22 Coretan Putri Matahari #13



Hai cantik!! Hai anak Batam, aku mencintaimu karena Allah. Ini sahabatku yang berasal dari pulau seberang. Namanya Riska Rahmadhani. Lahir di Batam, tapi sebenarnya adalah orang Bangkinang, dan satu kesalahan sudah dilakukannya sebagai orang Bangkinang, ia tidak bisa berbahasa Ocu. Berdomisili, dibesarkan dan bersekolah di Kota besar itu tidak membuatnya merasa menjadi orang lebih beruntung dari pada kami berempat. Ia tetaplah gadis cantik berkaca mata yang baik dan tidak sombong. Katanya wajahnya membuat adik praktikannya grogi karena takut. Tapi dibalik itu ia menyimpan aura bintang yang akan terpancar tanpa bisa dihambat sedikitpun.
Cewe kelahiran bulan Maret telah mengisi hidupku sejak tiga setengah tahun yang lalu. Pada waktu pertama jumpa, aku takut untuk mengulurkan tangan padanya, takut untuk menanyakan namanya, bahkan untuk tersenyum saja aku tak sanggup. Cieeh. Akhirnya aku dipertemukan dalam sebuah ikatan persahabatan tanpa kutau siapa yang memulainya. Kakaknya Dila ini berteman tidak pernah setengah-setengah, ia melakukan semuanya dengan all out. Rasanya dengan kondisinya yang paling lemah diantara kami semua, ia tidak akan sanggup melakukan itu, tapi dengan kekuatan cintanya, semua ketidakmungkinan menjadi mungkin.
Hidup berdampingan dengannya membuatku mengerti arti cinta dan ketulusan. Tidak banyak bicara, apalagi basa-basi dan menulis indah itu adalah kelemahannya. Tapi kelebihannya adalah pelawak handal, yang bisa membuat kami tertawa terpingkal-pingkal tidak sadarkan diri karena kelucuannya, bukan karena isi dari lawakannya, tapi karena ketidaklucuannya sama sekali. Ini sering terjadi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, yaa kami tertawa seadanya bahkan dibuat-buat. Tapi kalau diingat-ingat ini sungguh lucu.
Mencintai dengan caranya sendiri, menyemangati dengan caranya sendiri, tetap elegant dan tidak lebay, katanya glowing in the dark. Haha. Memang diantara kami semua ia lebih gaul. Tapi gaulnya positif loh. Positif menunjukkan kalau kami kalah gaul sama anak ayah satu ini. Mahasiswi bercatatan rapi ini tidak pernah henti memberikan support untukku, padahal dirinya juga tidak kalah galaunya pada saat ini. Semester akhir ini meyebabkan kita berpisah diberbagai kesempatan. Ternyata tidak enak hidup tanpa ada yang mengingatkan, hidup tanpa ada yang suka marahkan. Katanya jangan tunggu waktu senggang untuk makan, tapi luangkan waktu untuk makan, jangan tidur larut malam karena tubuh punya hak atas diri ini. Pada saat ceramah singkat ini aku serasa memiliki dokter pribadi atau ahli gizi pribadi yang siap mengobati kapan saja.
Riska tidak banyak yang bisa kutuangkan disini, bukan kaena apa-apa, karena itu aku mencintaimu dengan cara sederhana tidak cengeng. Cintaku kuungkapka melalui doa dhuha dan tahajjudku setiap malam. Terimakasih sudah memberikan apapun dalam perjalanan hidupku. Dalam langkah yang aku rasa tidak akan bisa kujalani sendiri tanpa ada sahabat seperti Riska disisiku. Semoga tidak takut lagi naik gunung, karena kami akan ada bersamamu, disampingmu. Hai, I LOVE YOU!!.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29