22 Coretan Putri Matahari #4



Aku mengenali beliau semenjak dulu. Dulu sekali. Sebelum raja negara api menjadi raja. Haha. Begitulah. Tidak sanggup untuk memperpanjang prolog, akan kulanjutkan ini dengan sisa tenaga yang kupunya. Beliau adalah panutan 7 orang di keluarga besar bahagia kami, beliau adalah yang menjadikan kami mampu berdiri hari ini, beliau adalah yang mampu menghadirkan pelangi ketika badai melanda, beliau adalah penyejuk dikala dahaga melanda, beliau adalah... beliau adalah Bapakku. Ya bapakku, lelaki hebat yang sangat aku sayangi, yang namya akan dihapal oleh seseorang nanti, yang namanya menjadi penghalal aku bagi seseorang nanti. Ya NANTI, Insyaallah.

 
Bapakku hanya manusia biasa, tidak semulia nabi ataupun sesuci para sufi. Tapi beliau berusaha menjadikan kami malaikat-malaikatnya yang akan bersamanya di syurga nanti. Beliau hanya manusia biasa, yang sholat lima waktu tidak mau di rumah, yang sholat sunnah rawatibnya tidak pernah ketinggalan, yang dhuhanya didedikasikan untuk putra putrinya setiap matahari sepenggalah tingginya. Astaghfirulloh, aku bukannya ingin memamerkan bapakku layaknya barang, TIDAK sama sekali.
Aku sangat dekat dengan sosok ini, mungkin karena faktor genetik *nahlo. Maaf, maksudku, mungkin karena anak perempuan itu memang agak lebih dekat sama bapaknya dari pada Ibunya. Apalagi seorang anak bungsu yang notabenenya sangat dimanja. Tapi aku tidak dimanja sama sekali. Tidak. Kedekatan kami terbilang sederhana, berawal dari kelahiranku yang disambut olehnya, kulit kami bersentuhan satu sama lain, pada waktu itu aku belum sempat memikirkan mana yang mahrom ataupun yang tidak, kemudian beliau menggendongku dengan penuh kasih sayang dan mengumandangkan iqomah lalu kemudian membaca surat yang sangat istimewa dihatiku hingga sekarang. Pada saat yang sama beliau bimbang untuk menyapa yang mana terlebih dahulu, putri kecilnya atau bidadari syurganya. Tapi entah mengapa pilihan itu jatuh kepadaku, keapda orang yang baru masuk ke kehidupannya. Aku bahagia bisa mengalahkan eksistensi seorang bidadari syurga pada waktu itu, dan anehnya bidadari syuga itu hanya tersenyum menyaksikan adegan ini tanpa cemburu sedikitpun.
Pada kesempatan selanjutnya beliau mengajakku pulang ke rumahnya, dan lagi-lagi aku tidak bisa menolaknya apalagi untuk berpikir panjang aku akan diapakan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak usah menghindarinya lagi, berhenti memikirkan mahrom atau tidak, baik atau tidak dan berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Aku berjanji akan selalu mengikutinya kemanapun arah yang akan ditujunya. Akan kuikuti selama aku mampu.
Seiring kebersamaan kita akhirnya menghasilkan hubungan yang sangat spesial. Aku tidak bisa jauh dari beliau, aku tidak bisa hidup tanpa doa dan kasih sayang beliau, aku tidak akan bisa apa-apa tanpa beliau. Dan berharap hubungan ini akan kekal sampai nanti, sampai di tempat terindah yang kita semua inginkan untuk berkumpul disana. Kuhabiskan masa kecil lebih banyak bersama beliau, bermain bersama, meminta diantar ke sekolah *main dulu baru sekolah gitu ya*, meminta ditemani tidur, meminta disuapkan makan, meminta dibacakan cerita ketika aku bosan, meminta di ajak ke Masjid untuk sholat berjamaah. Aku baru ingat, jadi pada saat itu aku masih berumur belia, belum TK. Dulu kala aku sangat suka tidur siang dan makan teratur, walaupun ini tidak ada hubungannya sebenarnya. Waktu itu aku ingin sekali ikut untuk sholat ashar di masjid bersama bapak, karena apa? Setiap selesai sholat sebelum pulang, aku selalu dihadang oleh nenek-nenek lalu kemudian memberiku bebeapa lembar uang yang pada saat itu sangat tinggi harganya. Haha bukan karena itu juga aku menginginkan sholat berjamaah di masjid, tapi sedikit banyaknya, itu motivasi yang bagus. Dan siang itu aku sengaja tidur siang dulu, supaya tidak mengantuk pada saat ashar nanti, tapi ternyata tidurku kebablasan, aku tidak terbangun sebelum bapak pergi ke masjid. Tapi setelah mendengar bapakku azan, barulah mataku agak terbuka, dan langsung berdiri mencari bapak, ternyata bapak sudah pergi ke masjid. Pada saat yang sama aku menangis sejadi-jadinya, ini serius seserius masalah ini. Mengapa bapak tidak membangunkanku untuk diajak ke amsjid, mengapa bapak membiarkanku tertidur pada waktu itu, mengapa. Sampai saat inipun aku tidak bisa menjawabnya, sama seperti ketika aku pulang dari perantauan dan ketiduran di azan shubuh, bapak tidak pernah membangunkanku untuk sholat bersama. Aku tidak tau mengapa seperti ini. Apakah kecintaannya kepada anaknya mengalahkan cintanya kepada Tuhannya, saya rasa tidak. Tidak mungkin. Tuhan ampuni dosa bapak yang terukir karena kecintaan beliau terhadapku. Ampunii beliau.
Sekarang terpisah dengan jarak ratusan kilo, rasanya hampir membunuhku, melanjutkan hubungan jarak jauh ini sering kali membuatku gila. Aku sangat merindukannya setiap hari, walaupun kita bisa berjumpa via suara, rasanya ini tidak cukup mumpuni mengahapus kerinduan ini. Aku yakin, beliau juga merindukan kehadiranku di rumah, putri kecil yang 22 tahun yang lalu selalu mengganggu tidur malanya, putri kecil yang selalu menyita istirahat siangnya, putri kecil yang tidak bisa tidur tanpa usapan punggung darinya. Ahh.. masa itu terkadang membuatku menyalahkan perjalanan waktu yang tidak bisa dihentikan.
Kerinduan itu beralasan. Terbukti jika aku pulang ke rumah, wajah itu menyambutku dengan penuh harap, tidak henti-henti menelponku dalam perjalanan, dan ketika masa-masa di rumahku berakhir, biasanya 2 hari sebelum keberangkatanku ke perantauan, beliau terlihat uring-uringan tidak karuan, cerita kita mulai tidak jelas, aku tidak tahu pasti ini syndrom apa pemirsa. Itu dua hari sebelum keberangkatan. Pas hari keberangkatan, beda lagi kisahnya, pagi-pagi jam 6 beliau memintaku untuk sarapan dan bersiap memakai baju dan ingin mengantarku ke tempat penantian bus, padahal keberangkatanku jam 11. Aku tidak tahu, ini usiran secara halus atau apa, dan ini berlangsung setiap kali aku akan kembali ke negeri orang yang jaraknya tidak erlalu jauh dari kampung halamanku. Ah ya, satu hal yang paling aku suka dari padegan keberangkatanku, bapak selalu masuk kamarku, lalu kemudian diam-diam memberi ku uang, dan ini sudah ritual sejak lama. Aku tidak cukup banyak ilmu untuk mengetahui mengapa bapak melakukan itu, tapi yang pasti aku sangat menantikan waktu bapak masuk ke kamarku, lalu kemudian meyelipkan uang di tasku, dan bapak tidak pernah lupa, walaupun ingatnya karena kode keras yang sering aku lakukan. Haha terpaksa ingat jadinya.
Begitulah bapakku, yang hanya memiliki satu pesan “kalau ada waktu, janganlah dilupa sholat tahajjud ya..” hanya satu itu yang selalu menjadi oesan wajib beliau, berbicara langsng ataupun melalui via telpon. Dengan bahasa kalau ada waktu, ya pasti ada waktu sebenarnya, itukan malam, bapak.. tapi terkadang kenyataan agak berbeda. Jadinya ketika pesan cinta ini tidak tertunaikan, maka aku akan malu kepada dua hal, bapakk dan Tuhanku.
Bapakku bukan orang yang pemarah, pengakuan Ibuku, sudah puluhan tahun menikah, sekalipun belum pernah bapak marah, marah kepada Ibu, anak apalagi cucunya. Belum pernah. Itu pengakuan ibuku, tapi sepengetahuanku bapak pernah memarahi abang. Jadi pada waktu itu aku sedang bermain di kamar sendirian, kemudian abang datang menggangguku. Aku berteriak menangis sekencang-kencangnya, padahal abang tidak mengganggu apa-apa, tapi akunya lebay, *emang anak alay haha. Lalu pada kejadian itu bapak memarahi abang, dengan memberi abang uang jajan dan menyuruhnya untuk bermain dengan teman-temannya saja, dan jangan menggangguku lagi. Astaghfirulloh apa yang aku lakukan pada waktu itu. Sungguh memalukan dan memilukan.
Bapak orang yang senang tertawa dan mencubit siapa saja yang ada di dekat beliau. Teamnku yang datang ke ruma saja kaget dengan cubitan yang langsung mendarat dari bapak pada waktu kita lagi belajar kelompok *ini waktu saya masih SD. Iya, kalau tidak percaya silakan datang ke rumah dan buktikan. Semua temanku, teman abangku, teman udaku, teman uniku, menurut bapak adalah anaknya, yang bisa diperlakukan layaknya anaknya, jadi terkadang para teman-teman itu merindukan bapak kami, bukan kami sebagai teman-teman mereka. Ahh terkadang memang begitu, bapak bisa lebih eksis dari apa yang aku bayangkan. Tidak heran jika seminggu di Perawang beliau bisa memiliki beberapa teman di Masjid sana, apalagi puluhan tahun di Payakumbuh, ya sudah pasti kalau sedang berjalan banyak yang menegur sapa, dan jika aku bertanya itu siapa, beliau dengan yakin menjawab “teman bapak”, padahal itu lebih cocoknya teman abangku. Masya Allah. Oleh karena itu, aku sangat ingin memiliki orang yang mengenalku dimanapun aku menginjakkan kakiku.
Banyak yang sudah diajarkan bapak kepadaku. Banyak sekali. Beliau memainkan perannya dnegan sangaaat baik. Tapi maaf, aku belum bisa menjadi seperti yang bapak ajarkan. Tiap hari membaca buku hadits semoga tidak ada sunnah Nabi yang aku lewatkan, rasanya masih belum bisa aku lakukan dengan baik sampai saat ini, sholat tahajjud dengan ikhlas, rasanya aku masih terpaksa karena malu sama Tuhan jikalau bangun esok pagi, tersenyum disaat keadaan sulit, belum mampu aku lakukan dan menurutku sangat sulit. Sangat jahat ternyata, bapak saja sudah membuktikan semuanya kepadaku, tapi aku masih belum percaya. Astaghfirulloh. Tapi ada satu yang tidak bisa dibedakan antara bapak dan aku, kita sama-sama pencinta kerupuk, dan itu aku pelajari dari beliau, bapakku, pencinta martabak hitam, dan tea addict.
Bapak, maaf tidak banyak yang bisa kudeskripsikan disini, aku takut jika semuanya tergambar dengan baik disini akan ada orang yang dengan sangat mudah mendekati bapak nanti, tanpa seleksi ketat haha.
Bapak terimakasih untuk smeua yang sudah bapak ajarkan kepada kami, bapak adalah lelaki terbaik yang dikirim Tuhan sebagai kompas dalam kehidupan kami. Terimakasih bapak, kami menyayangi bapak. Sangat menyayangi bapak. Doakan kami selalu dalam sujud bapak, dan mohon halalkan makan dan minum kami selama ini. Terimakasih tulus telah mencintai kami sepenuh hati jiwa dan raga.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29