[Merdu Untukmu-Hujan]
[BacaJugaMerduUntukmu]
Langit biru telah
kelabu
Awan berarak sendu
Bumi bertasbih senandung lirih
Awan berarak sendu
Bumi bertasbih senandung lirih
Gerimispun
membasahi
Sudut-sudut hati
Tumpahkan semua
Puisi rasa dalam nyata
Kubiarkan hujan mengawal rinduku
Padamu yang indah di sana
Kuhanyutkan hati menembus cintamu
Dan akupun merasa bahagia
Padamu yang indah di sana
Kuhanyutkan hati menembus cintamu
Dan akupun merasa bahagia
*****************************************************************
Lagu di atas adalah salah satu
lagu favorit di play list handphone. Dinyanyikan oleh Ali Sastra pada tahun dua
ribu sekian pada Album bertajuk Soulful. Sebenarnya data itu tidak akan mempengaruhi kemana arah dari
tulisan ini. Maafkanlah!
Tak
ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Menabahkan
hati menahan rindu suatu pagi menepis temu, aku pasti kalah! Tak bisa
kurahasiakan rasa ini. Ketika rindu tidak lagi 5 huruf, seketika itu pula
hujan mengalir lembut di sudut mata kecilku. Aku merindukannya. Aku merindukan
suara imutnya, aku merindukan sapaan lembutnya, aku merindukan semuanya. Apa
yang bisa kulakukan ketika bayangan kenangan itu berkelabat mesra dikepalaku. Merusak
tenangnya? Tentu saja tidak akan kulakukan apapun alasannya.
Suatu
sore, terlintas satu nama di kepalaku. Namanya. Pertemuan yang terjadi diantara kita hanyalah satu
kali. Kalian bayangkan bagaimana bisa kita bumi hanguskan kenangan indah itu secepat perubahan warna titrasi iodometri. Tidak
banyak yang sudah kita bagikan dengan sekali pertemuan itu. Kita hanya
berkomunikasi dengan bantuan kecanggihan teknologi. Dengan bertanya kabar di
bbm, atau berkirim nyanyian via whatsapp, saling tag dan komen di instagram
bahkan berjualan stiker line. Terkadang dalam suatu kesempatan kita menggunakan
semuanya bersamaan. Sudah sepatutnya kita berterimakasih kepada fasilitator yang baik
itu. Bisa mendekatkan yang jauh dan menyatukan yang terpisah. Seperti kita.
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Setiap hari kita jalani rutinitas masing-masing di tempat
yang berbeda. Disela kegiatan kita, tidak lupa kita bagikan kabar dari bumi
kita berpijak. Mengenai apa saja. Tentang teman, tentang dosen, tentang
makanan, tentang rumah, tentang kucing *eh haha. Kondisi ini membuatku nyaman di posisi itu. Dijadikan tempat pengaduan hidupnya
membuatku memaknai hubungan kita lebih baik. Kakak-adik.
Hari-hari yang kita jalani tentu
akan berganti setiap hari. Tibalah kita pada masa dimana kita memiliki tempat
pencurahan hati yang lain dan merasa tidak “perlu” berkabar satu sama lain. Awalnya
merasa biasa saja dengan keadaan ini, tapi akhirnya rindu ini memuncak. Rindu ini
tidak bisa dikendalikan. Tapi hati yang lebih keras memaksa untuk tidak merusak
teguhnya disana. Hatiku ragu untuk menyampaikannya. Berharap hujan
menghapusnya dan membawanya ke muara.
Nyanyian ini, "Kubiarkan hujan
mengawal rinduku padamu yang indah disana…"
Rindu!
Ingat satu-satunya novel Tere
Liye yang paling menyebalkan. Yang mana? Nah yang ini sinopsisnya. "Apalah
arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti
kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan
sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan”. Sinopsisnya langsung ke
perasaan, tapi halaman pertamanya musim Haji. Hehe malah bicara masalah kapal. Menyebalkan!
:D *peace gen(g)!*
Rindu;
bukan hanya perihal lama tidak bertemu, tapi juga ketika kita tidak bisa
membersamai. Rindu juga bukan hanya tentang matahari yang lama tak bersinar,
tapi juga tentang hujan. Ketika mendung pun menyerah, tak kuasa lagi
mengelabukannya, hanya sanggup teteskan rinai.
Sesungguhnya bukan
melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Jika kita bisa menerima, maka
kita bisa melupakan. Tapi jika kita tidak bisa menerima, kita tidak akan pernah
melupakan. Adikku, baiklah disana. Sungguh tak akan kulupakan kenangan indah
bersamamu. Malam-malam penuh senyum merekah karena kekonyolan tak terbendung.
Tak
ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu”
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu”
Kubiarkan rindu ini tak terucap ditelan masa. Mengalir deras ke Indralaya. Tersapu
air langit!

Comments
Post a Comment