22 Coretan Putri Matahari #6



Ini uniku, yang dilahirkan jauh sebelumku. Beliau anak ketiga Ibuku dan Putri pertama yang menghiasi keluarga kami pada waktu itu. Dengan kelahiran uni, aku rasa ibu tidak menginginkan lagi anak perempuan, haha. Sebelum aku lahir hanya dua orang yang memanggilnya dengan sebutan ini, Uni. Tapi setelah aku lahir, aku juga ikutan memanggilnya dengan panggilan itu, bedanya aku tidak pernah bermain kelereng bersama uni dan tidak pernah juga digigit pipinya sampai terluka yang hingga saat ini bekas itu masih ada di pipi abangku, ini terjadi bukan atas kesengajaan, tapi atas dasar kegeraman uniku yang tidak terkendali pada waktu itu. UNI tiga huruf untuk tiga kata U dibaca You, N dibaca aNd, I dibaca AI. Kita sempat terpisahkan jarak dan waktu, dan ini menyebabkan kita tidak mengahabiskan masa kecil bersama, tidak bisa membuat uni bermain denganku layaknya bermain dengan abang-abang sebelumku. Pada saat aku dilahirkan uni sedang menyelesaikan studynya disebuah pondok pesantren terbaik di Sumatera Barat. Mencari ilmu tidak dihentikannya sampai disitu. Setelah tamat dari pondok pesantren itu, beliau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol.  Hal inilah yang menyebabkanku sering kali mengunjungi warung telkom untuk bertegur sapa dengan Uni terbaik sepanjang zaman yang dikirim Tuhan untukku. Waktu itu baru ada wartel, belum punya handphone secanggih era milenium ini. 

 
Pada waktu itu aku menceritakan apa saja, bahkan hanya berbicara sebentar saja sudah cukup. Tidak jarang masa libur weekend aku habiskan bersamanya di Padang dengan melihat pantai yang menakjubkan. Hari-hari penuh keceriaan tetap saja akan berakhir ketika senin mulai menghadang, aku harus kembali pulang untuk bersekolah esok hari, supaya menjadi anak pintar layaknya uniku.
LDR yang menyiksa ini tidak menyebabkan kita benar-benar terpisah. Sempat bingung saat pertama bertemu, tapi kemudian luluh dengan nutrisari, Taro dan Nata de Coco yang dibawakan pulang untukku. Sangat gila labil memang jiwaku pada saat itu. Ternyata ini bawaan lahir haha. Menjadi adiknya menjadi kebahagiaan untukku, yang kalau pada saat itu karena setiap pulang aku dibawakan 3 oleh-oleh wajib di atas. Yee parah memang. Di rumah beliau adalah orang yang paling pintar, lulus cumlaude dan tamat tepat pada waktunya, kemudian mengajr disekolah favorit menurutku deskripsi yang sangat baik untuk keberhasilan karir. Hal ini tentu tidak terlepas dari doa, usaha dan kerja kerasnya demi membahagiakan kedua syurga kami di rumah. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri bagiku saat ini, berniat mengalahkannya tapi kuta bisa, berniat melebihinya, tapi aku tak punya kekuatan untuk itu.
Hubungan kita sampai saat ini sangat dekat, mungkin karena darah dan genetik yang didapat dari orangtua yang sama. Eh bukan mungkin, tapi semoga, eh bukan, ha itulah pokoknya. Alasan inilah yang sangat kuat dan tidak bisa terbantahkan kalau kita itu sangat mirip, bahkan ada yang salah memanggil, salah mengenal, salah pokoknya. Padahal menurutk kita tidak semirip itu. Apalagi kalau lagi berjalan berdua tapi tiga malaikat kecilnya, Azyan, Arga, Adzkia, kami sering memanggilnya 3A. Tanpa mereka kita seperti ibu dan anak, tapi uni tidak setuju, masa anaknya sudah sebesar ini. Yang benar saja.
Kehidupan rumah tangganya mengirikan. Hidup dalam naungan bernafaskan Islam, mengajari ketiga malaikat kecilnya mengenal Islam lebih dini dengan bantuan pendamping hidup yang sangat luar biasa, aku rasa keluarga ini nanti akan menjadi salah satu patokan dalam kehidupanku kelak. Walaupun tidak seromantis Udaku, tapi hari-hari indahnya diisi dengan gaya elegant yang klasik. Dan ini sangat memukau.  Keluarga sederhananya mampu mengajarkanku arti kemewahan yang sesungguhnya. Mengajarkanku memilih diantara tidak ada pilihan, mengajarkanku bersyukur ketika tidak diberi lebih, dan mengajarkanku bersabar ketika tidak ada kesulitan yang melanda.
Beliau adalah Uni yang baik, Ibuk yang luar biasa, Istri yang menghormati suami dan Anak perempuan yang sangat dibanggakan Ibu Bapakku. Unii, trimakasiih, telah menjadikan dini sperti ini. Yaa.. pastinya tidak lebih baik dari uni, tidak lebih pintar dari uni, tidak lebih membanggakan dari uni dan pastinya tdak lebih cantiik dari unii.. hehe tapi dini tidak mungkin bisa seperti ini tanpa unii.. tidak mungkin kuat, kalau tidak uni kokohkan, tidak mngkin bisa melangkah, kalau tidak uni tunjukkan.. dan tidak mungkiin bisa.. J
Perbandingan kita sangat jauh, sangat jauh dimata siapapun. Dimata Ibu, dimata bapak, dimata abang, dimata Uda, termasuk dimata Tuhan. Aku tidak mungkin bisa menjadi sebaik dan seperfect itu. Uni, Zailendra S.Ag yang namanya diberikan oleh Pamanku ketika itu, dan Ibuku tidak menolaknya sedikitpun. Banyak orang yang beranggapan bahwa ini adalah nama laki-laki. Itu tidak jadi masalah, nama itu adalah doa, doa agar anak ini kelak menjadi kuat sekuat dinasti Syailendra yang mampu menemukan Candi Borobudur. Orang yang mengajarkanku menghafal ayat kursi dan surat Al-Lahab, yang perannya tidak akan pernah bisa aku gantikan sampai kapanpun, tetaplah menjadi baik seperti ini, melengkapi indahnya dongeng kehidupan keluarga kita. Terakhir, izinkan aku untuk mengukir senyum kebahagiaan diwajahmu suatu saat nanti sebagai ucapan terimakasihku atas anugerah terindah yang pernah keluarga ini miliki.



Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29