22 Coretan Putri Matahari #10
Ini mengenai masa-masa indah SMP dan SMA ku. Aku
dipertemukan dengan orang-orang penuh kehangatan. Ibunya ibuku, Ibuku ibu
mereka juga. Mengawali persekolahan SMP, layaknya sekolah lain, disini kami
juga dimulai dari kelas VII hingga kelas IX. Kami dipisahkan dengan jarak
ketidak kenalan. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal mereka yang ditempatkan
di VII satu, sedangkan aku mendekam di VII lima, bahkan satu orang lagi di
sekolah yang berbeda. Meskipun kita berada pada kursi yang berbeda pada saat itu,
tapi suatu masa kita dikumpulkan dalam satu keluarga besar. Keluarga SEPATU,
hingga Tripaichi yang sampai saat ini tidak ada generasi yang mampu mengalahkan
kekompakan kita pada masa itu. Tidak ada yang rela salah satu dari kita
diganggu oleh yang lain. Coba saja ada satu orang yang mengusik salah satu dari
kita, maka semuanya akan turun tanpa komando untuk menyelesaikan masalah ini.
Menulis di meja yang berbeda, tidak menyebabkan kita
untuk tidak bisa berjabat tangan 3 tahun setelahnya. Pertama sekali aku
mengenalinya di kelas kebanggaan seantero MTsN Kota Payakumbuh. IX.2. Kelas
seleb, karena di dalamnya memang banyak terdapat selebriti sekolah, kelas
ribut, karena siswanya memang ketua geng pada waktu itu, dan sekaligus kelas
favorit karena dikelas itu juga juara umum sekolah bersal. Alhamdulillah.
Aku ingin membahas yang pertama dulu. Sahabat baik
sahabatku pada waktu itu. Citra Dewi Hamami. Menuliskan namanya pada saat ini
air mataku mengalir deras, sangat rindu dengan sosok penuh cinta ini. Aku mengenalinya
melalui seorang sahabatku, namanya Ainul Mardhiah. Mengenalinya karena kita
ditakdirkan untuk satu kelas di akhir masa SMP. Tidak banyak yang aku kenali di
kelas itu, selain beberapa sahabatku pada kelas VII lalu. Dan tidak banyak juga
yang ingin kukenali lebih jauh di kelas itu sebenarnya, karena mereka sudah
punya teman masing-masing dan aku merasa kurang berhak untuk memisahkan
sahabat-sahabat lama itu.
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa pada waktu itu,
kita saling bertegur sapa satu sama lain, saling bertukar pendapat, saling
melemparkan senyuman yang tidak seberapa ini bahkan tidak jarang kita saling
bernyanyi bersama mengisi kebahagiaan ketidakhadiran guru pada hari itu.
Seketika jarak yang ingin aku ciptakan, mulai hilang. Kami adalah teman satu
kelas yang harus saling membagi apapun satu sama lain. Entah ada angin apa kita
menjadi dekat, kita menjadi teman yang tidak bisa terpisahkan dan bahkan
menjadi bagian satu dan yang lainnya.
Ia sangat menyayangiku sampai saat ini. Masih peduli dengan
kehidupanku. Masih peduli dengan apa saja yang terjadi padaku. Masih meberikan
semangat dalam keadaan apapun. Masih merindukanku untuk secepatnya pulang agar
kita bisa berkumpu lagi. Mamanya adalah mamaku, bahkan ketika pulang rasanya
aku harus mengunjungi rumah itu juga, tapi terkadang aku takut untuk
melakukannya. Banyak hal yang tidak bisa kulupakan darinya, salah satunya
ciuman dan pelukan hangat seorang sahabat. Jika bertemu, ia pasti akan
memelukku sangat erat. Dan kami akan terdiam untuk beberapa saat.
Kita pernah memiliki rutinitas yang sama pada saat di
sekolah, walaupun sekarang kesibukan kita sangat jauh berbeda. Dulu kita sering
sholat dhuha bersama, buka puasa bersama, kajian bersama, rapat OSIS bersama,
piket bersama, menjadi pengurus forum an-nisa bersama. Ia adalah ketua yang
baik, dan aku adalah bendahara yang handal juga pada saat itu, hehe. Hanya satu
yang tidak ia lalui bersamaku. Aku seorang sekretaris di gudep kami, dan ia
tidak mengikuti ekskul yang sangat aku sukai ini. Tidak menyukai pramuka bukan
berarti kita harus terpisahkan kan, kita hanya tidak bersama pada jumat sore
saja.
Dimasa itu tidak ada yang memperlakukanku seistimewa itu.
Ia orang hebat, orang yang sangat berpengaruh di sekolah kami, ia adalah utusan
provinsi untuk speech contest nasional pada waktu itu. Passion kita memang
berbeda pada saat itu. Ia dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang luar biasa,
aku bekeliling di bumi Allah melalui kecintaanku pada pramuka yang sangat
mendalam pada saat itu, bahkan sampai saat ini dan nanti. Tidak pernah rasa
sombong itu menghinggapi dirinya, selalu rendah hati dan humble ini sifat yang
sangat kental dengan perempuan berkelahiran 17 November 1993 ini. Abangnya
Agus, kakaknya Bunga dan namanya Citra, keluarga ABC, dan aku bisa menjadi
adiknya, karena namaku Dini.
Putri pasangan bapak dan Ibu Sulthani sekarang sedang
menyelesaikan study nya di jurusan Farmasi Unand. Tidak bisa aku bayangkan
betapa juga sibuknya ia dengan rutinitas farmasi dan sebagai pengurus BEM, tapi
support dan motivasinya sangat berarti bagiku, walaupun hanya sesekali aku
dapatkan. Dengan panggilan sayangnya “Mbik-mbik” aku merasa beruntung menjadi
sejumput bagian dari hidupnya. Semoga Inyun selalu bahagia dan sehat selalu.
Setali tiga uang dengan sahabatku yang menghabiskan
masa-masa ini dengan menelusuri Payakumbuh-Padang. Rindu dengan suara tertawa
gadis Padang Tangah ini. Khilda Rahmi Zaki, yang aku kenal beberapa tahun yang
lalu ketika kita disatukan dalam kelas belajar UN SMP. Jadi pada waktu itu,
kami dikelompokkan berdasarkan kemampuan menjawab soal. Jadi tertakdirkanlah
kami dikelas F, dan ini kelas ekslusif, belajar disediakan TV, buku banyak tapi
tidak dituntut terlalu banyak. Jadi zamn itu masih laku-lakunya MTV ampuh,
dikelas itu kami belajar satu jam lebih, kemudian nonton MTV ampuh, selesai
itu, pindah channel ke Silet, abis silet FTV siang, ini kapan belajarnya?? Ah
ya, kami belajarnya pagi tadi saja. Sudah diberikan kesempatan satu kelas,
tidak membuat kami dekat, bahkan untuk bertegur sapa saja sangat jarang. Apa
yang menyebabkan itu terjadi?? Tidak bisa kumengerti hingga saat ini.
Tanpa mengurangi rasa hormat, aku ingin melupakan
masa-masa dimana kita tidak saling mengenal, masa-masa dimana kita tidak saling
bertegur sapa apalagi saling melemparkan senyuman, masa-masa saya Dini dan dia
Rahmi. Sekarang kita adalah kita, Rubik dan Acho. Dia memanggilku Rubik,
katanya karena aku sangat menyukai kerupuk, semua jenis kerupuk. Biar singkron
dengan makanan kesukaan, namanya diganti saja, Rubik. Ah benar juga, haha.aku
senang dengan panggilan itu, bahkan ketika ia memanggilku dengan “Dini”, aku
merasakan suatu yang tidak beres. Anaknya yang to the point tidak suka basa
basi, mengajarkanku menjadi orang yang tegas, tidak banyak retorika, karena itu
tidak terlalu penting. Ia penyuka jam tangan. Koleksinya sangat banyak, dan ini
sangat singkron dengan kebiasaan “In Time”nya, tidak pernah datang terlambat ke
sekolah, padahal rumahnya paling jauh diantara kita berempat. Datang 30 menit
sebelum bel masuk berbunyi menurut anak kedua dari dua bersaudara ini, itu
sudah biasa. Sangat jauh berbeda denganku, rumah paling dekat, datang paling
lama. Dan ini yang sering menjadi bahan omelan Acho. Dan hingga saat ini aku
belum bisa menjadi seperti itu, datang setengah jam lebih awal, menurutku itu
terlalu berlebihan, tapi jika dianalisis lebih lanjut, banyak hal positif yang
tidak aku ketahui dari itu semua. Izinkan aku untuk bisa In Time, dan tidak
panik dalam kondisi apapun seperti yang dicontohkannya Tuhaan. Haha. Acho, mohon
tetaplah menjadi alarmku, reminder atau apapun itu. Bertemu dengannya karena
Tuhan mengirimnya untukku, karena Tuhan yang sudah menuliskannya, penulis di
atas penulis.
Berbeda dengan sahabatku yang sangat luar biasa
menghormati semua keputusan ayah dan ibunya. Sangat mencintai keluarganya di
atas apapun. Ayahnya adalah pemutus semua pilihannya. Aku sangat menyukai
prinsipnya. Namanya Aisyah Gari. Sangat cantik, baik, sholehah, comic addict,
apapun komik pasti dibacanya, dan bakal rela-relain minjam ke rumah temannya
yang cukup jauh. Pertemuan pertama kami di SMA, pada masa Ospek sekolah. Jadi
pada hari itu adalah hari terakhir Ospek sekolah, dan wajib menginap di sekolah
yang notabenenya agak serem gimana gitu. Ah, itu informasi yang sangat tidak
perlu. Perkenalan kita sekitar jam 03.00 dini hari di halaman sekolah. Pada
saat itu kami adalah kandidat “Amir Amiroh” dari angkatan Ospek kali ini. Amir
amiroh itu sama seperti King and Queen MOS, semacam itu lah, lebih tepatnya
bahasa Arabnya. Bertemu di pos terakhir, disana ada kakak tingkat yang menguji
bidang pengetahuan sekaligus mengajarkan senam. Masih melekat diingatan
bagaimana kami bersenam ria didinginnya sepertiga malam yang digunakan para
shalafus shalih untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, untuk menghabiskan
waktu bersama Tuhannya, quality time kalau anak zaman sekarang bilang. Saat itu
memaksa kami untuk saling berkenalan, karena tidak ada yang kukenal disana,
atau lebih tepatnya lagi tidak ada orang lagi disana. Berkenalan singkat
kemudian bercerita mengenai apa saja yang terlintas pada saat itu untuk
menghilangkan rasa dingin dan rasa takut yang lebih kuat daripada rasa dingin
ini. Dari cerita itu aku bisa menangkap ia anak yang sangat berbakti kepada
orangtua terutama ayahnya. Ya mungkin semua orang berbakti kepada ayahnya,
tidak mungkin tidak saya rasa, tapi banyak yang bisa saya petik dari apa yang
diceritakannya pada waktu itu. Pada waktu itu aku berharap bisa jadi anak
perempuan sepertinya. Ia anak rumahan, jarang main keluar, kalaupun keluar
paling banter itu hanya mengajak adik nya untuk bermain. Ija yang cantik
layaknya Khadijah seperti namanya, Aga yang gantengnya layaknya namanya
Sulaiman Gari, dan Uud adiknya yang waktu itu masih malu-malu bertemu kami. Ia
dibesarkan di dalam keluarga yang sangat Islami, jangan kaget kalau main ke
rumahnya, adiknya yang laki-laki akan berjalan sambil menundukkan pandangannya.
Waw, salah satu kebiasaan laki-laki yang sangat aku sukai, MENUNDUKKAN
PANDANGAN. Sorry capslock jebol. Diantara kami berempat, ia adalah yang paling
banyak disukai oleh teman ataupun kakak tingkat. Astaghfirulloh beruntung itu
tidak terjadi kepadaku. Jadi ada kakak inii dan kakak itu.. Oh sudah, tidak
perlu membahas masalah ini sepertinya. Lanjut lagi, dari kebersaman kami mungkin
ia adalah anggota yang paling sering absen untuk bersama. Ini tentu menjadi
masalah pada saat itu, tapi sekarang setelah pemikiran ku lebih baik dari
sebelumnya, ini adalah suatu hal yang harus dilakukan anak perempuan ketika
dilarang atau diperintahkan oleh ayahnya. Okeh terimakasih telah mengajarkanku
untuk menyikapi keputusan Ayah dan Ibu, mengajariku menerima keputusan Ayah dan
Ibu, bahkan kebijakan yang mungkin menurutku itu sangat.. sangat apa.. aku
tidak bisa mengungkapkannya. Terimakasih, tetaplah menjadi kakak yang baik,
menjadi anak pertama yang membanggakan. Karena diantara kita berempat, hanya
gadis yang memanggilku “Dino” ini yang merupakan anak sulung, dan kami bertiga
adalah anak bungsu. Ya anak bungsu yang tidak MANJA.
Comments
Post a Comment