22 Coretan Putri Matahari #18

Berbicara mengenai inspirasi, dalam tulisan ini mungkin kalian tidak akan terlalu mengerti dengan apa yang disebut dengan satu kata sembilan huruf, INSPIRASI. Saya mengenalinya hanya dalam kurun waktu kurang lebih 5 jam kebersamaan, bahkan itupun tidak kami habiskan bersama. Mengenalinya melalui pertemuan yang sangat singkat, saya rasa tidak ada alasan untuk merajut ukhuwah untuk lebih dekat, ini pikiran bodoh saya pada saat itu. Tidak pernah berbicara secara langsung selain dari perkenalan diri dan selamat tinggal, saya rasa tidak ada keharusan bagi kita untuk mengenali satu sama lain lebih dekat.
Entah mengapa pada saat itu saya tidak menyertakan perasaan di dalamnya. Bukannya menutup diri dari ukhuwah yang sangat indah, tapi hanya takut memasuki lingkaran yang sudah lebih dahulu mereka bentuk. Saya takut untuk menjadi bagian dari mereka, menjadi bagian nyata dari mereka. Ketakutan ini beralasan melihat kedekatan mereka yang teramat dekat, dan ini menyebabkan saya tidak mempunyai nyali untuk merenggangkan kedudukan mereka satu dengan yang lainnya.

 
Uni cantik dari berdarah minang ini bernama Siska Purnama ES. Beliau layaknya bulan yang menyinari lingkungannya memang. Orangnya humble, riang, mudah senyum dan sangat baik. Pada pertemuan itu kami tidak banyak bicara, bahkan tidak ada sepatah kata pun yang bisa saya utarakan kepada beliau, entah apa yang menghalangi, saya juga tidak mengerti.
Kedekatan ini mulai terbangun ketika saya dan kawan-kawan meninggalkan kota beliau, Bengkulu. Pada saat berpamitan ada kenyamanan yang saya rasakan ketika berkomunikasi melalui dunia maya tersebut. Beliau mengetahui sebuah panggilan yang saya sukai dengan tulisan yang berbeda “dknee”, saya tidak tau beliau mendapatkan informasi akurat ini darimana, yang pasti pada saat membaca pesan singka tersebut saya hampir melayang keluar dari bus SAN menuju pekanbaru. Kami mulai berkomunikasi jarak jauh. Saya tidak tau apa yang membuat saya dengan yakin boleh merasakan menjadi adik beliau. Dengan sebutan “adek uni”, saya merasa sangat tenang, merasa sangat terayomi, merasa saya boleh dengan mudah mengadukan apa saja yang membuat hati ini gundah gulana.
Dengan jarak 18 jam perjalanan dengan menggunakan bus, saya rasa ini adalah jaran yang cukup menyiksa, tapi ini tidak menghalangi kedekatan kita. Uni ika memperlakukan saya layaknya adiknya disana, entah ini perasaan saya saja atau bagaimana, saya juga tidak terlalu paham. Walaupun kita hanya bisa berkomunikasi jarak jauh, tidak jarang saling membully, tapi ukhuwah ini terasa lebih indah. Bahkan hingga detik ini, sampai tulisan ini diterbitkan, saya lebih merasa nyaman untuk menceritakan apapun kepada beliau daripada mereka yang sudah bersama sekian tahun. Maaf ini bukan masalah apa-apa, ini hanya masalah kenyamanan. Disaat saya butuh bantuan seseorang dalam beberapa permasalahan, beliau datang dengan tulus ikhlas memberikan pendapat sepenuh jiwa. Bahkan pada saat saya mengucapkan terimakasih, beliau menjawab “seperti dengan orang lain saja”. Tidak pernah saya menganggap beliau sebagai orang lain dikehidupan saya. Sangat senang membaca tulisan itu dilayar history chat kita. Banyak pelajaran yang saya ambil, jika kembali membaca chat kita itu. Dara cantik yang sudah lama hidup di Bengkulu ini rela sakit-sakitan di negeri seberang demi ayah dan ibu beliau. Dan perjuangan itu belum pernah saya lakukan untuk syurga yang diberikan Tuhan kepada saya. Sangat memalukan.
Uni Ika bisa menempatkan dirinya pada posisi yang tepat. Pada suatu waktu beliau datang bak malaikat meminjamkan sayapnya agar saya bisa terbang, suatu waktu beliau bisa datang sebagai es cincau penyejuk dikala hati panas, bahkan tidak jarang beliau datang sebagai pembully ulung yang membuat saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi itu semua tidak ada yang harus diambil pusing, hidup ini indah dan tergantung kita mau mengindahkannya dengan cara apa saja. Termasuk hanya dari kata-kata “apa kabar adek uni?? Kenapa jadi rindu banget ya sama dini atau dengan panggilan si kesayangan uni satu iniii”, itu saja sudah membuat keindahan ini menjadi nyata. Mungkin juga kata itu yang menjadikan kita seperti saat ini, layaknya kakak adik yang terpisah jarak dan waktu untuk beberapa waktu ke depan.
Kepedulian beliau tidak bisa dianggap angin lalu saja saya rasa. Dalam banyak kesempatan beliau mempertanyakan belahan jiwa ini. SKRIPSI. Banyak bantuan juga yang beliau berikan ketika jalan buntu ini mulai terlihat. Beliau sudah layaknya pembimbing skripsi kedua juga. Banyak sekali ilmu yang sudah beliau bagikan untuk adik yang belum banyak berdialog langsung, tapi beliau memberikan itu tulus.
Tidak banyak yang bisa saya utarakan disini. Bukan karena kita tidak dekat, bukan karena kita tidak pernah bertemu, bukan karena kita belum banya bicara. Bukan karena itu. Banyak hal yang tidak bisa terungkapkan karena keterbatasan saya. Uni Ika, tetaplah seperti ini, kita tidak jauh terpisah, kita masih hidup di bawah langit yang sama dengan hembusan angin yang tak berbeda. Terimakasih untuk sekian SKS nya setiap harinya, semoga Uni selalu sehat.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29