Mohon, Lihatlah kami disini!
Memulai
paragraph ini dengan berpura-pura aku baik-baik saja tentu akan sia-sia. Aku
tidak baik-baik saja. Sungguh!
Tidak
bisa dipungkiri kerinduan ini sudah mencapai titik ekuivalen. Sebentar lagi
nilai Ksp nya akan melebihi nilau Qsp nya. Entahlah mungkin begitu.
Rindu
ini tak bertujuan. Rindu ini tak bertuan. Engkau terlalu jauh untuk menjadi
dekat. Dan terlalu semu untuk menjadi nyata.
Bolehkah
sekali saja melihat wajah teduhmu?
Bolehkah
sekejap saja menyaksikan senyum indahmu?
Bolehkah
begitu?
Bolehkah
aku iri kepada Ali bin Abi Thalib? Abu Bakar? Usman dan Umar?
Tidak
akan kuuraikan sedih disini. Karena tidak akan merubah segalanya.
Tempat
kita sudah berjarak; terpisah.
Engkau
telah pergi, dan kami disini dalam kebimbangan.
Taukah
engkau wahai Nabi kami yang mulia?
Akhir-akhir
ini kami galau.
Banyak
ssekali yang mengganggu tenang kami disini.
Banyak
sekali yang mengajarkan kami tentang ajaran agama kami.
Tapi
mengapa berbeda dengan risalah yang engkau titipkan kepada para sahabat?
Sedikit
berbeda bahkan banyak berbeda.
Tapi
terkadang kami tidak sadar, wahai Nabi.
Kesadaran
kami tiba-tiba melemah, saat ada yang meringan-ringankan aqidah kita.
Cara
sholat yang berbeda, cara ini itu yang tidak ada engkau ajarkan.
Bisa-bisanya
mereka membantu kami mengabaikan ajaran yang sudah kami percayai dari dahulu
kala.
Dengan
sangat cepat dan bahkan tanpa pikir panjang.
Kalau
boleh bercerita sedikit, banyak orang yang ingin menjerumuskan kami.
Mengapa
mereka seperti itu ya?
Apa
salah kami?
Nabiku,
maaf bukan aku ingin menceritakan keburukan umatmu yang lain.
Tapi
izinkan kuungkapkan segala rasa yang mengganggu beberapa tahun terakhir ini.
Boleh
tidak kita bertemu seperti engkau menemui sahabat dan tabi’in pada masa lampau?
Aku
dan sahabat Islamku rasanya tidak sekuat para sahabatmu, tapi mengapa kami yang
tidak engkau bersamai?
Tujuan
hidup kami tidak jelas.
Mungkin
jelas, tapi tidak seperti tujuan yang engkau ajarkan kepada sahabatmu.
Haruskah
aku menyesali semuanya?
Tentu
tidak. Doakan kami dari kejauhan, kumohon.
Nabiku…
Biasanya,
pada hari kelahiran sahabatku, aku pasti ingin melakukan hal terspesial yang
bisa aku lakukan.
Apa
saja yang menurutku wajar untuk dilakukan.
Tapi
hari ini, di hari kelahiran seorang penerang dunia, tidak ada yang aku lakukan.
Pagi
buta hanya terdiam.
Entahlah..
Mungkin
aku rindu.
Aku
bukan orang terbaik diantara umatmu yang merindukan mu pada hari ini.
Pasti
tidak.
Tidak
banyak doa yang kuutarakan, karena sang penerima doa itu yang sudah menjamin
syurga untuk kekasihNya.
Nabiku,
kami rindu. Bolehkah kita berjumpa?
Semoga
Allaah berkahi hidup kami sampai akhirnya kita bertemu.

Comments
Post a Comment