka terselamatkan oleh Tim SAR… (oh
tidak tidak), percakapan itu terhenti seketika sesaat mendengar ucapan salam
yang khas dengan suara baritone 1 nya yang dinaikan satu nada.
“Assalamu’alaikum, anak-anak…” Pak Yusuf
melangkah pasti sembari melayangkan pandangan kesemua penjuru kelas. Mata-mata
mungil itu terpesona. Mata mereka tidak beranjak dari sosok yang berdiri di depan
kelas. Terpesona bukan karena Pak Yusuf adalah guru muda di sekolah itu,
tepatnya lebih muda dari Ibu kepala sekolah, bukan karena baju beliau hari ini
warna hijau yang sangat senang mata melihatnya jika dikombinasikan dengan kulit
putih, dan alis mata yang tebal, tapi pandangan mereka itu terpaku, melihat di
tangan Pak Yusuf bergelantungan buku yang begitu banyaknya, mereka tidak sempat
untuk menghitung, disamping tidak sempat, di kelas itu juga ada beberapa orang
yang belum bisa berhitung dengan baik dan benar. Ah iya itu adalah buku
pelajaran mereka hari ini, yaitu matematika. Hari ini materi pokoknya adalah
penjumlahan. (Oh tidak,, materi penjumlahan saja buku referensinya ada 12 buku
di hitung secara kasarnya, bagaimana dengan pelajaran spektroskopi massa ya..).
Tsabita rasanya pusing melihat buku sebegitu banyaknya, dia ingin melihat
langit saat itu juga, tapi apa daya, matanya tidak sampai untuk menembus keluar
kelas, karena dia hanya punya 5 indera. Andai saja dia punya indera ke enam,
atau minimal indera 5 tiga per empat lah… pasti dunia akan terasa jauh lebih
indah, terutama pada kesempitan seperti ini, dia bisa menggunakan kesempatan
untuk melayang keluar menatap langit yang penuh keindahan. Tsabita masih asyik
dengan lamunannya yang membahana.
“Jadi, berapa 2+15+4 berapa Bita??” suara Pak
Yusuf meletuskan balon khayalan Tsabita.
“hmm.. 21 ya Pak??” Tsabita menjawab dengan
nada pura-pura tidak yakin.
ITULAH Tsabita, seorang anak yang dilahirkan
dari keluarga biasa-biasa, tapi mempunyai kepribadian yang sangat luar biasa.
Bayangkan saja, dalam keadaan yang setengah focus saja, dia masih bisa menjawab
pertanyaan Pak Yusuf dengan benar. Sebagian guru malah sering mengatakan
Tsabita anak yang jenius. Penilaian itu bukan tidak beralasan. Pernah suatu kali,
dalam pelajaran bahasa Indonesia sebelumnya, Tsabita bertanya polos kepada Pak
Yusuf, kebetulan pelajaran hari itu membaca puisi, dan Tsabita tidak kebagian
membacakan salah satu dari 5 bait puisi yang berjudul Pak Po situ. Pada
kesempatan itu Tsabita mengangkat tangan satu per sekian detik dari bait
terakhir selesai dibacakan teman sekelasnya. Pak Yusuf mengira Tsabita akan
protes kenaapa dirinya tidak kebagian membacakan puisi tersebut.
“Ya, Tsabita??” Pak Yusuf mempersilakan
Tsabita yang sudah diduganya sedari tadi.
“Pak, Pak Po situ tugasnya mengantarkan surat
ya??”
“Iya, kan tadi sudah ada didalam puisinya”
jawab pak Yusuf mantap.
“Oo kalau begitu dulu pada saat Nabi Muhammad
menerima Al-Quran dari Allah, diantar pak pos juga ya pak??” Tsabita bertanya
polos.
Agak sedikit kaget dengan pertanyaan bocah
malang di depannya itu, pak Yusuf langsung menetralisir keadaan dengan
berdehem.
“ehm,, jadi begini Tsabita, Al-Quran itu di
turunkan blab la bla” pak Yusuf berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mungkin
akan bisa dicerna oleh anak-anak seumur Tsabita, kalau salah ngomong, bisa-bisa
pak Yusuf akan diteror ribuan pertanyaan dari kepala-kepala yang sudah haus
akan jus ilmu itu. Itulah sebabnya kenapa pak Yusuf membawa banyak buku
referensi setiap hari ke dalam kelas tersebut, karena bisa saja pertanyaan
untuk pelajaran pak pos tidak ada hubungannya dengan surat menyurat, atau
bahkan pelajaran matematika tidak ada hubungannya dengan angka, dan itu sangat
ditunggu-tunggu oleh bapak guru yang sangat berwibawa dan bersahabat dengan
anak-anak di sekolah tersebut. Dan masuk kelas ini adalah salah satu alasan
beliau ke sekolah setiap harinya.
***
DI GRAMEDIA, Bita dengan khusyu’ memilah dan
memilih Al-Quran dihadapannya. Padahal semua Al-Quran itu sama istimewanya,
sama indahnya dan sama manfaatnya. Tapi Tsabita memang lagi butuh memastikan
hatinya untuk mengambil Al-Quran yang hijau ini, tapi dia masih
dibayang-bayangi oleh Al-Quran berwarna cream disebelahnya. Akhirnya setelah
malaikat-malaikat hatinya bertengkar hebat, dia memutuskan untuk mengambil
Al-Quran yang berwarna hijau yang sangat ia inginkan dari tiga bulan yang lalu.
Tiga bulan lalu itu Bita sangat ingin menghafal salah satu surat yang paling
disukainya, dia mulai menghafal menggunakan Al-Quran yang diberikan kakak
tingkatnya satu tahun silam, tapi hafalannya jauh dari yang diharapkan, ini
ingat ini lupa. Dia berkesimpulan, tidak ada yang istimewa dari cara
penghafalan ini, akhirnya dia memutuskan untuk membeli Al-Quran hafalan. Nah,
kondisinya berbeda jika gramedia itu dekat dengan kampus, pastinya dia akan
membeli langsung setelah pelajaran Kimia Polimer hari ini berakhir, tapi tidak untuk kondisi gramedia
yang jaraknya dari kampusnya itu 30 puluh menit dengan menggunakan motor matic
yang diisi minyak full sebelum berangkat. Hari ini impian itu terwujud, tinggal
beberapa langkah lagi Al-Quran itu menjadi miliknya, ya beberapa langkah ke
kasir. Setelah membayar, dan tanpa diizinkan untuk bernegosiasi, gerombolan
perempuan-perempuan harapan bangsa dan agama itu memutuskan untuk kembali
pulang.
***
“Baik anak-anak, mari kita lanjutkan
penjumlahan kita”, pak Yusuf melanjutkan pelajaran yang agak tertunda karena
pertanyaan Tsabita tadi.
“Ya Paaak” jawab mereka serempak, kecuali
Tsabita yang masih bingung dengan perbedaan tukang pos dengan orang yang mengantarkan
Al-Quran kepada Nabi Muhammad. Dan tiba-tiba saja keinginannya seperti biasa
muncul, memandang langit dengan tangan di mulut. Dia ingin buru-buru keluar,
menyapa langit dan menyampaikan keraguannya kepada langit yang membentang.
Pak Yusuf mengetahui kekurangpuasan Tsabita,
tapi beliau dengan arif memutus masalah ini terlebih dahulu, karena tidak semua
anak-anak ini memiliki pemikiran sehebat itu. Pak Yusuf menghela nafas
tertahan, karena terkagetkan bunyi bel sekolah yang mencapai 200 dB. Dan pak
Yusufpun mengakhiri kelas hari ini dengan do’a seperti biasanya, salam dan
berlalu.
***
Comments
Post a Comment