29's Warrior #5of29
Mencoba untuk memulai semuanya.
Memulai yang seharusnya sudah kuakhiri dari awal. Entah apa yang menyebabkan
pertahanan ini goyah; luluh; jatuh kemudian hancur. Aku merasakan kenyamanan
yang selama ini belum kurasakan. Ketika kau memiliki “orang” yang setia
mendengarkan apa saja yang kau keluhkan, berikan solusi atas berbagai
permasalahan dan relakan bahunya sebagai sandaran, tangannya rangkul
kejatuhanmu, menurutku itulah definisi kenyamanan secara pasti. Dan dia berikan
itu. Semuanya.
Zafran adalah pendengar yang
baik, terbukti dari semua usaha-usaha yang sudah ia lakukan hampir satu bulan
terakhir. Hubungannya apa? Oke abaikan. Singkatnya, mengusahakan lunaknya keras
hatiku saja dia bisa, apalagi hanya untuk duduk manis mendengarkan ceritaku setiap
hari, hanya dengan berkata Oh.., Iya.., terus.., kok bisa.. hmm.. itu saja
sudah cukup. Terkadang disuatu saat kita hanya butuh didengarkan.
“Sabtu depan ada live performance resital biola Saya
sudah beli e-ticketnya. Kodenya nanti saya kirimkan. Semoga suka.”
Membaca pesan singkat yang
berjalan cepat di papan informasi kamarku. Kukucek mata perih setelah membaca
novel best seller karangan penulis favoritku. Khawatir, huruf-huruf informasi
yang berjalan di papan itu keliru; mengada-ngada atau bahkan halusinasiku saja.
Dengan segera kunyalakan ponselku, kemudian membaca ulang pesan tersebut dengan
patah-patah. Oke benar, aku tidak salah baca. Sangat jelas, pesan itu tidak
memerlukan penjelasan lebih panjang. Memperbaiki posisi duduk agar mendapatkan
posisi sehat untuk berinteraksi dengan ponsel, ya setidaknya jaraknya tidak
kurang dari 30 cm. Saking bahagianya, ponselku hampir sedekat hidung. Haha.
“Terimakasih, Insya Allaah saya
tidak ada agenda. Sekali lagi terimakasih.” Kukirim pesan basa-basi yang sebenarnya
menunggu kode tiket yang sudah dipesan.
Ini adalah zaman akhir abad 21,
dimana semuanya memanfaatkan kecanggihan teknologi. Dunia berkembang, begitupun
ilmu pengetahuan. Manusia saling berlomba untuk menemukan “apa saja” yang mampu
memudahkan pekerjaan mereka. Yap! Seperti informasi berjalan di kamarku,
sebenarnya itu adalah jelmaan dari kegunaan gadget, kita tidak harus
memegangnya, cukup dilihat saja huruf-huruf yang berjalan silih berganti dan
tentunya untuk menghindari radiasi langsung yang akan merusak sistem kerja otak
sebagai pengendali tubuh. Keluarga kami sudah 7 tahun meminimalisir penggunaan
ponsel, kecuali untuk hal yang urgent
dan mendesak. Meski memiliki dampak positif yang luar biasa ini, perkembangan
ilmu teknologi juga memiliki dampak yang buruk bagi pengguna yang tidak
selektif. Agar optimalisasi penggunaan gadget ini berjalan dengan baik, maka
kita perlu melakukan inovasi baru dalam menggunakannya.
Memikirkan fenomena ini, 7 tahun
lalu Kandaku seorang lulusan institute teknologi terbaik di negeri ini
memberikan ultimatum di keluarga kami. Kanda adalah anak pertama Ibu dan
Ayahku. Beliau adalah orang yang sangat didengarkan pendapatnya mengenai
apapun. Hidupnya penuh pertimbangan matang dan pemikiran bijaksana, maka tidak
heran ketika ultimatum itu dikeluarkan, tidak ada yang berani memprotes apalagi
melakukan penolakan. “Di rumah ini, haram hukumnya menggunakan ponsel, karena
tidak ada yang lebih penting dari keluarga ini. Kita harus memaksimalkan
kebersamaan kita titik” kira-kira bunyi peraturannya seperti itu. Dan pada
waktu itu mungkin ada jiwa-jiwa yang ingin memberontak, tapi tak kuasa
melakukannya.
Kanda adalah orang yang sangat aware sekali dengan masalah social. Kepedulian
yang berlebihan itu bukan hanya kelebaian semata, tapi sudah melakukan
kajian-kajian panjang. Ya, walaupun kanda tidak mempunyai ilmu kejiwaan yang
cukup mumpuni, tapi semua tindakannya itu hampir tidak ada yang merugikan. Begitupun
di rumah ini, beliau tidak ingin anggota keluarga menjadi “Gadget Addict”, yang
berdampak pada jiwa social setiap anggota keluarga. Ketakutan itu tidak hanya tinggal
menjadi masalah, tapi beliau menghadirkan solusi yang sangat jitu.
Dengan basic keilmuan yang sudah diperoleh pada saat di bangku kuliah,
Kanda membuat semacam papan dari rangkaian listrik yang mampu mentransmisi
pesan dari mana saja. Kita hanya tinggal memasang receiver yang sudah terprogram dari pusat untuk menerima pesan yang
dikirimkan. Di rumah ini disediakan tempat menuliskan informasi atau pesan di
tiga spot, pertama di kamar Ibu, kedua di ruang makan, ketiga di ruang
keluarga. Itu adalah tempat penting di rumah ini, selain toilet yang kebetulan tidak dipasang karena mengingat
satu dan lain hal. Sedangkan untuk papannya sendiri terpasang disetiap kamar
agar informasi menyebar kesemua anggota keluarga. Program ini sudah berjalan
hampir 7 tahun, dan setelah dideteksi ternyata mampu meningkatkan persentase jiwa
social keluarga ini secara keseluruhan. Bahkan hal paling sepelepun kadang
dilakukan di papan itu, seperti Ibu memanggil untuk makan malam atau alarm
untuk sholat berjamaah. Rangkaian itu sudah otomatis untuk anggota keluarga. Bagi
yang tidak termasuk didalamnya maka hanya perlu mengetahui id nya saja, kita
sudah bisa terhubung dengan papan canggih tersebut, dan sudah pasti akan
terbaca disemua papan yang terhubung. Kerennya lagi, papan ini juga bisa
dikoneksikan ke ponsel penggunanya hanya dengan mengarahkan sensornya ke papan
tersebut. Sedikit banyak ini sangat membantu. [Ps: Jangan membayangkan ini
adalah papan kayu].
Teringat masa 7 tahun yang lalu,
mengapa gagasan papan informasi ajaib itu muncul. Suatu malam yang bahagia, kami sekeluarga
sedang berada dihadapan piring masing-masing. Malam itu Ibu membuat menu special
kesukaan semuanya. Kegiatan tadi siang membuat semuanya tidak sabar ingin
menghabiskan masakan Ibu yang memang sudah memanggil sedari tadi. “Makan aku..
makan aku”, kira-kira begitulah bunyinya. CanapĂ©
kecil-kecil sudah hampir ludes sebagai appetizer
malam itu. Tinggallah ketidaksabaran untuk menghabiskan main course yang sudah
tergelatak manis dalam cawannya. Sebelum kejadian itu terjadi, ada kemarahan
menyeruak yang mungkin menghilangkan nafsu makan dalam sekali helaan nafas.
Aku beranjak dari kursi setelah
memakan 3 canape bagianku, setelah mendengar ponselku berbunyi kecil. Berjalan menuju
kamar dan mengambilnya kemudian membawa ke ruang makan. Pesan itu dari ketua
organisasiku di kampus, dan harus sesegeranya dibalas. Berjalan kembali ke
ruang makan sambil melihat ponsel, ternyata di ujung sana ada yang sudah
menatapku tajam. “Tidak bisakah menunggu sampai makan malam selesai untuk
membalas pesan itu?”. Kira-kira begitulah bunyi tatapan itu. Kanda! Di keluarga
ini, Kanda adalah orang yang sangat menghargai waktu, apalagi waktu bersama
kami semua. Biasanya ia akan menghindarkan semua yang mengganggu jika kita
sedang bersama. Tapi malam itu aku melakukan kesalahan besar. Aku terlalu egois
dengan kehidupanku. Akhirnya keluarlah ultimatum bahwa tidak ada yang boleh
memainkan gadget selama berada di dalam rumah, kecuali sangat urgent. Karena menurut kanda, hal yang
paling urgent di dunia ini adalah
masalah keluarga.
***
Bayangan masa lalu itu masih
jelas bermain di kepalaku, sampai aku merasakan ada yang bergerak warna-warni
di papan informasi.
“Kode tiket!”, seruku hampir
meloncat. Secepatnya kumatikan ponsel, kemudian mengambil kertas mencatat kode
yang berjalan dengan cekatan.
Kesenangan mendapatkan tiket konser tersebut, sampai aku lupa bahwa itu akan menjadi bahan pertanyaan besar
kanda karena pesan itu sudah masuk ke dalam sistem papan informasi. Apakah kode
tiket itu akan memicu masalah besar dan mendapatkan ultimatum (lagi), atau
malah itu menjadi tiket ke neraka. *eh!
*Appetizer: Makanan pembuka.
*Canape: Open sandwich yang
dipotong kecil-kecil 3 atau 4 cm sama sisi.
Note: Maafkan episode lima yang
harus jeda satu minggu lebih, karena ada sedikit yang menghalangi ide itu
muncul. Banyak dosa mungkin. Okelah, semoga pembaca yang budiman suka. Kalau ada
yang keliru, mohon disampaikan lagi. Hehe. Dan mohon doakan ide episode enam
muncul secepatnya ya… *smile emoticon*. Sampai jumpa disepertiga malam. Hahah!
Hari ini, ucapan terimakasih
untuk Kak Sinyo, Trainer parenting yang datang ke sekolah. Sampai jumpa lagi,
Kak! :D
Finally, i've been waiting so long for this one (y)...
ReplyDeleteGo On !!!
What the MasyaAllaah~
DeleteThank you for visitiiiiiing~
Romance nya gak berasa. Ini tapi genrenya teenlite. Jgn malu2 buat eksplor untuk narasi perasaannya kak :v
ReplyDeleteKata "papan" mungkin bisa diganti dengan "panel", klo redy sih bayanginnya kayak panel led berjalan yang bisa gerak2 itu.
Ayolaaah masi kurang berasa dramanya kaaak :v
romance edukasi gengs~ haha
Deleteredy plis ini bukan teenlit haaaa.. pliss.
ha itu yg kakak maksud dri kmarin.. gapunya konsultasi teknik kkak..
malas trrlalu drama red.. buatkan lima episode lah klau gitu~~
Nanti kalo redy buat 5 episode, 3 episodenya genre action 1 episodenya genre supranatural, yang terakhir baru jadi drama teenlite lagi.
DeleteSusah mau buat narasi dengan point of view tokoh utama perempuan. Dedek sulit memahami perempuan kaak :v
episode action itu nnti di pertengahan red~ belum dekat2 iniii.. cepet bgt iki~
Deleterecomended juga tuh aura2 supranatural ya, blum ke gambar sama kakak hahah
curhat lagi bocah inii.. yakan bisa ambil pemeran pendukung red.. abang2nya gituu~ ayolah~
haaa berarti nanti tunggu dekat-dekat episode yg action aja lah kalo gitu
Deletetu nanti tettiba ganti point of view gitu ? gak bagus menurut redy kalo cerita tu ganti2 PoV nya