Coretan Putri Matahari #Sebulan [Mengabdi] Menjadi Ibu
"Segini repotnya apa Bu, punya anak?" Tanyaku selesai mandiin bocah-bocah ini.
"Haha..". Ibu yang ditanya malah jawab begitu.
Aku terdiam dan melanjutkan pemasangan pampers anak kecil yang dari tadi ribut bilang malu kalau hanya pakai handuk doang.
Masih kepikiran sih sama pertanyaan yang dijawab tawa ibu tadi, tapi sekarang redaksinya agak berubah.
"Begini repotnya menjadi seorang Ibu?".
Jawabannya adalah iya ;) *pakai smile dikit, biar keliatan ikhlas.
"Masih mau punya anak?" Pertanyaan beliau mengusik candaku dengan gadis manis dihadapanku ini.
"Haha, masih dong". Jawabku sekenanya sejenak menghentikan urusan anak kecil tadi.
Bahkan aku masih ingin tetap punya anak sebelum menikah. Tunggu jangan tersedak dulu, maksudnya aku ingin merawat anak sebelum melahirkan seorang anak, ya sebelum menikah. Anak-anak yang dibuang orang tuanya atau pun anak-anak terlantar yang butuh perhatian seorang ibu.
Gatau kenapa aku ingin sekali merawat anak-anak sebelum akhirnya merawat anak-anakku nanti. Pasti menyenangkan.
Semoga nanti ada rezeki. Haha!
Kalau misalnya anak yang dibuang orangtuanya, malahan sudah kupersiapkan nama, Az Zahra Hilmiya Lathifa atau Audyna Hilmiya Lathifa . Itu kalau perempuan ya, kalau laki-laki, masih dalam pencarian.
Well, cerita ini terlalu jauh ya. Padahal tadi hanya mau memperkenalkan anak-anakku selama sebulan ini.
Hai, ini Azyan. Lengkapnya Azyan Lana Fisyauqi. Arti namanya aja udah kebaper loh!. Yaa, di rumah ini hanya ada 2 orang perempuan yang akan menjadi pewaris keturunan Ibu dan Bapak. Uni dan Aku. Artinya cucu yang paling ditunggu-tunggu adalah anak uni dan.. dan ya itulah haha. Nah berhubung yang sudah menikah baru uni *mulai ga enak ini bahasan haha*, ya pasti keluarga sangat menunggu keturunan yang katanya akan melanjutkan garis silsilah keluarga ini.
Mungkin hampir setahun, keponakanku belum terlihat hilalnya. Tapi tidak ada doa yang tidak diijabah, hanya menunggu waktu yang sempurna. Ketika itu terjadi sirnalah segenap penantian *ini apasih haha*. Akhirnya lahirlah putra pertama dari uni, dan pemberian namanya disesuaikan dengan cerita diatas. Asbabun Nuzul eceknya haha. Jadi silakan tebak apa arti nama nya ya gaes!
Sebagai anak pertama, Zyan begitu ikhwan ini menyebut dirinya. Ia melakukan tugasnya dengan baik sebagai abang. Dalam usia delapan tahun ia sudah bisa mencontohkan bagaimana sholat yang baik, belajar dan gosok gigi dua kali sehari. Ia mengikuti langkahku dulu, menjadi dokter kecil di sekolah, walaupun tidak bercita-cita menjadi dokter.
Ia ingin menjadi TNI AU, agar nanti bisa terbang di udara bersama Ibuk, Ayah dan kedua adiknya.
Ia memainkan peran ini melebihi bijakku. Ia tidak akan pernah berpikir dua kali untuk memberikan mainannya untuk Adzkia yang menangis, tidak akan sungkan mengambilkan adiknya nasi makan siang, tidak akan merasa repot untuk menyapu rumah dan ragam hal yang ia lakukan diluar ekspektasi liarku. Aku mengagumi DNA yang diwarisinya. Sifat yang seperti ini yang mungkin tidak dipunyai oleh anak bungsu seperti ku dari awal perjalanan hidupku.
Ia anak yang pintar dan manpu mengerti maksud dengan baik, hanya saja memiliki kepribadian yang agak tertutup ini membuat ku khawatir. Ia memiliki hati yang lembut sesuai dengan wajah yang selalu mengguratkan kebaikan. Darinya aku belajar keteduhan. Begitulah Azyan, yang jika ditanya nama-nama temannya, tidak akan tersebut satu orang nama perempuan. Aku tidak tau kenapa seperti ini, yang pasti di setengah bagian hati ku merasa lega. Entahlah
Berbeda dengan adiknya. Anak kedua Uni ku juga seorang laki-laki. Namanya Arga Lana Fisyauqi. Dari namanya saja terlihat sesuatu yang agak rumit haha. Berbeda 165 derajat dengan abangnya, ia memiliki sifat yang lebih frontal, terutama dalam emosional. Ia tidak takut untuk memukul abangnya dengan sapu, atau meninju abangnya yang tengah bermain, atau melempari apa saja yang terjangkau olehnya. Ya Allah, aku tidak bisa bayangkan bagaimana emosionalnya ia dewasa nanti. Suatu ketika ia pernah menceritakan hasil penelitiannya kepadaku. "Jadi tek, anak kedua itu selalu ditakuti anak pertama". Ia menyampaikan dengan bangga. Melihat ekspresinya aku ingin tertawa, tapi mendengar yang disampaikannya aku hanya mengernyitkan dahi. Memahami kebingunganku ia melanjutkan, "Iya tek, kata angah, Adang takut sama angah. Jadi angah itu anak Ibu yg kedua, dan adang adalah anak pertama ibuku. Survey yang absurd batinku. Dan aku hanya tersenyum dan berusaha memikirkan jawaban apa yang harus kukatakan. Karena dikatakan atau tidak dikatakan tetaplah jawaban. *apasih
Dikesempatan lain aku juga dibuat tercengang oleh pengakuannya. Kalau boleh kusampaikan risetku disini, "Sesungguhnya anak kedua itu sering membuatku gila!". Bagaimana tidak, sekembali dari tanah Perjuangan, aku pulang ke ranah minang, membawa sisa-sisa tenaga dan harapan hidup yang masih tersisa. Menyelesaikan sekrip menyekrip itu membuatku tidak bisa memberikan hak tubuh, hak jiwa dan hak segala hak. Jadi tiba-tiba saja setelah kepulanganku beberapa hari, Arga nyeletuk yang membuat hatiku luluh lantak *beuh mau nyanyi*. Seketika dia bilang "Ndeh, Arga ndak mau kuliah do, Tek". Dengan logat ala Arganya. Aku kembali terdiam dan bertanya dengan rasa takut. "Kenapa, kok Arga gitu?".
"Iya Arga takut kuliah" katanya. Terang saja mungkin ada ketakutan mendalam baginya setelah melihat Eteknya pulang dari masa perkuliahan menjadi kurus, ceking, tak terusus, jelek deh pokoknya. Setelah ditelusuri ternyata itu alasannya. Ya Allaah.. Ampuni aiim ya Allaah pintaku. Disisi yang berbeda mungkin aku lebih dekat dengannya, karena kepribadian supelnya yang beda jauh dari Azyan. Bayangkan saja ketika Arga memilih main di luar bersama temannya, Azyan memilih belajar membaca iqro' di rumah. Dua kepribadian yang berbeda tentunya.
Dibalik sisi negatif yang kupaparkan karena emosi, Arga juga memiliki nilai positif, InsyaAllah. Cita-citanya mulia, yaitu ingin menjadi dokter. Setelah ditanya kenapa, dia akan selalu menjawab, biar bisa ngobatin abang kalau jatuh dari pesawat hahaha. Dengan tertawa membahana itu membuatku lebih serem membayangkan tertawanya dari pada jatuhnya pesawat. Hahaha. Terang saja aku bergidik, ya jangan didoakan jatuh dari pesawat lah.. Ampun lah Arga ni. Tapi begitulah adanya. Ia anak polos yang mampu mengekspresikan rasa tanpa diminta. Ia memang tempramental. Tapi setelah beberapa minggu diarahkan semoga bisa menjadi lebih baik. Dan ini hanya harapan seorang etek.
Dan yang terakhir. Adzkia. Dia selalu berharap nama lengkapnya Adzkia Lana Fisyauqi, tapi takdir berkehendak lain. Namanya adalah Adzkia Lana Amira, dan dia selalu ngotot untuk disamakan dengan abangnya.
Ia merupakan anak ketiga Uniku, aku belum berani mengatakan yang terakhir haha. Dan ini cucu perempuan pertama Ibuku. Beuh, bisa dibayangkan betapa merajai nya anak ini, eh meratu deh haha. Ia memang seolah bak putri di rumah ini. Ya memang karena ia merasa cucu emas yang ditunggu. Dan aku benci! Benci pada kenyataan ada yang menggantikan posisiku pada saat itu. Haha itu rasa manusiawi kali ya. Tapi itu dulu dan hanya sebentar. Sangat sebentar. Dulu juga Adzkia juga tidak menyukaiku. Entah karena apa, entah karena ia merasa ada yang tidak beres dengan perasaanku, aku tidak tau. Cerita itu sudah tertinggal setahun belakangan. Sekarang Adzkia dan aku adalah makhluk yang layaknya ikan kecil nempel di karang. Jadi bangun pagi ia pergi ke kamarku. Dan aku masih ogah-ogahan menyapanya. Ia memberikan sapaan khususnya. "Tek, foto kita". Gubrak. Innalillahi. Pagi itu entah apa yang sedang dipikirkannya haha. Jadi setiap pagi siang malam, kita menyempatkan foto bersama, dan sekarang kameraku sudah tidak bisa untuk.berfoto lagi, karena kepenuhan memori. Allahu akbar!
Berfoto saja tidak ada masalah denganku, tapi ada satu momen yang menyebabkan citra ku dirumah menjadi luntur tak terbendung. Waktu itu abang iparku sedang nonton bersama Arga dan azyan. Aku dan uni memasak di ruangan sebelah yang hanya disekat barhome. Dan dia tanpa rasa bersalah bilang sama ayahnya, "Yah foto kaya etek kita" sambil mengeluarkan lidahnya. Ya Allaah sejak kapan aku mengajarkan itu kepada bocah ini. Itu fitnah Fahri *eh haha. Terang saja itu fitnah, dari sekian ribu foto dengan momen berbeda kurasa tak ada dengan lidah keluar seperti itu. Pencemaran nama baik dan akan kita selesaikan di meja makan haha. Ada juga suatu siang, masih dikamar ku, karena tempat paling menyenangkan adalah kamar, maka begitulah. Ia melihat stiker bunga di dinding kamarku, kelepasan lemnya, jadi seperti layu, kemudian dengan bijak ia mengusulkan "Tek, kita siram bunganya, nanti mati. Haha Begitulah adzkia yang polos, yang kalau pup minta cuci sama eteknya, apa salahnya dengan neneknya gitu, yang menyita gadget ku tanpa ampun, membajak akun ku, mengetik apa saja yang terkadang membuatku bersyukur dengan ujian yang berat ini. Mau marah?? Haha tentu saja itu pilihan yang sulit. Pernah suatu ketika aku memarahinya, dengan wajah polosnya dia cuma bilang "Maaf eteeek sayaaang~~", Allaah bagaimana cara aku melanjutkan kemarahan ini. Haha
Begitulah, ia mewarisi hobby ku bernyanyi dan bercerita. Tapi aku tidak cerewet seperti bocah ini ya Allaah. Pastinya aku tidak semenyebalkan ini. Terkadang dengan cerita konyol nya itu seisi rumah jadi hiruk pikuk tak tentu arah tertawa terbahak-bahak. Tapi itu ceritanya tidak jelas. Setidak jelas tulisan ini. Haha
Hingga akhirnya~~
Aku tidak tau setelah besar nanti akan menjadi seperti apa mereka. Yang pasti mereka sudah mengantongi kepercayaan diri yang baik. Karena mereka tau, aku mempercayai mereka dengan baik. Mereka tidak akan berpikir etek mereka akan marah kalau mereka tidak sholat, karena mereka tau aku memberikan kepercayaan itu untuk mereka. Jadi masalah didikan yang seperti ini, Ibu, Uni dan aku memiliki pandangan yang berbeda. Nah ini akan memicu keributan yang bisa mengalahkan kebisingan MOTOGP kali haha.
Jadi kalau mereka sholat di dalam kamar, Ibu tidak percaya kalau sudah sholat, gitu aja terus.. Nah, aku rasa itu yang membuat mental anak-anak jadi rusak, bayangkan saja mereka tidak memiliki kepercayaan dari keluarga mereka. Mereka sholatpun tetap dibilang belum sholat, mending ga sholat beneran. Itulah jadinya pikiran mereka. Mungkin pemahamanku tentang ini juga banyak salahnya, tapi aku merasa bahwa anak-anak ini sangat layak untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari orang-orang disekitarnya. Sekarang, mau dikuncipun kamar, insyaAllaah mereka akan sholat, walaupun mungkin tidak sekhusyu' kalau diawasi Ibuk dan nenek mereka.
Mereka juga diajarkan arti luar biasanya memaafkan. Jadi gini ya gaes, di rumah ini ada 3 anak yang kepribadian absurd semua, ada yang suka marah menggila disenggol dikit, ada yang bisanya nangis aja, ada yang mau nya harus diikutin, ada yang pusing liatiiiin mereka. Huah itu gueh!! Itu guehh haha.
Jadi kalau mereka sedang bermain bertiga dalam kurun waktu 15 menit itu akan terjadi perkelahian yaang.. yang kalian ga pernah berpikir asal muasal itu masalah.
Dari situ aku mencoba untuk mengajarkan mereka arti kata memaafkan. Karena mereka harus tau, memaafkan itu bukan untuk kepentingan orang yang kita maafkan, tapi karena hati kita sendiri butuh kedamaian itu. Jadi pernah suatu ketika Azyan dan Arga bertengkar hebat, tidak ada yang bisa dibilangin, akhirnya satu-satunya cara adalah meminta Azyan untuk diam dan memaafkan adiknya. Oke dia ikut tapi tidak ikhlas. Dan Arga masih saja berontak. Selang beberapa menit, hatinya berdamai dan Azyan kembali main seperti sediakala. Luar biasa nya dimana? Ya disitu, orang yang memaafkan akan lebih merasakan ketenangan karena dia tidak akan merasa tidak enak lagi. Dan Arga? Ya dia masih merasa kalau abangnya akan marah. tentu rasa seperti itu yang ingin dihilangkan dari hati anak-anak yang seharusnya damai sesuai kodratnya.
Dan beberapa pelajaran penting lainnya, seperti indahnya berbagi. Tentu saja tidak harus berkoar-koar meminta mereka untuk memberi kue untuk adiknya atau memberikan eskrim mereka untukku, eh haha. Tentu saja perasaan terpaksa seperti itu akan berdampak kurang baik. Mencoba mengajarkan mereka dengan memberi pengertian bahwa indahnya berbagi bukan untuk orang yang kita beri, tapi bagi kita sendiri. Tentunya Allah akan balasi, tapi sebelum itu, aku sebagai Eteknya ingin berperan sedikit. Mengajarkan Azyan untuk memberi adiknya potongan roti bakar sarapannya, dan kemudian aku memberinya dengan roti yang lebih besar. Itu misalnya. Jadi mereka belajar, memberi bukan untuk mengurangi tetapi untuk melebihi.
Mereka tidak akan mendapati etek mereka marah-marah meminta untuk belajar, karena aku ingin itu hanya kemauan dari mereka. Mungkin salah satu caranya, ketika mereka memberi tahu sesuatu, cobalah untuk lebih antusias, walaupun sebenarnya sudah sangat-sangat mengetahuinya.
Contohnya mungkin Ia sedang belajar siklus perubahan wujud. Jadi Azyan itu kelas 3 SD dan sudah belajar IPA. Ya, sebagai pencinta kimia fisika, agak ga mungkin gitu ya lupa sama perubahan wujud zat padat cair gas ini. Tapi disini ujiannya. Haha berat juga sih, harus jadi orangnya pura-pura tidak tahu, padahal.. Padahal yaitulah. Dengan ketidaktahuan dan keantusiasan pendengar, biasanya pemberi berita akan berusaha memberikan informasi yang lebih dibanding dengan orang yang memberikan informasi tapi lawan bicaranya sudah mengetahui. Ia akan malas melanjutkan pengetahuannya. Biasanya. Maka dari itu coba untuk menghargai sedikit ilmu mereka agar mereka belajar bukan karena tertekan, tapi seperti makan, nikmat banget apalagi pakai kerupuk *loh haha
Mereka juga tidak akan kupaksa untuk menghafal Al Quran, walaupun segimana pengennya punya anak-anak hafizh dan hafizhoh. Bukan karena mereka anak uni bukan anakku, tapi memaksa mereka melakukan apa yang tidak ingin mereka lakukan, menurutku satu kesalahan besar. Biarlah mereka mengambil pengertian sendiri. Dari pertanyaannya Azyan bisa mengerti. "Kenapa etek ingin sekali menghafal al quran, kan banyak, susah lah" begitu katanya. Sempat muter muter bandung surabaya dulu untuk menjawab pertanyaan itu karena boleh naik dengan percuma. Haha yakan apaan.
Jadi setidaknya ada yg dia dapatkan dari jawaban singkatku. "Etek pengen ngasih mahkota ini untuk nenek di syurga nanti", sambil lihatkan gambar mahkota cantik yang sempat didonlot. Yaa walaupun hafalan begitu-begitu aja. Ndeh~
Awalnya dia hanya diam dan akhirnya berkata lirih, "Zyan juga mau belikan Ibuk itu, tek". Dia pergi.
Dengan pembicaraan selanjutnya akhirnya ia menyerah setelah mengetahui bahwa mahkota itu tidak bisa dibeli dengan uang.
Mungkin banyak dari pengajaranku untuk mereka yang salah. Seperti aku akan membiarkan mereka menangis setelah berkelahi, walaupun tau siapa yang salah. Bagiku, salah tidaknya mereka, itu tergantung mereka. Jadi silakan menangis, kalau itu membuat jadi lebih baik. Jangan harap untuk dibelikan permen apalagi eskrim.
Nah itu, sayangnya aku tidak meminta mereka untuk mengekspresikan semua perasaan mereka. Terutama marah. Dalam surah Yusuf dikatakan "Bersabar itu jauh lebih indah", kalau bisa sabar kenapa harus mengekspresikan marah.
Mengapa hanya Zyan contohnya? Karena ia adalah anak pertama yang akan bertanggung jawab untuk tumbuh kembang adiknya. Ia harus melakukan tugas itu dari sekarang.
Harapku semoga mereka menjadi anak-anak yang membanggakan.
Maaf aku baru belajar parenting dari kajian di whatsApp dan tentunya dari buku-buku penulis favoritku.
Tapi untukmu nanti, akan kupelajari banyak hal dan kumula dengan Surah Ibrahim ayat 40 setiap hari. Agar kelak kau menjadi penyelamatku di akhirat nanti.
Semoga kita segera bertemu di dunia~
"Haha..". Ibu yang ditanya malah jawab begitu.
Aku terdiam dan melanjutkan pemasangan pampers anak kecil yang dari tadi ribut bilang malu kalau hanya pakai handuk doang.
Masih kepikiran sih sama pertanyaan yang dijawab tawa ibu tadi, tapi sekarang redaksinya agak berubah.
"Begini repotnya menjadi seorang Ibu?".
Jawabannya adalah iya ;) *pakai smile dikit, biar keliatan ikhlas.
"Masih mau punya anak?" Pertanyaan beliau mengusik candaku dengan gadis manis dihadapanku ini.
"Haha, masih dong". Jawabku sekenanya sejenak menghentikan urusan anak kecil tadi.
Bahkan aku masih ingin tetap punya anak sebelum menikah. Tunggu jangan tersedak dulu, maksudnya aku ingin merawat anak sebelum melahirkan seorang anak, ya sebelum menikah. Anak-anak yang dibuang orang tuanya atau pun anak-anak terlantar yang butuh perhatian seorang ibu.
Gatau kenapa aku ingin sekali merawat anak-anak sebelum akhirnya merawat anak-anakku nanti. Pasti menyenangkan.
Semoga nanti ada rezeki. Haha!
Kalau misalnya anak yang dibuang orangtuanya, malahan sudah kupersiapkan nama, Az Zahra Hilmiya Lathifa atau Audyna Hilmiya Lathifa . Itu kalau perempuan ya, kalau laki-laki, masih dalam pencarian.
Well, cerita ini terlalu jauh ya. Padahal tadi hanya mau memperkenalkan anak-anakku selama sebulan ini.
Hai, ini Azyan. Lengkapnya Azyan Lana Fisyauqi. Arti namanya aja udah kebaper loh!. Yaa, di rumah ini hanya ada 2 orang perempuan yang akan menjadi pewaris keturunan Ibu dan Bapak. Uni dan Aku. Artinya cucu yang paling ditunggu-tunggu adalah anak uni dan.. dan ya itulah haha. Nah berhubung yang sudah menikah baru uni *mulai ga enak ini bahasan haha*, ya pasti keluarga sangat menunggu keturunan yang katanya akan melanjutkan garis silsilah keluarga ini.
Mungkin hampir setahun, keponakanku belum terlihat hilalnya. Tapi tidak ada doa yang tidak diijabah, hanya menunggu waktu yang sempurna. Ketika itu terjadi sirnalah segenap penantian *ini apasih haha*. Akhirnya lahirlah putra pertama dari uni, dan pemberian namanya disesuaikan dengan cerita diatas. Asbabun Nuzul eceknya haha. Jadi silakan tebak apa arti nama nya ya gaes!
Sebagai anak pertama, Zyan begitu ikhwan ini menyebut dirinya. Ia melakukan tugasnya dengan baik sebagai abang. Dalam usia delapan tahun ia sudah bisa mencontohkan bagaimana sholat yang baik, belajar dan gosok gigi dua kali sehari. Ia mengikuti langkahku dulu, menjadi dokter kecil di sekolah, walaupun tidak bercita-cita menjadi dokter.
Ia ingin menjadi TNI AU, agar nanti bisa terbang di udara bersama Ibuk, Ayah dan kedua adiknya.
Ia memainkan peran ini melebihi bijakku. Ia tidak akan pernah berpikir dua kali untuk memberikan mainannya untuk Adzkia yang menangis, tidak akan sungkan mengambilkan adiknya nasi makan siang, tidak akan merasa repot untuk menyapu rumah dan ragam hal yang ia lakukan diluar ekspektasi liarku. Aku mengagumi DNA yang diwarisinya. Sifat yang seperti ini yang mungkin tidak dipunyai oleh anak bungsu seperti ku dari awal perjalanan hidupku.
Ia anak yang pintar dan manpu mengerti maksud dengan baik, hanya saja memiliki kepribadian yang agak tertutup ini membuat ku khawatir. Ia memiliki hati yang lembut sesuai dengan wajah yang selalu mengguratkan kebaikan. Darinya aku belajar keteduhan. Begitulah Azyan, yang jika ditanya nama-nama temannya, tidak akan tersebut satu orang nama perempuan. Aku tidak tau kenapa seperti ini, yang pasti di setengah bagian hati ku merasa lega. Entahlah
Berbeda dengan adiknya. Anak kedua Uni ku juga seorang laki-laki. Namanya Arga Lana Fisyauqi. Dari namanya saja terlihat sesuatu yang agak rumit haha. Berbeda 165 derajat dengan abangnya, ia memiliki sifat yang lebih frontal, terutama dalam emosional. Ia tidak takut untuk memukul abangnya dengan sapu, atau meninju abangnya yang tengah bermain, atau melempari apa saja yang terjangkau olehnya. Ya Allah, aku tidak bisa bayangkan bagaimana emosionalnya ia dewasa nanti. Suatu ketika ia pernah menceritakan hasil penelitiannya kepadaku. "Jadi tek, anak kedua itu selalu ditakuti anak pertama". Ia menyampaikan dengan bangga. Melihat ekspresinya aku ingin tertawa, tapi mendengar yang disampaikannya aku hanya mengernyitkan dahi. Memahami kebingunganku ia melanjutkan, "Iya tek, kata angah, Adang takut sama angah. Jadi angah itu anak Ibu yg kedua, dan adang adalah anak pertama ibuku. Survey yang absurd batinku. Dan aku hanya tersenyum dan berusaha memikirkan jawaban apa yang harus kukatakan. Karena dikatakan atau tidak dikatakan tetaplah jawaban. *apasih
Dikesempatan lain aku juga dibuat tercengang oleh pengakuannya. Kalau boleh kusampaikan risetku disini, "Sesungguhnya anak kedua itu sering membuatku gila!". Bagaimana tidak, sekembali dari tanah Perjuangan, aku pulang ke ranah minang, membawa sisa-sisa tenaga dan harapan hidup yang masih tersisa. Menyelesaikan sekrip menyekrip itu membuatku tidak bisa memberikan hak tubuh, hak jiwa dan hak segala hak. Jadi tiba-tiba saja setelah kepulanganku beberapa hari, Arga nyeletuk yang membuat hatiku luluh lantak *beuh mau nyanyi*. Seketika dia bilang "Ndeh, Arga ndak mau kuliah do, Tek". Dengan logat ala Arganya. Aku kembali terdiam dan bertanya dengan rasa takut. "Kenapa, kok Arga gitu?".
"Iya Arga takut kuliah" katanya. Terang saja mungkin ada ketakutan mendalam baginya setelah melihat Eteknya pulang dari masa perkuliahan menjadi kurus, ceking, tak terusus, jelek deh pokoknya. Setelah ditelusuri ternyata itu alasannya. Ya Allaah.. Ampuni aiim ya Allaah pintaku. Disisi yang berbeda mungkin aku lebih dekat dengannya, karena kepribadian supelnya yang beda jauh dari Azyan. Bayangkan saja ketika Arga memilih main di luar bersama temannya, Azyan memilih belajar membaca iqro' di rumah. Dua kepribadian yang berbeda tentunya.
Dibalik sisi negatif yang kupaparkan karena emosi, Arga juga memiliki nilai positif, InsyaAllah. Cita-citanya mulia, yaitu ingin menjadi dokter. Setelah ditanya kenapa, dia akan selalu menjawab, biar bisa ngobatin abang kalau jatuh dari pesawat hahaha. Dengan tertawa membahana itu membuatku lebih serem membayangkan tertawanya dari pada jatuhnya pesawat. Hahaha. Terang saja aku bergidik, ya jangan didoakan jatuh dari pesawat lah.. Ampun lah Arga ni. Tapi begitulah adanya. Ia anak polos yang mampu mengekspresikan rasa tanpa diminta. Ia memang tempramental. Tapi setelah beberapa minggu diarahkan semoga bisa menjadi lebih baik. Dan ini hanya harapan seorang etek.
Dan yang terakhir. Adzkia. Dia selalu berharap nama lengkapnya Adzkia Lana Fisyauqi, tapi takdir berkehendak lain. Namanya adalah Adzkia Lana Amira, dan dia selalu ngotot untuk disamakan dengan abangnya.
Ia merupakan anak ketiga Uniku, aku belum berani mengatakan yang terakhir haha. Dan ini cucu perempuan pertama Ibuku. Beuh, bisa dibayangkan betapa merajai nya anak ini, eh meratu deh haha. Ia memang seolah bak putri di rumah ini. Ya memang karena ia merasa cucu emas yang ditunggu. Dan aku benci! Benci pada kenyataan ada yang menggantikan posisiku pada saat itu. Haha itu rasa manusiawi kali ya. Tapi itu dulu dan hanya sebentar. Sangat sebentar. Dulu juga Adzkia juga tidak menyukaiku. Entah karena apa, entah karena ia merasa ada yang tidak beres dengan perasaanku, aku tidak tau. Cerita itu sudah tertinggal setahun belakangan. Sekarang Adzkia dan aku adalah makhluk yang layaknya ikan kecil nempel di karang. Jadi bangun pagi ia pergi ke kamarku. Dan aku masih ogah-ogahan menyapanya. Ia memberikan sapaan khususnya. "Tek, foto kita". Gubrak. Innalillahi. Pagi itu entah apa yang sedang dipikirkannya haha. Jadi setiap pagi siang malam, kita menyempatkan foto bersama, dan sekarang kameraku sudah tidak bisa untuk.berfoto lagi, karena kepenuhan memori. Allahu akbar!
Berfoto saja tidak ada masalah denganku, tapi ada satu momen yang menyebabkan citra ku dirumah menjadi luntur tak terbendung. Waktu itu abang iparku sedang nonton bersama Arga dan azyan. Aku dan uni memasak di ruangan sebelah yang hanya disekat barhome. Dan dia tanpa rasa bersalah bilang sama ayahnya, "Yah foto kaya etek kita" sambil mengeluarkan lidahnya. Ya Allaah sejak kapan aku mengajarkan itu kepada bocah ini. Itu fitnah Fahri *eh haha. Terang saja itu fitnah, dari sekian ribu foto dengan momen berbeda kurasa tak ada dengan lidah keluar seperti itu. Pencemaran nama baik dan akan kita selesaikan di meja makan haha. Ada juga suatu siang, masih dikamar ku, karena tempat paling menyenangkan adalah kamar, maka begitulah. Ia melihat stiker bunga di dinding kamarku, kelepasan lemnya, jadi seperti layu, kemudian dengan bijak ia mengusulkan "Tek, kita siram bunganya, nanti mati. Haha Begitulah adzkia yang polos, yang kalau pup minta cuci sama eteknya, apa salahnya dengan neneknya gitu, yang menyita gadget ku tanpa ampun, membajak akun ku, mengetik apa saja yang terkadang membuatku bersyukur dengan ujian yang berat ini. Mau marah?? Haha tentu saja itu pilihan yang sulit. Pernah suatu ketika aku memarahinya, dengan wajah polosnya dia cuma bilang "Maaf eteeek sayaaang~~", Allaah bagaimana cara aku melanjutkan kemarahan ini. Haha
Begitulah, ia mewarisi hobby ku bernyanyi dan bercerita. Tapi aku tidak cerewet seperti bocah ini ya Allaah. Pastinya aku tidak semenyebalkan ini. Terkadang dengan cerita konyol nya itu seisi rumah jadi hiruk pikuk tak tentu arah tertawa terbahak-bahak. Tapi itu ceritanya tidak jelas. Setidak jelas tulisan ini. Haha
Hingga akhirnya~~
Aku tidak tau setelah besar nanti akan menjadi seperti apa mereka. Yang pasti mereka sudah mengantongi kepercayaan diri yang baik. Karena mereka tau, aku mempercayai mereka dengan baik. Mereka tidak akan berpikir etek mereka akan marah kalau mereka tidak sholat, karena mereka tau aku memberikan kepercayaan itu untuk mereka. Jadi masalah didikan yang seperti ini, Ibu, Uni dan aku memiliki pandangan yang berbeda. Nah ini akan memicu keributan yang bisa mengalahkan kebisingan MOTOGP kali haha.
Jadi kalau mereka sholat di dalam kamar, Ibu tidak percaya kalau sudah sholat, gitu aja terus.. Nah, aku rasa itu yang membuat mental anak-anak jadi rusak, bayangkan saja mereka tidak memiliki kepercayaan dari keluarga mereka. Mereka sholatpun tetap dibilang belum sholat, mending ga sholat beneran. Itulah jadinya pikiran mereka. Mungkin pemahamanku tentang ini juga banyak salahnya, tapi aku merasa bahwa anak-anak ini sangat layak untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari orang-orang disekitarnya. Sekarang, mau dikuncipun kamar, insyaAllaah mereka akan sholat, walaupun mungkin tidak sekhusyu' kalau diawasi Ibuk dan nenek mereka.
Mereka juga diajarkan arti luar biasanya memaafkan. Jadi gini ya gaes, di rumah ini ada 3 anak yang kepribadian absurd semua, ada yang suka marah menggila disenggol dikit, ada yang bisanya nangis aja, ada yang mau nya harus diikutin, ada yang pusing liatiiiin mereka. Huah itu gueh!! Itu guehh haha.
Jadi kalau mereka sedang bermain bertiga dalam kurun waktu 15 menit itu akan terjadi perkelahian yaang.. yang kalian ga pernah berpikir asal muasal itu masalah.
Dari situ aku mencoba untuk mengajarkan mereka arti kata memaafkan. Karena mereka harus tau, memaafkan itu bukan untuk kepentingan orang yang kita maafkan, tapi karena hati kita sendiri butuh kedamaian itu. Jadi pernah suatu ketika Azyan dan Arga bertengkar hebat, tidak ada yang bisa dibilangin, akhirnya satu-satunya cara adalah meminta Azyan untuk diam dan memaafkan adiknya. Oke dia ikut tapi tidak ikhlas. Dan Arga masih saja berontak. Selang beberapa menit, hatinya berdamai dan Azyan kembali main seperti sediakala. Luar biasa nya dimana? Ya disitu, orang yang memaafkan akan lebih merasakan ketenangan karena dia tidak akan merasa tidak enak lagi. Dan Arga? Ya dia masih merasa kalau abangnya akan marah. tentu rasa seperti itu yang ingin dihilangkan dari hati anak-anak yang seharusnya damai sesuai kodratnya.
Dan beberapa pelajaran penting lainnya, seperti indahnya berbagi. Tentu saja tidak harus berkoar-koar meminta mereka untuk memberi kue untuk adiknya atau memberikan eskrim mereka untukku, eh haha. Tentu saja perasaan terpaksa seperti itu akan berdampak kurang baik. Mencoba mengajarkan mereka dengan memberi pengertian bahwa indahnya berbagi bukan untuk orang yang kita beri, tapi bagi kita sendiri. Tentunya Allah akan balasi, tapi sebelum itu, aku sebagai Eteknya ingin berperan sedikit. Mengajarkan Azyan untuk memberi adiknya potongan roti bakar sarapannya, dan kemudian aku memberinya dengan roti yang lebih besar. Itu misalnya. Jadi mereka belajar, memberi bukan untuk mengurangi tetapi untuk melebihi.
Mereka tidak akan mendapati etek mereka marah-marah meminta untuk belajar, karena aku ingin itu hanya kemauan dari mereka. Mungkin salah satu caranya, ketika mereka memberi tahu sesuatu, cobalah untuk lebih antusias, walaupun sebenarnya sudah sangat-sangat mengetahuinya.
Contohnya mungkin Ia sedang belajar siklus perubahan wujud. Jadi Azyan itu kelas 3 SD dan sudah belajar IPA. Ya, sebagai pencinta kimia fisika, agak ga mungkin gitu ya lupa sama perubahan wujud zat padat cair gas ini. Tapi disini ujiannya. Haha berat juga sih, harus jadi orangnya pura-pura tidak tahu, padahal.. Padahal yaitulah. Dengan ketidaktahuan dan keantusiasan pendengar, biasanya pemberi berita akan berusaha memberikan informasi yang lebih dibanding dengan orang yang memberikan informasi tapi lawan bicaranya sudah mengetahui. Ia akan malas melanjutkan pengetahuannya. Biasanya. Maka dari itu coba untuk menghargai sedikit ilmu mereka agar mereka belajar bukan karena tertekan, tapi seperti makan, nikmat banget apalagi pakai kerupuk *loh haha
Mereka juga tidak akan kupaksa untuk menghafal Al Quran, walaupun segimana pengennya punya anak-anak hafizh dan hafizhoh. Bukan karena mereka anak uni bukan anakku, tapi memaksa mereka melakukan apa yang tidak ingin mereka lakukan, menurutku satu kesalahan besar. Biarlah mereka mengambil pengertian sendiri. Dari pertanyaannya Azyan bisa mengerti. "Kenapa etek ingin sekali menghafal al quran, kan banyak, susah lah" begitu katanya. Sempat muter muter bandung surabaya dulu untuk menjawab pertanyaan itu karena boleh naik dengan percuma. Haha yakan apaan.
Jadi setidaknya ada yg dia dapatkan dari jawaban singkatku. "Etek pengen ngasih mahkota ini untuk nenek di syurga nanti", sambil lihatkan gambar mahkota cantik yang sempat didonlot. Yaa walaupun hafalan begitu-begitu aja. Ndeh~
Awalnya dia hanya diam dan akhirnya berkata lirih, "Zyan juga mau belikan Ibuk itu, tek". Dia pergi.
Dengan pembicaraan selanjutnya akhirnya ia menyerah setelah mengetahui bahwa mahkota itu tidak bisa dibeli dengan uang.
Mungkin banyak dari pengajaranku untuk mereka yang salah. Seperti aku akan membiarkan mereka menangis setelah berkelahi, walaupun tau siapa yang salah. Bagiku, salah tidaknya mereka, itu tergantung mereka. Jadi silakan menangis, kalau itu membuat jadi lebih baik. Jangan harap untuk dibelikan permen apalagi eskrim.
Nah itu, sayangnya aku tidak meminta mereka untuk mengekspresikan semua perasaan mereka. Terutama marah. Dalam surah Yusuf dikatakan "Bersabar itu jauh lebih indah", kalau bisa sabar kenapa harus mengekspresikan marah.
Mengapa hanya Zyan contohnya? Karena ia adalah anak pertama yang akan bertanggung jawab untuk tumbuh kembang adiknya. Ia harus melakukan tugas itu dari sekarang.
Harapku semoga mereka menjadi anak-anak yang membanggakan.
Maaf aku baru belajar parenting dari kajian di whatsApp dan tentunya dari buku-buku penulis favoritku.
Tapi untukmu nanti, akan kupelajari banyak hal dan kumula dengan Surah Ibrahim ayat 40 setiap hari. Agar kelak kau menjadi penyelamatku di akhirat nanti.
Semoga kita segera bertemu di dunia~
Comments
Post a Comment