[Merdu Untukmu-Bukan Sok Tau]
Bukan ku sok tahu kawan, sok nasehati
Tapi ku yakin ini yang benar untuk kau ikuti
Bukan ku sok pintar kawan, sok menggurui
Tapi ku yakin terbaik untuk kau jalani
Tapi ku yakin ini yang benar untuk kau ikuti
Bukan ku sok pintar kawan, sok menggurui
Tapi ku yakin terbaik untuk kau jalani
Kurasa bersalah saat ku tak menegurmu
Kurasa tak enak hati kawan jika tinggalkanmu
Kurasa tak sempurna iman di dalam dadaku
Kuingin kita semua kawan bersama di syurga
Lagu
ini baru kudengar sekitar 3 tahunan. Menurutku lagu ini sarat akan nasehat
kebaikan. Lagu ini mengajarkan kepada kita untuk saling mengingatkan satu sama
lain. Bukan berarti lebih tau, tapi mengingatkan yang terlupa, menggali yang
tertimbun, memunculkan yang tersembunyi. Begitu kira-kira analisa singkatku.
Dan lagu ini memang ampuh untuk membuat kita peduli terhadap saudara kita. Ya
saudara kita yang menjauh dari syari’at atau aturan agama. Tidak enak rasanya
di syurga sendirian kan? Semoga kita tetap bisa saling mengingatkan dalam
kebaikan, saling nasehat menasehati kehidupan.
Mungkin
beberapa kasus pernah kita jumpai yang berhubungan dengan narasi di atas.
Seperti; masih ada orang yang membicarakan aib saudaranya sendiri, belum
menutup aurat dengan baik, atau bahkan yang masih biasa saja bersentuhan dengan
yang bukan mahromnya. Permasalahan ini muncul bukan karena mereka tidak
mengetahui hukum Allaah akan hal ini. Mereka tau. Kita tau! Bahkan sangat tau
hukum dari setiap pelanggaran yang dengan halus kita lakukan. Terkadang tidak
dengan perasaan bersalah. Astaghfirullaah.
Sebagaimana
yang dikatakan Ibnu Qayyim:
Kita
mengetahui, bahwa ucapan “Subhanallahi wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam
sehari akan menghapus dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di
lautan. Akan tetapi sayang, berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita
mengucapkannya sedikitpun.
Kita
mengetahui, bahwa pahala dua rakaat Dhuha setara dengan pahala 360 shodaqoh,
akan tetapi sayang, hari berganti hari tanpa kita berdiri sejenak ketika
matahari sepenggalah tingginya.
Kita
mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allaah satu hari saja akan
dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan.
Tapi sayang, kita tidak bisa menahan lapar di senin-kamis atau hari-hari yang
disunnahkan lainnya.
Kita
mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70 ribu
malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tapi sayang, kita belum menyempatkan
diri menjenguk satu orang sakit pekan ini.
Kita
mengetahui, bahwa siapa yang membantu membangun masjid karena Allaah walaupun
hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di syurga. Tapi
sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun dengan
berapa puluh ribu.
Kita
mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya
seperti berjihad I jalan Allaah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang
hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur. Tapi
sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang janda pun dan anak
yatimnya.
Kita
mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari AL-Quran baginya sepuluh
kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita
sering tidak meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran dalam jadwal harian kita.
Kita
mengetahui, bahwa haji yang mabrur; tidak ada pahala baginya kecuali syurga dan
diampuni dosa-dosaanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh
ibunya. Tapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita
mampu.
Kita
mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang paling banyak
sholat malam, dan bahwasanya Rasulullaah dan para sahabat tidak pernah
meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi
sayang, kita terlalu enak tidur di atas kasur empuk di malam buta.
Kita
mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi tanpa ada keraguan, dan pada hari
itu Allaah akan membangkitkan semua yang ada dalam kubur. Tapi sayang, kita
tidak pernah mempersiapkan diri untuk itu.
Kita
mengetahui, bahwa membicarakan aib saudara adalah seperti memakan bangkai
saudara kita sendiri. Tapi sayang, kita merasa enak dengan bangkai yang
menjijikkan tersebut.
Kita
mengetahui, bahwa aurat kita harus ditutupi dengan menjulurkan jilbab kita
sesuai dengan aturan Al-Quran. Tapi sayang, kita masih membiarkan keindahan
tubuh kita masih dikonsumsi oleh mata-mata tidak bertanggung jawab.
Kita
mengetahui, bahwa bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom
di akhirat nanti kulit kita akan ditusuk paku besi panas. Tapi sayang, kita
tidak pernah mengingat sakitnya paku itu nanti.
Kita
sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita. Tapi sayang,
kita selalu larut dengan senda gurau dan permainan dunia, seakan kita mendapat
jaminan hidup selamanya dan tidak akan menyusul mereka.
Saudaraku
sayang, semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan
mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi. Hari
dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia ini. Hari
ketika lisan kita dikuncii, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita menjadi saksi
yang berbicara. Dan pada hari itu juga, setiap orang akan lari dari saudaranya,
Ibu dan Bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena pada hari itu setiap orang
akan disibukkan dengan urusannya masing-masing.
Mohon
jangan maknai ini sebagai bentuk melebihi, ini hanya sebentuk nasehat untuk
kita semua dan pastinya untuk diri sendiri. Diri yang masih jauh dari kata
baik. Diri yang masih ringan berbuat jahat. Diri yang masih biasa berbuat
maksiat. Sebelum Allaah cabut nikmat saling mengingatkan di dunia ini, maka
manfaatkanlah! Impian kita sama, hidup berdampingan di syurga nanti.
Saudaraku seiman,
kembalilah! Kembalilah kepada Allaah!
Selamat malam, sahabat! Tetaplah menjadi baik.
Setidaknya lebih baik dari hari kemarin.
Wassalam
Comments
Post a Comment