Coretan Putri Matahari #Ketika Sketsa Wajahmu Masih Kuragui
Adalah aku yang selalu menatap kosong kanvas sudut kota
Adalah aku yang sudah memegang kuas perjalanan hati
Adalah aku yang telah membeli cat air beragam warna
Adalah aku yang sudah siap melukis sketsa wajahmu
Adalah aku. Ya aku
Aku terhenyak, mengapa tiba-tiba mataku kabur
Aku terkejut, mengapa untuk kesekian kalinya tanganku gemetar
Aku terlupa, terlupa membawa uang ke toko cat perempatan jalan
Aku, Aku yang seketika ragu tidak mengerti.
Aku yang. Ya aku.
Aku yang sedari dulu hanya memandangi mu dari sudut ini
Dari balik getir nya keraguan hatiku diterpa senyum dan sapamu
Aku yang tak mampu menatap wajahmu dengan kepastian
Bahkan ketika bersuara, aku menutup telinga hingga bersembunyi di ruang kedap suara yang tak bisa kau temui.
Lalu...
Aku berusaha mengingat-ingat raut wajahmu, tapi kau bukan anak hilang
Berusaha merangkai DNA setiap sendi tubuhmu, tapi kau bukan pelaku bom bunuh diri
Berusaha menunggu di depan televisi 22 inch, bahkan kau bukan artis papan atas
Lantas siapa kau sebenarnya?
Siapa?!
Jawab aku!!
Sergahku lirih menuntut jawaban dari kebodohan diri ini
Berharap akan ada yang akan menuntunmu untuk berdiri manis di sudut kota menanti kereta menuju stasiun
Berharap akan ada kekuatan yang menguatkan tanganku dalam genggamanmu
Berharap akan ada yang memberikan warna kesukaannya untuk segera kutuangkan
Dan aku sangat berharap kepada-Nya.
Agar mampu melihat sketsa rembulanku, walau hanya selintas mata
Karena setelah guratan itu nyata
Aku percaya. Ada satu janji Tuhan.
Janji Tuhan yang sungguh sangat hebat
Yang nilainya beribu kali tak terhingga dibandingkan menatap rembulan ciptaan-Nya.
Taukah kau?
Itulah janji menatap wajah-Nya.
Menatap wajah Allah tanpa tabir.
Tanpa pembatas.
Saat itu terjadi maka sungguh rembulan di semesta alam akan tenggelam.
Seluruh pesona dunia akan layu
****************************************
Well postingan kali ini untuk saudara, eh sahabat eh ga deng, kita jarang banget akur bahaha. Entah ini pokoknya untuk lo geng, dan mereka-mereka yang belum bisa memantapkan hati untuk memilih. Ya Allaah ampuni aku! :D
Oke lah ya, jadi gini karena kau yang akan memilih sendiri siapa yang akan menjadi ma'mum sholat malammu nanti. Maka semua pilihan ada di tanganmu. Pilihlah dengan merujuk berbagai reverensi. Yaa walaupun buku-buku dab teori itu sebagai pendukung putusan Yang Maha Hebat, tidak ada salahnya kau belajar, Nak. *eh serasa tua gue!
Jangan berpatokan kepada mereka yang sudah mendapatkan pendamping hidup yang menurutmu sangat sempurna, beuh ga ada manusia yang sempurna geng! Karena sempurna itu bukan pakaiannya makhluk. Ingat ya!
Emang sih kucing tetangga biasanya lebih hijau, eh lebih belang deh haha. Begitulah manusia yang banyak minta ini itu dan tidak pernah puas. Astaghfirulloh.. Istighfar lah agak tiga kali lagi~~
Biar kutuliskan lagi salah satu cerita bermakna di novel penulis favoritku
” Dulu pernah hidup dua pemahat hebat,, Mereka terkenal hingga diundang Raja berlomba di istananya. Mereka diberi sebuah ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan. Persis di tengah ruangan dibentangkan tirai kain. Sempurna membatasi, memisahkan sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat pemahat yang lain. Mereka diberikan waktu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing.
“Kau tahu apa yang terjadi? Pemahat pertama, memutuskan menggunakan seluruh pahat, alat-alat, dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membuat pahatan indah di tembok batunya. Dia juga menggunakan cat-cat warna, hiasan-hiasan, dan segalanya. Orang itu terus memahat berhari-hari, tidak mengenal lelah, hingga akhirnya menghasilkan pahatan yang luar biasa indah. Siapapun yang melihatnya sungguh tak akan bisa membantah betapa indah pahatan itu.
“Tirai kemudian dibuka, tercenganglah pemahat pertama. Meski dia sudah bekerja keras siang malam, persis di hadapannya, pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding lebih indah darinya. Berkilau indah. Berdesir si pemahat pertama. Berseru kepada Raja, dia akan menambah elok pahatannya! Berikan dia waktu! Dia akan mengalahkan pemahat kedua. Maka tirai ditutup lagi. Tanpa henti pemahat pertama mempercantik dinding bagiannya, berhari-hari. Hingga dia merasa saingannya tidak akan bisa membuat yang lebih indah dibandingkan miliknya.
” Tirai dibuka untuk kedua kalinya. Apa yang dilihat pemahat pertama? Sungguh dia terkesiap. Ternganga. Dinding disebelahnya lagi-lagi elok memesona. Dia berdesir tidak puas. Berteriak minta waktu tambahan lagi. Begitu saja seterusnya, hingga berkali-kali. Pemahat pertama terus meminta waktu tambahan, dan dia selalu saja merasa dinding batu miliknya kalah indah dibandingkan milik pemahat kedua.
“Tahukah kau, pemahat kedua sejatinya tidak melakukan apa pun terhadap dinding batunya. Dia hanya menghaluskan dinding itu secemerlang mungkin, membuat dinding itu berkilau bagai cermin.
Hanya itu.Sehingga setiap kali tirai dibuka, dia sempurna hanya memantulkan hasil pahatan pemahat pertama."
Nah dari cerita itu kau bisa simpulkan sendiri, bahwa mensyukuri apa yang sudah kau miliki adalah hal yang utama, termasuk untuk hal- hal yang belum kau miliki, tapi tertakdir untuk kau miliki.
Haha apasih gajelas inih.
Akan kuulangi, begitupun untuk hal-gal yang belum kau miliki tapi tertakdir untuk kau miliki.
Pertanyaamu tepat. Siapa dan bagaimana apa dan mengapa. Mungkin itu juga bagian dari pertanyaanku dan seluruh manusia dibumi ini.
Kau tau, setiap manusia di berikan kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal di hidup mereka.
Ada yang mendapatkan kesempatan itu dari buku-buku. Dari penjelasan orang-orang di sekitarnya. Dari apa-apa yang terukir di langit, tergurat di bumi atau yang tergantung di antaranya. Dari apa saja.
Banyak mereka yang tidak menyadari kalau penjelasan itu sudah datang.
Mungkin karena mereka terlalu di butakan oleh kehidupan itu sendiri. Mungkin karena mereka tidak pernah memiliki kemampuan untuk menggapai penjelasannya. Mungkin juga karena mereka terlalu berharap penjelasan itu datang dengan amat fantastis.
Dalam banyak hal, banyak kasus, penjelasan itu justru datang dengan sederhana.
Sesederhana kau menghadiri undangan walimahannya mungkin haha
Sampai jumpa, terimakasih sudah bagikan banyak kisah.
Semoga kata-kata 2 kalimat sebelum ini kau renungkan, geng!
Ps: sesegeranya memberitahuku, ketika kau sudah membaca ini. Ya walaupun aku lebih suka menerima kabar ketika kau sudah bisa melukis. Haha
Comments
Post a Comment