22 Coretan Putri Matahari #21
Okeh, punya teman anak teknik menurut hemat saya adalah suatu ketakutan besar. Betapa tidak
dengan dandanan horor, ketawa lepas, celana jeans dan tidak jarang ada yang
merokok “mungkin”, saya rasa ketakutan ini beralasan. Kuliah di fakultas
keguruan, jarang sekali saya menemui deskripsi di atas, apalagi menjadi
mahasiswa kimia yang hidupnya diabdikan seutuhnya di laboratorium, ya sedikit
banyak itu menyebabkan saya agak kurang bisa bergaul degan baik. Haha walaupun
tidak jarang, mahasiswa keguruan juga ada yang menduplikasi anak teknik, tapi
saya belum pernah jumpa.
Jangankan bercita-cita, terpikirkan saja tidak untuk
memiliki seorang teman dari fakultas terkece di UIN Suska ini. Kece kenapa??
Ya.. di kampus tidak memakai celana goyang, pakai kemeja bebas dengan sepatu
sporty, mungkin ini bisa sebagai bahan perbandingan, mahasiswa keguruan yang ke
kampusnya memakai celana dasar, baju batik dengan sepatu berkilat, ini
merupakan pemandangan yang kontradiktif.
Siapa yang menyangka, sejak naga api menyerang, deskripsi
mengenai anak teknik perlahan mulai sirna, bagaikan hujan menyapu debu jalanan.
Haha. Bertemu sosok ini awalnya tidak ada yang spesial. Namanya Dipo. Itu aja
udah. Saya mengenalinya melalui sebuah event jurusan mereka, Teknik Elektro,
dan ini dengan perantara seorang kakak yang sangat mereka percaya. Perkenalannya
singkat saja, bertemu di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, tidak banyak yang
bisa saya lakukan untuk mereka pada acara tersebut. Dengan hanya sedikit
pengalaman yang ada, saya rasa kehadiran saya tidak cukup membantu pada waktu
itu.
Dan ada kejadian lucu pada pertemuan tersebut. Begini,
jadi pada saat itu ada acara seminar yang diisi oleh pemateri yang sangat luar
biasa. Saya suka. Salah satu diantara pemateri itu adalah dosen mereka. Tapi
untuk tulisan ini informasi itu tidak terlalu penting. Seperti kebanyakan acara
seminar dan sepertinya sudah menjadi ritual dari sebuah seminar, pemateri
mendapatkan plakat atau sebagai tanda terimakasih penyelenggara atas ilmu yang
sudah pemateri berikan. Saya rasa ini tidak terlalu buruk. Lucunya dibagian
mana?? Oke to the point saja, jadi pada plakat yang akan diberikan kepada para
pemateri yang terhormat ini, ada beberapa tanda tangan yang berbaris indah di
bagian bawah kertas tersebut. Dan pada saat itu, tanda tangan itu belum
keliatan, atau kasarnya, tanda tangannya tidak ada. Ini mungkin bukan kejadian
yang terlalu memalukan, tapi menurut saya ini wajib untuk dipertimbangkan, mengingat
kredibilitas si penyelenggara. Ini menurut hemat saya. Masih belum lucu ya??
Silakan lanjutkan bacanya, kalau seandainya tidak lucu, silakan minta doraemon
untuk pergi ke masa itu. Saya rasa sedikit membantu.
Dengan bahasa yang mudah dimengerti saya mengutarakan
pemikiran saya, dengan dibantu oleh beebrapa teman. Saran kami agar tanda
tangan itu diminta kepada pihak yang bersangkutan. Nah disini hubungannya.
Ketua acara tersebut adalah Dipo, anak teknik elektro semester berapa pada
waktu itu, saya lupa. Karena beliau yang bertanggungjawab atas masalah ini,
jadi kami memberikan saran itu kepada beliau. Beliau orang yang humble,
terbukti beliau dengan baik menerima masukan yang kami berikan. Kami mulai
merasa lega, karena saya rasa agak kurang etis, di dalam sebuah plakat belum
ada tandatangan para petinggi kampus.
Jadi pada saat itu, Adinda Dipo ini berjalan menuju
ruangan dekan mereka. Tunggu adinda?? Ah ya, umur kita sama, tapi beliau
kesenengan dipanggil adinda, karena merasa baby face. Ah hentikan omong kosong
ini. Ah ya, kembali lagi ke persoalan meminta tanda tangan. Mahasiswa bernama
Dipo yang akan sidang akhir sebentar lagi ini berjalan santai, tidak ada
perasaan ingin berlari atau bahkan berjalan agak cepat. Berjalan dengan
kecepatan 25 meter per jam dengan percepatan 4 meter per sekon kuadrat, dan
pada saat itu gaya gravitasi bumi 9,8 meter per sekon kuadrat. Nah hitunglah
waktu yang dibutuhkan untuk menempuh ruang dekan Fakultas Sains dan Teknologi
itu.
Tolong jangan menghabiskan waktu kalian untuk menghitung
itu, karena apa?? Karena akhirnya temannya Restu (teman saya) ini, akhirnya
bisa dengan selamat sampai di PKM kembali, dan estimasi saya juga selamat
sampai di ruang dekannya. Seketika ada kelegaan pada waktu itu yang saya
rasakan. Entah mengapa, saya juga tidak tahu. Ini agenda juga bukan agendanya
kimia, keterlibatan yang berlebihan akan membuat teman-teman teknik elektro
tidak nyaman saya rasa. Tapi tidak ada yang boleh dilakukan setengah-setengah
menurut saya. Ini prinsip. Semuanya harus all out. Karena prinsip inilah pada
waktu itu, saya juga merasa memiliki bagian disana.
Oke fokus, fokus pada plakat yang ada di genggaman ketua
panitia ini. Dalam pikiran saya, plakat tersebut sudah tersenyum dengan jejeran
tanda tangan orang-orang penting, tapi itu hanya ilusi semata, realitanya??
Plakat itu masih kosong. Hampa. Polos tanpa dosa seperti muka pemegangnya.
Rasanya waktu itu ingin berteriak, mengapa seperti ini, mengapa seperti itu.
Tapi kembali lagi saya tidak boleh terlalu mendalami rasa ini, karena
keterlibatan saya terlalu dalam akan membuat mereka terluka. Cielehh.
Dengan muka tenang dan menenangkan, beliau mengatakan
bahwa yang bersangkutan tidak berada di ruangannya, dan beliau tidak
mendapatkan tanda tangan yang sangat diharapkan banyak orang pada waktu itu.
Sedikitpun wajah cemas tidak ada di wajah itu. Sama sekali tidak ada. Dari raut
mukaya terpancar ketenangan, walaupun mungkin ketenangan yang dibuat-buat. Tapi
dari sini saya mendapatkan pelajaran berharga, bahwa semua birokrasi itu tidak
harus dihadiahi dengan birokratif, karena tidak semua birokrator memiliki
pemikiran birokrat. Pahami saja apa maksudnya.
Acara tersebut berakhir dengan baik, sekilas saya merasa
saya bagian dari mereka, layaknya perhimpunan jurusan kami, tapi tidak, ini
tidak bisa, kita berbeda. Sangat berbeda.
Berakhirnya tragedi plakat dan tanda tangan tadi, saya
berpikir bahwa ini akhir dari semuanya. Kita akan kembali lagi layaknya semula,
yang tidak saling mnegenal, anak kimia dan anak teknik elektro. Ternyata
estimasi saya salah. Salah besar. Pernah berkenalan dengan DSAP yang saya tidak
mengetahui ini singkatan dari apa, saya merasa beruntung. Banyak inspirasi yang
sudah ditularkan. Menjadi orang ramah dan murah senyum saya rasa itu bukan
kepribadian Mahasiswa teknik, tapi itulah kenyataannya. Memiliki wajah yang
tidak ada horor-horornya, saya rasa ini kesalahan besar bagi seorang Mahasiswa
asal tembilahan ini memasuki kawasan anak teknik. Haha mohon ingatkan kalau
saya salah.
Satu lagi sebenarnya, satu-satunya alasan yang
melatarbelakangi saya untuk menuliskan ini. saya sangat bangga bisa mengenal
anak teknik elektro yang bisa tamat TIGA SETENGAH TAHUN ini, saya yakiin
seyakin yakinnya, ini akan menjadi kenyataan. Percayalah. Karena dalam
pemikiran bodoh saya, sangat jarang mahasiswa teknik untuk dapat menamatkan
masa perkuliahannya dalam waktu yang relatif singkat itu, maka ketika hal ini
menjadi kenyataan, ribuan senyuman kebanggaan akan menghiasi hari sakral itu. Mampu
melukiskan senyuman sipemilik syurga, bisa dipastikan syurgapun akan terseyum
untuknya. Dan sampai tulisan ini diterbitkan, saya masih belum bisa
membayangkan bagaimana rasanya jika itu juga dianugerahkan Tuhan untuk saya.
Jikalau ada yang beranggapan bahwa ini adalah keberuntungan bagi seseorang
bernama Dipo, maka saya tidak akan menyalahkan anggapan tersebut. Satu yang
akan saya lakukan, saya akan banyak belajar dari orang yang diberuntungkan
Tuhan tersebut.
Terimakasih. Terimakasih untuk semua yang sudah
ditularkan. Semoga sukses, saya belum pernah mengenal sosok yang setulus ini
dalam berteman, walaupun saya tidak terlalu megenali dengan baik, saya rasa
penilaian saya tidak terlalu berlebihan. Kawan, walaupun perbandingan kita sangat jauh, tapi harapan
terbesar semoga kita semua bisa sukses
dalam kebersamaan.
Dan kawan, sangat banyak yang sudah kau tularkan, tapi maaf tidak banyak yang bisa kutuliskan
disini. Terimakasih, tetaplah menginspirasi.
Comments
Post a Comment