22 Coretan Putri Matahari #5
Bagian ini akan mengisahkan, jadi pada suatu hari dalam
hidupku, aku jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Ada seorang laki-laki datang ke
rumah dengan gagahnya berjalan mantap ke arah pintu rumahku. Kemudian dengan
suara menggetarkan hati pemuda itu mengucapkan salam yang kemudian dijawab oleh
penghuni rumah itu. Pada saat yang sama aku malu-malu untuk menatap matanya,
mungkin disebabkan ini adalah pertemuan pertama kami. Aku tidak tau persis kami
bertemu sebelumnya, tapi perasaanku mengatakan bahwa ada rasa yang berbeda
ketika melihat pemuda itu. Dengan pelan-pelan ia berusaha untuk mendekatiku
yang duduk dipangkuan bapakku, pada malam itu. Seketika aku langsung mendekap
kuat bapakku, dan menghindar dari pemuda itu. Anehnya, pemuda itu hanya tertawa
kemudian memberikan coklat yang bertuliskan roka dikulitnya yang berwarna emas.
Lalu kemudian dengan secepat kilat ku ambil coklat itu kemudian bersembunyi
dibalik punggung bapakku.
Kejadian ini tidak hanya berhenti malam itu. Siapa yang
menyangka bahwa laki-laki tersebut tinggal di rumahku, terbukti pagi itu aku
menemuinya tertidur disebelah ibuku. Sontak seketika itu aku terkejut. Siapa
orang ini sebenarnya?? Aku tidak tau. Mengapa orang ini tinggal di rumahku,
memanggil Ibu dan bapakku dengan panggilan yang sama, bahkan lebih lembut dari
yang aku bayangkan. Kalau itu saja aku mungkin tidak akan terlalu
memikirkannya, tapi orang ini juga tidak bosan-bosannya mengajakku untuk
mengucapkan satu kata saja kepadanya. Tapi aku tidak mau. Tidak mau.
Suatu ketika aku sedang membantu ibuku memasak di dapur,
lalu kemudian pemuda tadi turun ke dapur, kemudian berusaha mendekat kepadaku.
Untung pada saat itu aku sedang dalam keadaan siap, ditanganku ada sebuah pisau
mantan eh bekas kupasan bawang merah Ibuku. Seketika itu juga aku lemparkan
pisau tersebut kepada laki-laki tersebut seperti film action di TV. Pisau itu
hampir mengenai pelipisnya, jika ia tidak menghindar ke arah 15 derajat ke arah
barat daya pada waktu itu. Pada saat itu aku merasa bangga terhadap diriku
sendiri, ternyata bakat memanahku bisa dikatakan cukup bagus untuk pemula. Dan
pada saat itu, pemuda itu masih saja tersenyum dengan senyum yang sama seperti
senyum yang lalu-lalu, senyum yang tenang dan menenangkan. Kenapaaahhhh?? Aku
tidak tau pada saat itu.
Seminggu berlalu, laki-laki itu berpamitan kepada ibu dan
bapakku dengan mencium tangan beliau lembut. Aku menyaksikan adegan itu masih
dengan tatapan bingung, siapa orang inii Tuhan. Walaupun Ibuku telah
memberitahuku siapa pemuda itu, tapi aku masih tidak memahami itu dengan baik,
entah mengapa pola pikirku pada waktu itu sangat buruk. Melepas kepergian
pemuda itu, Ibu Bapakku terlihat sedih. Apa yang beliau berdua lakukan, siapa
orang ini. Aku masih saja dengan pemikiranku yang tidak jelas.
Pada saat itu aku berumur 4 tahun sekian bulan, ketika
aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya dalam hidupku. Ketika untuk pertama
kalinya kau bertemu dengannya. Bertemu Udaku, anak pertama Ibuku. Pada waktu
itu adalah pertemuan pertamaku dengannya, karena beliau bekerja disuatu daerah
yang jaraknya ratusan kilometer dari kampung halaman kami. Tapi pada waktu itu
aku membuatnya kecewa dalam senyumannya, aku tidak mau disentuh olehnya,
apalagi digendong layaknya anak-anak lain bersama abangnya. Aku telah
membuatnya kecewa pada waktu itu, bahkan
aku hampir saja membunuhnya dengan melempar pisau ke arahnya. Mengingat lagi
kejadian itu, aku rasa harus memarahi diriku sendiri, mengapa aku harus
bersikap sekonyol itu pada waktu itu. Andai saja aku lebih mengerti sedikit
saja, tentu ini akan jauh lebih baik.
Kenangan diumur 4 tahunku itu tidak menyebabkan perubahan
yang signifikan. Pemuda tadi tetaplah udaku, anak pertama ibuku yang membuatku
jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Walaupun pada saat itu aku hampir melukainya,
tapi itu tidak membuat hubungan kita memburuk sampai saat ini. Bahkan lebih
lucunya, aku memiliki kontak batin yang lebih kuat dibandingkan dengan ibuku.
Udaku bisa dengan cepat mendeteksi dari jauh bahwa aku dalam keadaan sakit,
bahkan bisa dengan mudah menebak aku lagi makan apa.
Beliau selalu memantau perkembanganku dari jauh. Terbukti
sampai aku kuliah beliau masih saja menjadi orang yang pertama memikirkan
kehidupanku yang nantinya akan jauh dari Ibu dan Bapak, dan ini tidak mudah.
Jadi pada semester 1 dan 2, aku merasa hidupku sangat teratur dengan kontrolan
dari uda. Uda menelponku 4 kali sehari, lebih satu dari makan obat. Telpon
pertama membangunkanku untuk sholat shubuh, telpon kedua mengingatkanku untuk
sarapan pagi, telpon ketiga dan keempat untuk makan siang dan makan malam, lalu
telpon terakhir hanya untuk menyuruhku untuk tidak begadang dan segera tidur,
bahkan tidak jarang hanya untuk bertanya apa yang sedang aku lakukan, kemudian
beliau mengucapkan salam untuk malam ini. Begitu setiap hari, aku sangat ingat
masa itu. Dan aku sangat merindukan masa-masa itu.
Udaku adalah orang paling romantis di dunia yang aku
kenal selama 22 tahun ini. Ah ya, aku sangat cemburu dalam hal ini. Sampai saat
ini, sampai memiliki anak 3, Udaku tidak pernah memanggil kakak iparku dengan
namanya. Tidak pernah. “Yank”, itu yang menjadi panggilannya untuk istri
tercintanya. Uda tidak pernah marah?? Ya pernah, bagaimana bisa uda tidak
pernah marah. Kemarahan uda tidak menyebabkan perubahan panggilannya kepada
istrinya. Begini contohnya, “Gimana sih Yank, itu Rafie kok bisa benjol
kepalanya?”. Dalam keadaan marahpun, keromantisan itu tidak bisa hilang dari
dirinya. Bagaimana bisa aku tidak belajar hal itu dari udaku. Aku sangat
belajar banyak dari beliau dan sangat berharap sesuatu. Ah semoga saja. Haha
mulai tidak fokus.
Jarak umur kita adalah 30 tahun. Jarak yang cukup gila
untuk hubungan adik kakak, mungkin bisa untuk hubungan ayah dan anak. Tapi kami
tidak terlihat seperti ayah dan anak, bahkan kami lebih terlihat seperti teman.
Uda selalu bercerita tentang klub bola kesukaanku, Arsenal. Uda selalu
menceritakan yang baik-baik tentang klub yang sangat aku cintai itu, tidak
seperti yang lain yang selalu membullyku dalam kekalahan. Uda selalu marah
padaku, jika aku tidak menonton bola ketika klub tersebut main, bahkan pada
saat itu aku belajar untuk UAS Kimia Organik, tapi uda tetap saja memaksaku
untuk menonton bola pada malam itu. Uda juga selalu menelponku untuk
mengingatkan ku jadwal motogp, bahkan aku juga tidak boleh melewatkan satu seri
saja dari kelas para raja itu. Udaku bahkan merekam race motogp seri Mugello,
karena pada hari itu aku sedang ada kegiatan BEM. Uda juga terkadang
menjadikanku tempat bertanya, ketika mata abang terguyur NaOH. Menurut uda, itu
bisa dinetralisir dengan larutan asam layaknya reaksi penetralan. Lalu uda
bertanya kepadaku, itu boleh atau tidak. Oh astaghfirulloh, apa yang uda
lakukaaan. Haha. Ah beliau sangat all out dalam melakukan perannya sebagai uda,
sebagai anak pertama, sebagai panutan kehidupan kami, sebagai pereda rasa sakit
Ibu pada waktu itu. Uda terimakasih tulus untuk semuanya. Semuanya.
Sayaaaaaaaang Uda ({})
Satu lagi kejadian yang hampir mirip dengan uda
pertamaku, aku sempat tidak mengenali udaku yang kedua sekembalinya beliau dari
kalimantan. Tapi kembali lagi dengan coklat semua itu bisa berubah kawan. Haha.
Ia adalah sosok yang paling ditakuti di rumah bahkan oleh Uda pertamaku, padahal
beliau adalah adiknya. Ada sesuatu yang membuat kami takut. Entah apa, sampai
saat ini masih menjadi spekulasi. Uda keduaku, Zulfakhri adalah orang yang
sangat menyayangi Ibu, tidak ada yang mengalahkan cintanya sama Ibu, dan aku
menyadari itu. Banyak yang sudah dilakukannya untuk Ibu, pokoknya semua Ibu,
sakit ingat Ibu, makan ingat Ibu. Tidak bisa terpisah jauh dari Ibu, padahal
jarak Pekanbaru Payakumbuh saja. Sangat lebay memang, tapi itu udaku, yang
sangat mencintai Ibu.
Kisah cintanya 180 derajat berbeda dengan cerita di atas,
sebelum menikah dengan kakak iparku, beliau adalah laki-laki yang ditinggalkan
pergi untuk selama-lamanya oleh wanita yang sudah menjadi bagian hidupnya
beberapa tahun terkahir. Belum sempat menikah, hanya dekat saja, kakak ini
sudah dipanggil yang Kuasa kehadapannya. Bertahun-tahun lamanya Udaku menjadi
orang yang tertutup dan tidak membuka hatinya untuk siapapun. Siapapun.
Bertahun-tahun dan bukan waktu yang singkat. Sampai pada suatu malam ia bertemu
seorang gadis yang turun dari bus di simpang jalan rumah kami. Pengakuan yang
kudapatkan, beliau langsung berkenalan, lalu dua seminggu kemudian mengutarakan
niat untuk menikahi wanita itu. Alhamdllah ‘alaa kulli haal untuk semua, Allah
tidak mengizinkannya untuk mengotori hati kakak yang baik hati itu, dan juga
tidak mengizinkan ia untuk mengotori hatinya. Jadilah seminggu kemudian beliau
menikah, ijab qabul hari jumat, tepat sebelum Uniku dinikahkan oleh bapakku.
Dan bagian ini sangat menyakitkan, aku tidak menyaksikan kejadian sakral itu
terjadi, dan ini terjadi beruntun untuk semua Uda Uni dan abangku. Tidak ada
yang Ijab Qabulnya aku saksikan, sekarang hanya tinggal satu lagi abang, dan
ini menjadi harus. Harus. Tidak akan kulewatkan moment itu.
Comments
Post a Comment