RPM-2 [Senyum]
Assalamu'alaikum!
Dipagi yang terang secerah hati ini, ada pipi merona yang mengguratkan kebahagiaan. Ada bunga-bunga yang berguguran di sekitarnya. Ada balon-balon menerbangkan hatinya. Ada daun-daun gugur menghiasi kursi di taman cintanya. Adaa.. Ah, ada-ada saja!
Perihal sebab-sebab kebahagiaan itupun tidak mampu terbahasakan dalam
tulisan singkat ini. Tidak melulu hal-hal besar, bahkan hal-hal kecil
yang ia lakukan, membuat hati ini bahagia tak terperi.
Tidak bunga, tidak kado, tidak kue, tapi senyum lembutnya setiap memandang ku, itu adalah definisi cinta versi terbaru dalam kamus hidupku. Dan dalam diam pura-pura tidak tahu, aku bahagia. Entah bagian mana dari senyum itu yang membuatku tak bisa bernapas untuk sejenak. Kurasa seluruh partikel dengan seluruh frekuensi dan panjang gelombang rambatannya. Kurasa tulisan ini mulai tidak beraturan. Ya karena bersamamu aku selalu merasa tidak teratur disatu bagian; jantung!
Dalam senyum indahmu, aku menemukan kasih sayang yang sesungguhnya. Dalam manisnya tatapanmu, aku melihat Ridho Allah dalam berkahnya. Dalam lembutnya tutur lisanmu, aku tak bisa berkata-kata.
Begitulah saat ini, aku nyaris kehabisan kata-kata. Mungkin baiknya tulisan ini diakhiri dulu.
Terima kasih untuk sejuta senyum hangat yang selalu diperuntukkan untukku. Ah, tiba-tiba saja aku rindu! Ingin menatapmu lalu kemudian menghilang dimatamu. Eh, tapi setelah hilang bagaimana cara kembali? Oh mungkin aku memang harus menetap saja disana, dan tidak pernah kedinginan di dunia yang fana ini. Iya mungkin begitulah!
Cerita ini terinspirasi dari cerita lucu kita kemarin sore. Ketika kepala sekolah bertanya, apa rasanya setelah menikah. Dan kau menjawab lugas, ringkas, dan lagi-lagi membuatku tersenyum tanpa mendengarkan tanpa bersuara.
X: ................................
Y: ................................
X: "Semoga Pak Iqbal bisa menempatkan diri sebagai guru di sekolah dan sebagai suami di rumah".
Y: "InsyaAllah, Pak. Saya akan berusaha. Tapi kalau ketemu saya tetap senyum, Pak."
X: "Ya.. memang begitu harusnyaaaa" (Kau berkata dengan tertawa lepas)
X: "Ya.. memang begitu harusnyaaaa" (Kau berkata dengan tertawa lepas)
Aih, jawaban itu sukses membuat pertahanan tawaku pecah. Lalu kita berdua tertawa membayangkan cerita lucu dengan jawaban polos tanpa rekayasa itu.
Kamu menegaskan, bahwa tidak akan hilang senyummu untukku. Tanpa diutarakan pun aku sudah mengetahuinya dengan pasti. Tersenyum lalu bicara hanya satu kalimat "sudah makan"? lalu kita berlalu dengan pikiran masing-masing, kerap kali kita lakukan ketika tidak sengaja berpapasan di sekolah, atau seolah-olah tidak sengaja mungkin! Haha
"Senyummu kepada saudaramu adalah Ibadah"
Tapi senyummu kepadaku, membuat ibadahku lebih indah. Senyuman ketika selesai sholat sunnah, senyuman ketika sedang muroja'ah, senyuman ketika membaca buku, senyuman ketika membohongiku bahwa masakan hari ini enak, senyuman membantuku mengangkat pakaian, dan seluruh senyum yang kau mulai dengan memandangku dengan setulus hati, kemudian hening. Secara langsung ataupun tidak, yang diam-diam atau terang-terangan. Apapun itu, aku tahu itu selalu kamu.
Semoga Allah tetapkan senyum-senyum kebaikan dihari-hari manis kita, sebagaimana kebahagiaan-kebahagiaan yang ingin kita gandengkan bersamanya.
Semoga Allah kokohkan kita berdua dalam senyum mensyukuri nikmatNya.
Sudah yaaa..
Good Morning, My Lion!

Comments
Post a Comment