29's Warrior #4of29
Sepertinya
langit tidak mendengar pintaku malam itu. Sepertinya Allaah masih ingin
mengukur kekuatan pertahananku. Dan jujur saja aku tidak cukup kuat untuk itu.
Menghindar dari seseorang bernama Zafran saja aku tidak sanggup, apalagi
mengabaikan segala usaha yang dilakukannya untuk… untuk apa aku juga tidak
mengerti. Akhir-akhir ini aku sering tidak mengerti dengan apa yang terjadi,
padahal sudah mau UN *eh. Bagaimana aku bisa mengerti dengan semua yang
dilakukannya; yang aku tidak paham maksudnya, atau mungkin pura-pura tidak
paham.
Setelah
pesan singkat bernada sumbang itu, sepertinya Zafran tidak memberhentikan
usahanya. Tetap saja dibeberapa kesempatan dia bertanya tentang kabarku,
kegiatanku dan pertanyaan konyol yang membuat hari-hariku menjadi lebih manis.
Oke, tidak bisa kuhindari rasa itu. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga untuk
tidak merasa bahagia, tapi pesan demi pesan itu sempurna menjadi moodbooster disetiap harinya. Aku
terjebak oleh perangkap yang jelas-jelas aku tau jalan keluarnya, tapi aku
memilih bertahan. Bod*h!
Kuperbaiki
posisi duduk, kembali kubuka mushaf Usmani yang sudah berada di tangan kananku.
Pagi ini jadwal muroja’ah hapalanku. Memulai dengan bismillah dan doa penguat
ingatan kumulai satu persatu, ayat demi ayat. Ada rasa tenang yang kurasakan. Aku
tau, yang kubutuhkan adalah rasa damai seperti ini, bukan malah perasaan semu
yang berharap menjadi nyata. Berniat menambah beberapa ayat, tapi urung
kulakukan. Perutku ternyata lebih butuh perhatian khusus untuk saat ini. Lapar!
Aku baru ingat, dari kemarin sore, haknya belum kupenuhi. “Maafkan aku, perut”,
gumamku perih.
Tanpa
memerlukan persetujuan, aku langsung mengarahkan badan ke barat daya. Yap!
Kantin. Di kepalaku sudah menari menu kantin yang akan kupesan. Kaki dan
kepalaku berjalan sesuai ritmenya; mungkin mataku yang tidak. Sekilas mata ada
bayangan yang sangat familiar. Dan bayangan itu mampu mengalihkan semua rasa, termasuk lapar.
Terlihat di seberang sana dua orang sedang berdiskusi hangat. Sepertinya mereka
sedang membahas nasib Indonesia beberapa tahun kedepan; serius sekali. Atau
mungkin membahas Aleppo, berita dunia Islam yang sedang hangat saat ini.
“Ah,
apa urusanku dengan pembahasan mereka?”, sambil berlalu melanjutkan perjalanan.
Berjalan mengikuti tepian gedung dengan pikiran yang masih belum singkron, ternyata
memberikan efek positif bagi tumbuh kembangku haha. Bukannya sampai di meja
kantin, malah kakiku tepat mendarat melayukan sayap di depan teras masjid
kampus. Oke baik, mungkin aku lebih butuh dhuha dari pada makan. Dalam doa
dhuhaku, rasanya ada sesak yang menyeruak sampai ke mata dan kedua pipiku. Semoga
Allaah berkenan berikan rizki yang memang Allaah peruntukkan untukku. Termasuk
kamu!
***
Keberanian
apa yang membuatnya mengunjungi rumahku. Rasanya jantungku tidak
berdetak untuk beberapa detik. Iya, aku hampir menghembuskan napas terakhir
sore itu. Ia menemui ayahku yang kebetulan sedang duduk galau di ruang tamu
membaca Koran bola. Tim kesayangannya kalah! Biasanya ini akan membuat mood
ayah hancur dan tidak bersahabat dengan sekitarnya. Tiba-tiba keraguan muncul,
bagaimana jika ayah menolak Zafran mentah-mentah? Eh, memangnya Zafran
menawarkan apa?.
Pikiran
itu ternyata tidak ada yang benar satupun. Zafran mampu mencairkan suasana,
tepatnya mampu membesarkan hati ayahku dengan kekalahan tim bola yang terkenal
itu. Ia mengatakan bahwa itu kesalahan wasit yang tidak fair. Alih-alih wasit
yang salah, memang pertahanan tim itu saja yang tidak kokoh, aku berkata dalam
hati. Ayahku terlalu percaya oleh penyenangan hati itu, dan mungkin itu kabar
baik bagi Zafran. Setelah bercerita panjang mengenai 90 menit permainan bola
tadi malam yang tentunya aku juga paham karena aku ikut menemani ayah menonton
sampai babak tambahan waktu. Bahkan obrolan komentator nya masih kuingat, bahwa
tim kesayangan Ayah yang memang kurang persiapan dan bermain buruk. Tentunya
ayah tidak terima dan berdalih aneh-aneh. Akhirnya sampailah ayah pada
pertanyaan yang mungkin juga menjadi pertanyaanku.
“Jadi
kamu datang mau melamar anak saya?”, pertanyaan ayah bagaikan kalium ditetesi air.
Meledak begitu terdengar di telingaku. Kepalaku pusing dan perutku mual. Mungkin
karena terlalu gugup, padahal bukan aku yang ditanya. Sesaat kemudian kupasang
telinga untuk mendengar jawaban Zafran.
“Saya
mau mengambil dokumentasi acara kampus, Om”, jawabnya sambil tertawa kecil yang
mungkin juga merasa ganjal.
Mendengar
jawaban itu aku merasa lega bercampur sedih. Lebih dominan sedihnya sih
sebenarnya. Kalau ternyata iya, tentu lebih menyenangkan. Haha palsu!
Ayah
memanggilku, kemudian memintaku menemui laki-laki itu. Aku memberikan
dokumentasi untuk laporan pertanggungjawaban kepada sponsor acara kemarin, kemudian
urusan selesai. Tapi belum! Sebelum pamit pulang, dia melakukan hal indah
selanjutnya.
“Saya
lihat ini kemarin di toko buku, sepertinya bagus. Semoga suka.” Kalimat itu
mengalir walaupun dengan kata yang terputus-putus. Aku bingung, salah tingkah.
Harus bagaimana, terima atau tidak. Sibuk dengan pikiranku sendiri, kemudian ia
berbicara kembali memecah konsentrasiku.
“Saya
pamit pulang. Terimakasih. Assalamu’alaikum”.
Kujawab
salam dalam hati sambil menatap bingkisan yang tergeletak indah di meja. Sebelum terjadi sesuatu, dengan
cekatan kuselamatkan “kado” itu sebelum ayah mengetahui. Ketauan ayah bisa-bisa
dirajam *eh maksudnya diinterogasi panjang lebar yang akan membuat aku tidak
bisa menghindar. Dan ayah akan sangat senang dengan bahasan ini. Karena
menurutnya, putri kesayangannya sudah harus menemukan seseorang terbaik yang
akan menemani sisa hidupnya.
Terdengar
sayup, Zafran berpamitan sambil mendoakan tim kesayangan ayah minggu depan bisa
mendapatkan 3 point penuh. Clean sheet, katanya. Kemudian ia berlalu diiringi
aamiin ayah yang riang. Sepertinya ayah sangat terkesan dengan bocah ini,
gumamku. Di kamar kuletakkan bingkisan itu di laci paling bawah lemari buku. Aku
belum berniat untuk membukanya sama sekali. Aku takut. Sungguh sangat takut. Takut
bingkisan itu mampu membuka gembok hati yang sudah kujaga bertahun-tahun ini.
Walaupun sebenarnya kunci itu sudah hampir ditemukan oleh Zafran, tapi aku akan
berusaha kuat untuk menyembunyikan lebih jauh lagi. Sebelum semuanya terlambat,
aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menjaga hatiku dari
hal-hal yang akan merusaknya. Maka kuputuskan untuk menyimpan bingkisan itu
untuk waktu yang tidak ditentukan.
Dengan
semua hal yang Zafran lakukan, pertanyaan besar beberapa waktu lalu mulai
berkelabat di kepalaku. Apa maksud Zafran melakukan ini semua? Apakah hanya
ingin mempermainkan perasaanku? Apakah benar-benar ingin menjadi bagian nyata
dari hidupku? Atau malah hanya ingin menguji keteguhan imanku?. Rasanya terlalu
tidak adil untukku. Aku merasa diberi harapan yang tinggi, tapi tidak untuk
diwujudkan, buktinya pada saat ayahku bertanya, ia menjawab dengan tertawa
kecil. Sungguh tidak terlihat keseriusan yang aku idam-idamkan. Maafkan aku,
Zafran! Aku harus melakukan sesuatu.
Aku
tau, kepastian adalah hak Tuhan. Memastikan adalah tugas manusia. Tapi memastikan
aku menjadi milikmu adalah tugasmu. Iya tugasmu!
Entah kenapa kebanyakan tanda seru malah jadi bingung, ini narasinya dilafalkan dengan semangat membara 45 kah dari protagonisnya ? -_- betewe, penggunaan affix "di-" untuk menunjukkan tempat/posisi itu dipisah yo kak :v oiya, ortu jenis apa yg bertanya ke seorang pemuda yg datang ke rumahnya niatan melamar ? Trus dijawab dengan alasan lain lalu tidak ada yang bingung atau ketawa di adegan itu ? -_-
ReplyDeletebacanya boleh ala blogger expert aja.. mau diajarin juga apa?.
ReplyDeleteutk affix, makasih.. berusaha utk tdk salah, tapi masih ada yg salah kah? udh dicari ga ketemu.
trus utk masalah narasi, ya makasih lagi, tapi cerita ini mau fokus ke perempuan aja, jadi hanya deskripsi ekspresi perempuannya aja.
betewe, ajarin lah biar ekspert ha anak sholeh!!!!!
keknya kemaren ada deh affix-nya. Itu juga ada kalimat janggal : ganjal :V
Deletesini lah maen ke UR makanya kaaak
iya ketemu kok, udah kakak ganti. Makasih haha.
Deletelhoh? kenapa dengan ganjal? ada kok di KBBI, red..
mesti UR kah?
ini aja udah mumet utk eps limaa..
Redy kebayang ganja :v *fix absurd*
DeleteMesti lah, sekalian kaka lunasin hutang2 kakak yo
Redy juga butuh bantuan, mau kerjain proyek besar sebelum tahun ajaran besok diusahain dah selesai, butuh bantuan dan masukan
Broken Heart redy bentar lagi udah mau tamat di part 5 nanti yuhuuuuu
idih kriminal~` -_-
Deletetmpat nongkrong ga adak di UR loh.. gamungkin kakak main di sekre bem kan ya~
haha hutang eskrim kan? oke2
hah? kok main tamat aja.. ini eps lima kakak tah kayamana.. katanya mau bantuin.. tipu2~
Wkwkwk
DeleteUdah harus tamat emang, harus fokus proyek serius lagi kak
Taman UR luas, perpus ur kece jugak
Ya makanya yoklah sini, kita diskusi