22 Coretan Putri Matahari #8



Memantapkan hati untuk menuliskan bagian ini, dengan perlahan mulai menuliskan apa yang sedang dirasakan. Bagian ini merupakan bagian yang agak sulit dibandingkan yang lain, karena dengan tidak sengaja parit di pipi ini hampir terbentuk dan bersiap mengaliri selokan dibawahnya. Memantapkan hati menuliskan ini sama saja dengan mengulang kembali ingatan dua tahun yang lalu. Pertama kali bapak masuk ke kelas kami, dan pada saat yang sama kami terpesona dengan kharisma keimanan yang terpancar dari wajah bapak.  Tidak hanya kharisma keimanan, tapi juga kharisma intelektual yang tidak bisa dipungkiri, terlihat jelas dimata siapapun yang memandang beliau.
Bapak Lazulva, M.Si, dosen kimia fisika kelas A sampai kelas D pada waktu itu. Pertama melihat bapak, pastinya tidak ada manusia yang tidak akan kagum dengan sosok sederhana ini. Good looking, menyebabkan beliau dengan mudah mengambil alih perhatian kami. Dengan mata kuliah ini, KIMIA FISIKA, begitu banyak gambaran dari beberapa senior yang bersedia kami waawancarai pada waktu itu, mulai dari mata kuliah yang sangat sulit hingga banyaknya kakak tingkat yang tidak mendapatkan nilai memuaskan pada mata kuliah ini. Spekulasi negatif seperti ini sebenarnya sedikit membawa dampak buruk bagi kami. Tapi entah mengapa, rasa khawatir itu susah untuk dihadirkan pada waktu itu, pada waktu bapak memasuki kelas kami untuk pertama kalinya.
Rasanya menyakitkan jikalau kita harus mengulang kembali kenangan yang sudah terukir sejak lama. Tidak perlu harus membiarkan air mata ini mengalir disela penulisan ini. Seorang dosen yang sangat luar biasa, memiliki ilmu yang tidak terbatas untuk mahasiswanya. Masuk kelas dengan langkah sholeh, menebar senyuman keikhlasan, kemudian membuka pelajaran dengan cara menarik, saya rasa tidak akan ada mahasiswa yang tidak akan mengerti apa yang beliau sampaikan.
Menyalurkan ilmu dengan keimanan itu rasanya jauh lebih indah, dibandingkan mentransfer ilmu dengan keilmuan. Beliau melakukan itu, mengajar dengan hati, berharap ilmu itu juga akan menembus hati nantinya. Ketika bapak sudah melakukan itu, kami dengan malu-malu akan membuka hati untuk satu mata kuliah 3 sks dalam 1 semester ini. Pembukaan hati ini bukan main-main. Terdapat harapan besar didalamnya, semoga mata kuliah ini menjadi lebih bersahabat untuk mahasiswa yang sering gegana seperti kami ini.
Mengajarkan banyak hal, itu memang tugas dosen, tapi ini beda. Sangat berbeda, beliau mengajarkan yang sebenarnya tidak harus beliau ajarkan. Beliau membawa kami ke dalam dunia nyata, kemudian menghubungkannya dengan materi pada hari tersebut. Ah, ya banyak aturan sopan santun yang beliau ajarkan kepada kami, terutama anak perempuannya. Sembari pembelajaran beliau memperlihatkan bahwa beliau ingin melindungi kami, melindungi kami anak-anak perempuannya.
Beliau dosen yang sangat enjoyable. Sangat terbukti, kami bisa menjadi diri sendiri dengan baik, menjadi anak manja, menjadi anak yang tidak bisa mandiri, menjadi anak yang tidak suka makan, menjadi apa saja. Beliau tidak pernah komplen dengan sikap yang kami tampilkan selagi masih dalam konteks kebaikan.
Beliau adalah bapak saya, yang sudah saya anggap seperti bapak sendiri. Terimakasih untuk semua yang sudah bapak lakukan sehingga membuat kami merasa nyaman bersama bapak. Bapak yang selalu bertanya dini sudah sarapan, kalau jawabannya belum, pertanyaan diganti menjadi makan malamnya ada??. Kalau jawabannya masih belum, beliau akan menatap dengan tatapan yang tidak bisa saya deskripsikan, tatapan penuh ketulusan, lalu kemudian beliau mengatakan, dini, jaga kesehatan tu, kalau bukan kita yang menjaga diri kita siapa lagi.
Dosen berwajah menyenangkan ini, selalu tersenyum dalam segala keadaan. Jadi pernah suatu jumat, kami sedang berada di rumah beliau. Seketika beliau mendapatkan telfon dari mahasiswa bimbingan akademik beliau yang bermasalah. Suara mahasiswa itu terdengar nyaring diujung telpfon sana, kami hanya mendengarkan penuh khidmat, sesekali memperhatikan wajah bapak yang sangat kami kagumi itu. Sedetikpun tidak pernah hilang dari raut wajah beliau lengkungan sneyuman manis itu, beliau berbicara layaknya tidak seperti dosen yang harus menjaga suara ketegasan dnegan mahasiswanya, dan satu lagi, senyuman itu tidak pudar dari wajah yeng tenag itu. Jadi ada suatu kata yang membuat saya terhenyak. Sebenarnya saya marah. Marah dengan junior yang kurang sopan dalam berbicara dengan dosen, marah mengapa dia tidak mendengarkan penjelasan kami saja, marah karena bapak terlalu baik untuk kasuss ini. Diakhir pembicaraan itu, junior kami ini mengucapkan kata-kata yang harus disampaikannya pada pembukaan perbincangan dengan bapak “maaf ya pak mengganggu”, dan kalian tau jawaban beliau apa?? Beliau menjawab dengan lembut, bahkan lebih lembut dari suara saya sebagai perempuan, “Ga, ga ganggu kok”. What?????? Bagaimana ceritanya tidak terganggu?? Jelas ini sangat mengganggu siang beliau yang menyenangkan sekembalinya dari sholat jumat. Jelas ini sangat mengganggu. Dan ah, bapaaakkk..
Tak sanggup menuliskan tulisan ini lebih lanjut, sungguh saya tidak sanggup. Beliau yang setiap jumat menyuguhkan bubur kacang ijo, yang notabenenya saya tidak suka, tapi berkat bapak, saya jadi menyukai bubur yang membuat kerongkongan terasa perih ini. Beliau yang sangat khawatir ketika tangan saya diberi salam persahabatan dari fenol p.a, beliau bahkan meminta sahabat saya untuk mencari apa obat yang dapat menyembuhkan iritasi akibat fenol tersebut. Beliau yang berkaca-kaca saat saya mengucapkan bahwa lab sudah menjadi bagian dari hidup saya, dan saya tahu itu, tangisan itu bisa saja pecah jika beliau tidak berusaha kuat untu menahannya. Dan kalian tau, itulah untuk pertama kalinya kami tidak sanggup untuk menatap mata beliau, mata yang selalu berbinar-binar mendengarkan semua cerita kami, cerita yang tidak penting sebenarnya, mata yang selalu menatap dengan penuh kasih sayang, mata yang selalu menenangkan saat gundah gulana menerpa, mataa yang sangat menenangkan itu. Dan pada hari ini mata itu memancarkan sinar redup yang menandakan beliau dalam keadaan yang tidak baik. Yaa tidak baik, karena kita tidak akan bisa bertemu dengan sering, karena beliau tidak bisa untuk membully kami lagi, karena tidak ada lagi tawa yang akan menghiasi waktu makan siang beliau di labor, saya rasa inilah yang beliau rasakan, kawan. Tidak ada lagi rasanya yang bisa disembunyikan dari beliau, bahkan sampai suatu yang sangat rahasiapun beliau mengetahui dnegan detail. Khawatir dengan pendapat beliau pada waktu itu mengenai hal ini, tapi ternyata kekhawatiran ini tidak beralasan sebenarnya, dan ini terbukti dengan baik, beliau hanya tersenyum, kemudian melanjutkan bullyan yang masih belum selesai.
Pasti akan rindu sosok bapak yang sangat perhatian ini, sosok bapak yang selalu ingin tau dengan semua apa yang terjadi terhadap kami, bapak yang selalu traktir makan siang dan bapak yang selalu mengingatkan untuk semua yang berhubungan dengan keselamatan kami. Dan satu lagi, akan sangat merindukan satu kata ini “hati-hati yah”, sangat tenang mendengarnya bapaaak.
Tuhan, kami sangat menyayangi beliau, layaknya Engkau menyayanginya. Lindungi beliau dalam naunganMu selalu, berikan beliau kebahagiaan di dunia ini dan akhiratMu yang sesungguhnya. Terimakasih untuk semua kebaikan yang bapak lakukan, inspirasi yang bapak tebarkan, ketulusan yang bapak berikan. Jikalau ada yang bertanya darimana kami belajar kebaikan, jawabannya dari bapak, dari mana kami belajar kasih sayang, jawabannya dari bapak, dari mana kami belajar ketulusan, semua jawabannya dari bapak. Terimakasih bapak kami, semoga dedek yang akan bergabung bersama kita nanti menjadi anak yang luar biasa seperti bapak. Ya seperti bapak.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29