Sajak Bulan Purnama
Sebutir purnama hiasi langit dengan cahaya
peraknya. Sekujur aku berharap kau sedang menikmati langit yang sama, sendiri
saja.
Bulan,
Bolehkah goyahkan tegarmu disana?
Bolehkah kurusak tenangmu dari kejauhan?
Kurasa tidak satu kepantasanpun yang akan
mengiyakan pertanyaan itu.
Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Tapi mengapa, begitu penanggalan beranjak
menuju pertengahan, kau selalu menampakkan diri tanpa permisi. Kau datang
selalu dengan pancaran cahaya kebahagiaan. Dan seketika itu aku tidak sanggup
untuk menghindarkan diri dari cahaya perak itu. Inginku bertahan; berlama
menatap lamat-lamat indah kilauan yang kau pancarkan. Sejenak aku
berkontemplasi dengan keindahan di depanku, yang siap-siap menghilang ketika
fajar berusaha mendekat. Begitu saja.
Keindahan itu berlalu?
Tentu tidak, bulan! Karena aku yakin kau akan kembali pada gelap
selanjutnya. Hadirmu di semesta hatiku, membuat senja kembali jingga. Mendung
pun menyerah, tak kuasa lagi mengelabukannya, hanya sanggup teteskan rintik.
Ah ya, bukan hanya aku yang menunggu bulat
dihitamnya langit malam itu. Ada kau. Kau yang sedang mematung menatap keujung
sela tirai jendela, berharap sinar bulat memantul dari genangan air depan
rumah. Berharap sinar orange itu menerpa parasnya yang teduh; hatinya yang
lembut. Dan kita sama. Sama-sama di depan jendela? TIDAK! Aku tidak akan memaku
diri di depan jendela. Tidak akan kuhalangi hembusan mesra angin malam hari
untuk mengisi ruang kamar yang dipenuhi sesak kerinduan. Rindu bagaikan embun
yang luruh disetiap ujung daun. Banyak sekali.
Sang bulan tampak malu-malu, dua orang sedang
memperhatikannya; dari kejauhan. Orang itu juga sama, berjauhan. Jauh sekali.
Hanya takdir jika berbaik hati yang akan mendekatkan jarak mereka, menyatukan
mereka kedalam jarak sebentuk hibridisasi senyawa organic dalam satu kotak;
berpasangan.
Sesekali kau mengalihkan pandangan dari
tengadahan ke atas langit. Berharap seandainya ada keindahan menyaingi bulatan
diatas sana. Walaupun kau yakin takkan temui pendaran cahaya di bawah sini, kau
lakukan sebagai istirahat dari kejenuhan pundak menengadah.
Tak akan berbeda dengan rutinitas malamku,
menengadah ke atas, memutar pandangan, melihat sekitar, keatas lagi, kemudian
kesamping; samping kanan-kiri. Tapi tetap tak kutemui cahaya disekitarku,
kecuali ketika ada yang akan menyaingi indahnya rembulan yang terduduk manis
menemani sepinya malam dari langit gelap. Mungkin kau!
Mematut diri menguatkan hati melewati
malam-malam hanya bersama bulan, kurasa cukup membantu. Bulan yang baik,
gumamku. Bulan tak pernah memilih hati mana yang akan ia terangi; siapa saja
termasuk kau. Semoga bulan berlaku baik, memberikan sinar lebih untukmu yang
selalu berkutat menunggu metamorfosa menuju bulan penuh. Dan aku selalu
berharap Allaah menciptakan satu orang yang mengikuti perkembangan bulan itu.
Mungkin kau! *Sekali ini pakai mungkin.
Hai, bisakah kau muncul setiap saat
dihadapanku? Melihatmu, bahagiaku lebih sejuk dibanding air pegunungan, lebih
teduh dibanding rimbun dedaunan, lebih indah dibanding bunga bermekaran.~
Menuliskan ini, ada kemanisan menyeruak relung
hati, entahlah! Mungkin ini terlalu berlebihan. Tapi percayalah, dengan memandangmu bisa kupasstikan kopi takkan
pernah pahit. Setiada apapun gula. Aku ingin menciptakan rasa manis itu setiap
saat; akan kutunggu gelap itu setiap hari. Akan kutunggu pertengahan bulan itu
menunggu penuh hitungan keindahan; bulan purnama.
Bulan.
Aku ingin setiap saat menatapmu. Menceritakan
segala keluh gundah. Meluapkan segala resah tertahan. Bersamamu; segala
kegalauan sirna. Ah sudahlah, kau tidak begitu. Begitu saja kau menghilang
seketika aku terbangun pagi hari. Sekenanya tak kau jawab pertanyaanku dimalam
bisu. Tak bisakah kau lebih lama melihatku?
Hai kau…
Sudahlah.!
Kuharap pada sajak-sajak tak bertuan kutemukan
kau sebagai sebuah bait kesunyian, juga air langit yang melembabkan kaca
jendela.

Comments
Post a Comment