22 Coretan Putri Matahari #3



Tepat pada tanggal yang sama 22 tahun yang lalu, seorang wanita paruh baya mengerang kesakitan disebuah rumah bersalin. Waktu itu Rumah Sakit sangat jauh dari rumahnya. Kesakitan itu bukanlah seperti kesakitan hati anak alay karena putus sama “teman dekatnya”, bukan kesakitan galau gebetannya tidak peka, bukan juga kesakitan seperti lagu yang lagi booming beberapa waktu lalu. Sakitnya tu disini, ya disini. Sakit ini nyata adanya, bahkan bagi orang yang belum pernah merasakan kesakitan itu, dengan deskripsi ini aku rasa cukup membantu.
Tapi kesakitan itu tidak abadi, kesakitan itu hanya sebentar dan akan hilang sesaat layaknya tes Iodoform yang kurang jelas itu. Kesakitan itu akan berganti tempat dengan kebahagiaan demi mendengar tangisan menggelegar Putri Kecilnya. Tidak bisa kubayangkan, bagaimana jika waktu itu aku menyaksikan wanita ini merintih kesakitan lalu kemudian tersenyum haru melihatku dipegangan sang bidan. Aku ingin merasakan apa yang beliau rasakan pada waktu itu. Ingin sekali aku menggantikan posisinya, jika mengingat-ingat ini kembali. Karena aku tidak akan rela melihat kesedihan diwajahnya. Di wajah ibuku. Ya di wajah syurgaku.
Aku adalah anak diluar perencanaan. Pada saat itu anak ibuku sudah empat orang laki-laki dan satu orang perempuan. Pada waktu itu, mereka merasa keluarga ini sudah cukup, dan tidak perlu ada penambahan lagi. Hal ini diceritakan setiap malam oleh ibu dengan kontinuitas yang acak. Cerita itu mengaduk-aduk emosiku yang pada saat itu masih berusia sekitar 6 atau 5 tahun. Sebelum tidur aku diceritakan, bagaimana aku tidak diinginkan untuk melengkapi keluarga ini. Mendengar intronya saja hatiku sudah teriris bagaikan kentang untuk keripik cabe. Anehnya beliau menceritakan tanpa berpikir perlu memfilternya sedikitpun. Pada saat itu ibuku berpikir, bahwa anak yang di dalam perut beliau ini adalah laki-laki, mengingat sudah empat anak laki-laki ibu, maka mungkin ini alasan ibu mengapa tidak mengharapkan kelahiranku sebelum aku dilahirkan. Ibu menceritakan kembali, bahwa ibu tidak menyangka akan mendapatkan anak perempuan, sangat tidak menyangka. Ah ya, pada waktu itu, USG sangat jarang diketahui oleh masyarakat biasa seperti keluarga kami.
Dengan lahirnya anak perempuan, Ibuku masih lanjut bercerita, padahal sudah larut malam, ibu merasa sedikit bersalah dan banyak bahagia. Dan kebahagiaan itu beralasan. Akhir dari cerita malam itu, ibu senang melahirkan bayi perempuan yang sangat sehat pada waktu itu, beratku mencapai 3 kilo lebih dan itu sangat proporsional untuk anak kecil yang baru lahir. Dan dongeng yang menyesakkan itu ditutup dengan surat Al-Insyirah. Jadi pada waktu kecil, aku jarang sekali membaca 3 qul, setiap malam sebelum tidur diajarkan untuk membaca surat yang Ibuku percaya mampu mempermudah setiap jalanku nanti. Itu harapan ibuku, harapan malaikat tak bersayapku yang ingin selalu aku buat terbang melayang.
Ibuku adalah wanita biasa, biasanya menjadikan hari kami menjadi lebih indah dengan semua yang beliau lakukan dirumah, biasanya masak yang enak tiada duanya dan banyak kebiasaan lain yang menjadikan beliau sosok luar biasa dimata kami berenam. Ibuku sosok yang lebih garang daripada bapak, lebih sedikit pemarah dibandingkan bapak. Beliau berdua saling melengkapi. Satu hal yang tidak berbeda dari beliau adalah suka tertawa, kalau sudah tertawa, bisa lama banget dan bersambung bahkan bisa loskontrol gitu. Astaghfirulloh. Kami ikut tertawa, bukan karena yang ditertawakan beliau itu lucu, tapi karena melihat beliau tertawa, ya Allah terimakasih masih menyisakan kebahagian pada beliau berdua.
Ibuku sosok perfeksionis, ini harus begini, ini harus begitu, dan harus. Berbeda dengan bapakku yang tidak terlalu memikirkan hal sedetail itu. Ini terkadang menjadi pemandangan seru jika dua syurgaku ini memperdebatkan sesuatu, dan ini bisa berlangsung kisruh. Haha. Kekisruhan di dalam rumah itu tidak akan menjadi momok yang menakutkan, karena ditengah-tengah ketegangan tiba-tiba saja beliau berdua tertawa dan itu kompak sekali, astaghfirulloh, ini pemandangan yang menyesakkan juga, dimana awalnya kita sudah terbawa suasana lalu kemudian pecah karena adegang yang tidak diinginkan dalam FTV siang ini, hehe.
Walaupun sebagai anak bungsu, Ibu tidak pernah memperlakukanku lebih spesial dari Uni Uda Abangku yang lain. Haha Ibu tidak seperti bapak yang selalu memanjakanku sebagai kodrat anak bungsu. Haha klise sekali ternyata pernyataan ini. Marah, ibuku tetap marah untuk semua kesalahanku, kesal, ibuku tetap kesal untuk semua kecerobohanku. Beliau melakukan seporsinya, tidak ada yang berlebihan. Tapi terkadang rasa cemburu itu hadir, ketika uniku lebih disayangi, padahal ini hanya perasaan saja. Ah, terkadang terlalu main perasaan juga tidak menguntungkan. Suatu ketika aku bertanya, “Ibu, ada ya Ibu doakan dini tiap malam?”, pertanyaan ini sudah menari di benakku sejak UAS beberapa waktu lalu. Ibuku langsung menjawab mantap tanpa basa basi. “Ndaklah, ngapain doakan dini tiap malam”, jlebb sesaat jantungku berhenti memompa, darahku berhenti mengalir, pembuluh darah serasa kosong, hemoglobin serasa tidak berfungsi. Aku ingin bunuh diri, *ambil pisau haha, sebelum niat keji itu terlaksana, ibuku melanjutkan perkataannya, “Ndak mungkin lah hanya tiap malam.. Pagi, siang, senin, jumat, selalsa, kamis, minggu dan setiap hari akan selalu mengalir doa untuk kalian semua”. Ahh Tuhan, aku mau bunuh diri saja mendengar jawaban itu haha.
Ibuku wanita sederhana yang sinar wajahnya bagai rembulan yang dinikahi bapakku puluhan tahun yang lalu. Sempat menyalahkan waktu, mengapa aku tidak menyaksikan ini terjadi, megapa aku tidak bisa menyaksikan agenda sakral ini dengan nyata. Mengaaapaaah *oke mulai drama. Pernikahan yang disetujui oleh nenek kakek ku ini sampai sekarang masih menjadikan beliau pasangan suami istri yang saling mendoakan satu sama lain. Dan pernikahan ini juga telah melahirkan kami anak-anak yang tidak baik, tapi mereka ajarkan untuk jadi baik. Kami yang tidak ada apa-apanya, mereka sempurnakan menjadi lebih berharga. Kami yang lemah, mereka pinjamkan bahu untuk bersandar. Bagaimana semua itu beliau lakukan tanpa mengharapkan apa-apa dari kami, tapi hanya berbekal keyakinan kepada Tuhannya. Dibesarkan di keluarga yang mampu mendidikku menjadi manusia yang Islami, membuatku merasa keberuntungan itu nyata adanya. Ajaran keislaman yang begitu kental, sampai saat ini masih kudapatkan dengan maksimal, dari lantunan ayat al-quran beserta terjemahan dari ibuku serta bacaan hadits Nabi yang selalu dibaca bapakku ketika siang hari. Anugerahkan kebahagianmu untuk beliau ya Allah, dekap beliau dalam hangat cintaMu selalu selamanya. Ibu, yang RidhoNya tergantung Ridhomu, terimakasih telah menjagakan syurga itu untukku. Izinkan kuberikan syurga duniamu sebentar lagi, ya sebentar lagi. Ibu, aku hanya ingin mencintaimu dengan cara sederhana dan tidak lebai. Karena cintaku, kuekspresikan dengan doa kepada Tuhanku. Ungkapan cinta tidak cukup untuk membalas semuuuuuuaaa yang sudah Ibu berikan, bahkan tidak bisa menetralkan keringat yang sudah Ibu teteskan, tidak cukup untuk menghapus air mata yang sempat tumpah ke bumi ini. Ibu kami mencintaimu seutuhnya, layaknya Allahku mencintaimu. Ibuuu.. halalkan makan minumku, maafkan salah silap ku. Tanpa doa dan juga restu hidupku jadi tak menentu.

Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29