Project To February #Ini Tentang Seorang Fadh*l[?]


Memulai project Februari ini, aku teringat tentang suatu hal yang pernah diutarakan junior menyebalkan seantero pendidikan kimia UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Pada suatu siang di bulan Februari, iklim di Pekanbaru masih dalam temperature yang sama seperti sebelumnya. Signal provider menerima transmisi pesan dari seberang sana *maaf bahasanya soktau*. Begini bunyinya:

“Assalamu’alaikum.. Haha rasanya baru pertama kali ngucap salam :D Pas jalan2 ke blog kakak, jadi keingat gini “jika kamu ingin melihat dunia maka bacalah, dan jika kamu ingin dunia melihatmu maka tulislah”.. Nah sebagai perwakilan warga dunia saya mengatakan kami telah melihat dunia kakak *dibubuhi emot sok imut tidak masuk akal* Makasih udah buat tulisannya, minimal baca2 saat suntuk laa :D. #Salute (y).
Sempat menjadi mellow dramatis sesaat membaca pesan singkat itu. Entahlah mungkin karena sudah lama tidak bertemu dan belum ada yang komen blog haha ngenes gitu. Namanya Fadhil Tasyin, dieja ef-a-de-ha-i-el-te-a-es-ye-i-en. Begitulah kira-kira. Kalian bisa bayangkan ribetnya dengan pengejaan namanya dan orangnya. Berjarak 2 tahun ternyata tidak cukup mumpuni untuk membuat bocah ini berlaku sopan terhadap seniornya. Terkadang hanya memanggil nama, membully dengan seenaknya bahkan memukul kakak tingkatnya yang sudah tidak mahasiswa lagi. Prestasi (?).
Ketidaksopanan ini hanya teruntuk senior yang menurutnya berhak mendapat perlakuan seperti itu. Gue [?]. Mungkin saja itulah balasan untuk asisten pertama yang mengampu 6 objek praktikum selama kurang lebih dua bulan. Menghadapi kesongongan anak ini cukup membuat lelah. Pintar? Jelas!! Keterlaluan? Ya! tapi lumayan untuk respon belajarnya.
Hubungan kita tidak terlalu baik, mulai dari cara komunikasi yang tidak terlalu baik sampai penjelasannya tentang hukum energy menurut Einstein yang tidak bisa dicerna otak berpikiran tugas seabrek. Hanya untuk memengerti omongan bocah ini energy harus terkuras sekian kilojul; kan sayang.
Seiring berjalannya waktu, bocah ini semakin banyak peningkatan. Makin tidak sopan. Makin tidak jelas. Makin suka telat. Makin semena-mena. Makin malas belajar. FYI ya guys, bocah ini memang tidak sejenius pembawaannya, tapi pengetahuannya lumayan. Iya lumayan.
Penulisan di atas bukannya tidak berdata. Untuk point tidak sopan bisa di skip. Karena ketidaksopanan disini tidak seperti ekspektasi kalian wahai pembaca yang budiman. Jadi seorang Fadhil ini akan sangat sopan sekali terhadap orang yang baru dikenalnya. Apalagi perempuan. Ia akan berlaku sebaik mungkin untuk bisa berbicara dengan orang baru. Modus menyerak umpannya. Bagi orang-orang yang sudah lama kenal, menurutnya hal itu sudah tidak penting lagi, karena kita sudah dekat. Yakali dekat. Sempat suatu sore ia mempertanyakan “Tapi kakak ga marahkan kami kaya gitu?” tentu saja jawaban kami akan sangat menyenangkan hati mereka. Menurutku diperlakukan dengan penuh keseganan apa lagi ketakutan, itu akan membunuh karakter baikku secara perlahan. Haha but I’m not really good enough guys!
Point yang paling penting adalah malas dan telat. Dulu, bukan seorang Fadhil yang tidak bisa menjawab pertanyaan asisten jika ditanya, walaupun jawabannya tidak terlalu jelas. Sekarang? Gatau sih sebenernya, tapi pengaduan-pengaduan tidak begitu bersahabat membuat kesimpulan ini beralasan. Dulu bukannya seorang “later” juga ini anak, tapi sekarang seorang kepala labor mengakui keabsahannya. Sedih? Iya! Marah? Iya! Tapi kita yang hanya sebagai seorang senior tidak memiliki hak untuk membuat mereka menjadi apa yang kita inginkan. Tentunya sebagai senior tidak etis untuk mengatur hidup anak manusia yang sudah tidak kecil lagi. Tapiiii sebagai senior, tidak akan kubiarkan mereka terlambat memaknai hidup, terlambat memaksimalkan kesempatan, terlambat menjadi baik, terlambat menjadi kebanggaan dua malaikat mereka di rumah. Tidak akan! Mereka tidak boleh menyesali hal yang tidak pernah bisa kuperbuat beberapa tahun silam. Meletakkan belajar menjadi prioritas kesekian, ternyata membuahkan hasil yang harus dibayar penyesalan hingga saat tulisan ini diterbitkan. Mereka tidak boleh melewati malam-malam suram skripsi yang tidak jelas. Tidak boleh! Maka dari itu apapun untuk membuat penyesalan mereka menjadi pendaftaran, semoga berbuah hasil. *Penyesalan diakhir, pendaftaran diawal semoga kalian memaknainya.
Terlalu jauh dari seorang Fadhil. Fadhil yang sekarang bukanlah Fadhil yang beberapa semester yang lalu. Perubahannya lumayan signifikan. Sudah mau (sedikit) belajar lagi, sudah (jarang) telat, sudah peduli terhadap lingkungan sekitar, sudah lebih peka sama sekitar dan sudah menjadi asisten laboratorium kimia dasar 1 Pendidikan Kimia UIN SUSKA Riau. Membanggakan gen(g)!
Melanjutkan perjalanan menjadi Aslab kece tentu tidak mudah. Banyak hal yang harus dipelajarinya. Guys, kalian tau, kondisi ini tidak mudah bagi seorang Fadhil. Wehh, bagian ini lumayan menyita hati. Haha. Tidak mudah bagi seorang Fadhil untuk memarahi junior yang terlambat, untuk bertindak keras terhadap keributan di kelas, untuk apapun hal baru yang sedang dihadapinya. Melihatnya diposisi itu rasanya ingin menjadi hero yang akan menjadikannya kuat. Haha super hero mana saja, bolehh!! Terkadang ini membuat kita flash back beberapa tahun silam. Kita dulu juga seperti itu. Iya! Dan kami belajar dari perjalanan panjang dalam perlaboran kimia UIN SUSKA ini. Belajarlah dulu disini, semoga Allaah berkahi dengan keberkahan tak terbendung.
Kekakuan Fadhil hanya berlangsung sebentar, selayaknya perubahan reaksi kimia. Kalian tau, ia adalah adik yang mudah mendengarkan, mudah mengamalkan, mudah menerima saran, dan itu sangat menyenangkan. Ada sebentuk kekuatan agar ia bisa berbuat lebih tegas. Ada sebuah tekad agar ia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan itu terlihat dari pancaran sinar matanya. Dan kami dengan kepercayaan penuh untukmu, Adekbro!
Dengan perubahan yang sangat signifikan itu, tidak ada keraguan bagi seorang senior demi melihat kesuksesannya nanti. Banyak bertanya tentang ini itu. Kutau itu bukanlah hal yang dibuat-buat. Karena memang sebuah kepastian teori menurutnya lebih penting. Kita pernah membahas ekso dan endotermik dari sore sampai tengah malam buta, dan itu demi tercapainya sebuah kesepakatan mengenai suatu konsep. Dengan semangat empat enam ia berusaha mendapatkan suatu kepastian ekso dan endo, sampai tidak bisa dituliskan dalam tulisan chat bbm haha. Menyenangkan memiliki junior yang tidak tahan dalam keragu-raguannya. Mendengar kelegaannya ada sebentuk aspirin dalam sakit kepala. Yah begitulah.
Rasanya sudah seperti adik sendiri. Dimana ia menyempatkan untuk tersenyum manis setiap bertemu, walaupun hanya meminta penguatan atau pembenaran. Menyempatkan untuk bertanya sebentar, walaupun itu tidak penting. Bagaimana kami tidak akan menjadikan ia adekbro yang bisa dibanggakan. Yang rela-rela antar eskrim ke rumah senior karena kalah prediksi nilai, yang bela-belain keluar Cuma buat ketemu seniornya padahal lagi praktikum, yang begitulah yaa.. tidak akan dibeberkan semua, nanti fansnya pada ngamuk besar.
Semoga mendapatkan semua kebaikan, anak baik. Nilai di kehidupan, nilai di kampus dan dimana saja. Karena kami tidak sanggup melihat kegundahan raut wajah atas nilai ujian yang ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hapus dulu sedihnya, semoga ada ganti nilai terbaik dari perjuangan terbaik. Karena hasil tidaklah akan menghianati proses, dek. Jangan mengharap hasil bagus dengan usaha abal-abal. Tapi percayalah dengan usaha maksimal hasil terbaik akan mengikuti.
Kalau dulu ada Redy yang hilang kalau dengar suara azan, sekarang ada Fadhil yang akan ambil wudhu sendiri ketika azan sudah berkumandang.
Kalau dulu sempat tidak memengerti penjelasannya, sekarang dari sorot mata saja sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakannya bhak haha! tapi suatu malam, ada ketidakkuasaan untuk menatap mata penuh mimpi itu, ada cahaya yang diredupkan, ada sinar yang otomatis mati; sungguh kakak tidak kuat, dek! Itu untuk pertama kali harus menghindari tatapan tulusnya. Entahlah! Tolong jangan!
Banyak yang membuatku iri padanya! Ia punya banyak hal yang tidak kumiliki. Ia sangat beruntung. Begitulah, ia memiliki asset luar biasa dari dosen sekaligus orang tua terbaik yang tidak akan pernah kumiliki selamanya; iya mungkin selamanya gengs! Ia mendapatkan anugerah terbaik dari Tuhan sebagai penciptaan seorang makhluk bernama manusia. Kalian harus tau, dia sangat beruntung. Satu hal dek, hanya kegigihan saja yang bisa mengambil alih keberuntungan orang berbakat. Hanya usaha keras yang bisa mendapatkan kesuksesan orang pintar sekaliber Albert Einstein sekalipun. Nah dengan mimpi-mimpi yang sudah digambar, sekarang tinggal diambil krayon dan diwarnai dengan seindah mungkin. Berjuanglah dek! 

Well, kalau dulu ga ada yang bikin galau di labor sekarang ada Fadhil yang bertanya dengan pertanyaan penuh kebaperan hingga esok hari. Ah ya, kita pernah bahas tentang jodoh bersama kepala lab. Dengan berapi-api ia menjelaskan hubungan alis mata sambungnya dengan jodoh yang akan membersamainya nanti. Kalau diceritakan disini, nanti pada curiga, jadi cukuplah menjadi rahasia kita dan kepala lab kece. Haha asalkan cantik katanya. Kemudian Ibu langsung membenarkan, lebih baik pilih yang agamanya bagus. Dan dia mengangguk-angguk mengiyakan. Sepertinya ia sangat paham dengan kasus ini. Anak kecil ini membuat Ibu Ka.Lab harus menjelaskan panjang lebar mengenai jodoh dan bercerita sedikit mengenai pengalaman beliau. Ini buruk bagiku, Tuhan! Haha pembahasan horror seperti ini sebenarnya sedang aku usahakan untuk menghindari dengan cara apapun. Tapi Fadhil membuatku terjebak wahaha. Sudahlah aku menyerah. Sampailah kita pada cerita panjang pada pembahasan tiada ujung. Yang ujung-ujungnya, ia mendoakan seniornya ini cepat menikah. Mungkin menurut bocah ini, menikah adalah menulis 2 laporan praktikum yang hanya susah di pembahasan saja. Ini melebihi itu, dek! Hahah
Banyak sekali cerita yang sudah kita bagikan beberapa tahun terakhir. Banyak juga kekecewaan yang sudah kita dapatkan masing-masing. Kakak ataupun Kak Restu. Mulai dari tidak datang sidang, yudisium sampai wisuda. Tapi tidak akan menyulut luka yang mendalam jika nantinya kami mendapati kesuksesan dari kalian semua. Walaupun pada akhirnya melupakan ulangtahun seniornya, tidak akan menjadi permasalahan jika seandainya diganti dengan nilai KHS yang baik semester ini. Selamat berjuang bro gen(g)! tetaplah hidup dengan baik, karena hidupmu sangatlah baik; ada ataupun tidak kami disamping kalian!
Hai, ada harapan besar yang kami titipkan dipundak adek. Numpang sebentar saja dek. Besar harapan kami harapan itu terjaga sampai kami menjemputnya kembali. Wajar, jika suatu ketika ekspektasi kami berlebihan, itu karena kami tau ada kemampuan yang bisa dimaksimalkan dalam pencapaiannya. Sukseslah dek! Karena sukses itu dijemput, bukan ditunggu!
Now, we see you world bro! We know more than just words~

Mulai hari ini dan seterusnya, ia bukanlah junior yang menyebalkan lagi.
Ia adalah junior baik, yang membanggakan!
Ia adalah Fadhil yang baik; membanggakan!
Kami tunggu kabar kalau sudah di ITB nanti~~
Kalau sekarang masih bintang yang sinarnya tidak terlihat, kami harap setelah ini bisa menjadi matahari yang menyuplai energi baik terhadap sekitar.
Kalau sekarang masih kami yang memikirkan agar seorang Fadhil bisa menjadi pewarna bukannya terwarnai, semoga esok pada waktunya ia akan berdiri dengan berani menjadi pelangi yang memiliki banyak warna bagi sekitarnya.

Suatu masa akan kita ulang kisah menyenangkan ini kembali. Iya!, ini tidak hanya akan tersimpan menjadi kisah klasik dalam sejarah dunia. Pada masanya nanti, kita sudah dengan hati yang jauh lebih siap. Sampai jumpa lagi! Sampai jumpa dimasa itu!
Salam dari kami
-Kakdini.KakJurio.KakRestu-
Bhay!! :D
*Maaf untuk pembahasaan kurang berkenan yang tidak pada tempatnya. 
*Maaf belum jadi kakak yang baik.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29