22 Coretan Putri Matahari #11

Bismillahirrohmaanirrohiim. Part ini adalah yang paling ditunggu agar hati ini lebih kuat untuk menuliskannya, jari ini mampu menari dengan baik di atas keyboard laptopku, mata bisa lebih fokus menatap LCD yang sangat tinggi radiasi ini, dan saat inilah yang tepat untuk menuliskannya.
Pada bagian aku sangat berhati-hati, ingin menuliskan namanya dari awal, tapi aku belum sanggup, karena kecerobohanku sering mengakibatkan keberantakan disana sini. Dan pada bagian ini aku tidak akan menunjukkannya. Harap-harap cemas memencet setiap tombol pesegi di hadapanku, ini sangat tidak mudah. Entahlah aku tidak mengerti dengan ini semua.
Orang ini hadir dikehidupanku sekitar tiga setengah tahun yang lalu, dan pertemuan itu aku sangat susah untuk mengingatnya. Sangat susah sampai saat ini. Pengakuannya, kita bertemu pertama kali pada saat merumuskan sesuatu dengan teman-teman satu kelas, dan ia melihatku sedang membaca novel. Sekilas aku mengingat kejadian itu, tapi hanya fatamorgananya saja, dan sangat tidak jelas.
Seiring berjalannya waktu, kami menjadi bagian satu sama lain. Tidak bisa terungkapkan bagaimana ia datang mengisi hampanya hati ini ketika dipisahkan dengan sahabat SMA, yang rasanya belum sanggup hidup tanpa mereka di perantauan ini. Ia memberikan miliknya dengan tidak pernah mengharapkan apapun untuk dikembalikan. Ia memperlakukanku dengan tulus, tanpa ada yang dibuat-buat. Ia mampu mengukirkan senyuman disetiap kita bertemu. Ia memberikan semuanya yang tidak mungkin bisa aku berikan kepadanya.
Orang itu adalah sahabatku, sahabat baikku. Ririn Syafrina. Pada paragraf keempat ini aku mampu menuliskan namanya tanpa menggunakan “backspace” dan hanya menatap LCD laptopku dengan tersenyum. Dilahirkan 21 tahun yang lau, tepatnya pada tanggal 20 Januari 1994 tidak mampu menghalangi kita untuk bersahabat. Walaupun berbeda suku dan kebudayaan tidak menyebabkan gadis cantik kakaknya Ojan ini untuk memblack listku dari ukhuwahnya. Ia berasal dari Rengat dan aku dari Payakumbuh. Ia adalah orang Melayu asli dan aku adalah orang Minang *asli juga. Banyak kebudayaan dan adat yang berbeda, tapi sampai saat ini kita masih bersahabat dengan baik. Bahkan dengan sangat baik.
Aku mungkin orang kesekian yang dikenalinya di UIN SUSKA ini, tapi ia tidak pernah memperlakukanku dengan tidak istimewa, entah ini perasaanku saja atau bagaiman aku juga tidak mengerti, berhubung anak sulung dari tiga bersaudara ini dibesarkan di kota kelahirannya, kota Rengat. Kota yang kita lewati sebelum memasuki Tembilahan.  Dan sebelumnya kita belum pernah bertemu layaknya pesulap dengan orang yang dimintanya untuk ke atas panggung. Dibesarkan di Danau Raja, menyebabkan kakaknya Yayang ini bersekolah di SMAN 1 Rengat. Dan dengan latar belakang pendidikan SMA yang sama, kita dipertemukan disini, di jurusan ini, jurusan yang sangat kita banggakan hingga nanti. Pendidikan Kimia UIN SUSKA Riau.
Gadis yang dahulunya pecinta ungu ini adalah pejuang tangguh dan sangat all out dalam berteman. Tidak ada yang diberikannya setengah-setengah untuk ku, bahkan ia mampu melakukan di luar dari perkiraanku sebagai perempuan yang tidak bisa mengendarai motor. Bersama VD, ia menjemputku pada waktu itu, pada hari aku seminar proposal. Rasanya tidak bisa dibayangkan memang, ketika pada saat itu aku dalam keadaan sakit dan harus seminar, lalu kemudian datang seseorang berhati malaikat menjemputku, bagaimana aku bisa menolaknya.
Owi addict ini adalah orang yang mengajarkanku cara bermimpi. Ia menunjukkan kepadaku, bahwa semua ini mungkin kalau kita mencoba. Ia selalu membagi semuanya, eh tepatnya memberi semuanya. Memberikan cinta, kasih sayang, ketulusan dan pastinya memberikan semangat yang tidak terhingga. Gadis berwajah teduh ini adalah manusia biasa. Ya manusia biasa, maaf jika nanti penggambaranku terlalu berlebihan, tapi jika ditanya satu kata untuk sahabatku ini, aku akan dengan sangat yakin menjawab, ia bagaikan malaikat tanpa sayap.
Ia sangat menyukai olahraga, ini menyebabkan keponakanku juga menyukainya, (maaf jika tidak ada hubungannya). Pastinya Adzkia, Azyan dan Arga sangat menyukai titipannya. Oleh-oleh dari Auntie Ririn mereka membuat keadaan rumah jadi heboh dengan rebutan mereka. Ah ya, Ririn sangat mampu menciptakan itu, dan saya tidak bisa.
Terkadang disela kesibukannya, ia menyempatkan untuk memperpanjang umurnya dengan menyambangi rumahku. Aku malu, sangat jarang untuk mengunjunginya, sangat jarang. Datang ke rumahku dengan tangan kosong, itu bukan Ririn namanya. Membawa gorengan, nasi bungkus, buah-buahan, bahkan terkadang modusnya keluar, membawa pisang atau ubi dan juga santan, ujung-ujungnya minta kolak. Haha hanya itu yang bisa kulakukan untuknya.
Putri kecil bapak Fikri ini tidak bisa diganggu jika neneknya datang ke Pekanbaru. Oo jangan coba-coba untuk mengganggunya, karena tidak akan bisa. Nenek adalah orang yang sangat berarti baginya, dan ia akan lakukan yang terbaik untuk neneknya. Ini perbedaan kita, aku tidak pernah bisa mengabdikan diriku kepada seorang nenek, karena sejak aku dilahirkan nenekku sudah kembali kepada pemilik segalanya. Tapi perbedaan itu tidak pernah sekalipun mengahalangi kita untuk dekat satu sama lain.
Jadi kalau di kampus itu dulu kita agak terkenal dimana ada Ririn disitu ada Dini dan sebaliknya. Senang sekali berjalan disampingnya, kita tidak pernah diam untuk menceritakan apa saja yang kita lihat. Semuanya tidak akan luput dari komentar kritis kita, hari-hari penuh keceriaan, bahkan pernah satu hari itu kita bercerita hal yang menyebabkan kita tidak henti untuk tertawa. Kita pernah dibilang adik kakak, kita pernah dibilang saudara kembar, banyak sekali spekulasi tentang kami. Haha.
Banyak afirmasi-afirmasi yang sudah kita harapkan selama kita bersama. Berharap rumah kita berdekatan di dunia dan pastinya di akhirat nanti, berharap nanti bisa buka puasa senin kamis berempat, piknik berempat setiap hari, dan ah ya, satu lagi, naik haji berempat. Berempat?? Iya berempat bersama 2 orang yang beruntung nantinya. Iya nanti. Mungkin pembahasan ini tidak perlu dibahas lebih dalam, karena untuk saat ini, informasi ini belum begitu penting. Yang pasti dua orang itu nanti adalah orang terbaik yang dikirimkan Tuhan untuknya dan untukku. Eh maaf, masih dibahas juga.
Selain afirmasi yang sangat penting di atas, banyak mimpi-mimpi yang sudah kita bangun pondasinya dari beberapa tahun kemarin. Nah seperti yang satu ini, menyaksikan kembali dengan mata kepala sendiri PON di Jawa Barat. Kita berdua pecinta badminton. 3 tahun yang lalu kita membuktikan kecintaan kita terhadap salah satu cabang olah raga ini. PON di Riau menyebabkan kita mengukir mimpi itu sampai ke Jawa Barat. Kita tidak akan melewatkan momentum itu, kalau Allah meridhoi untuk itu. Banyak kenangan yang sudah kita ukir pada PON 2012 lalu, seperti Ririn bisa berfoto dengan pemain andalannya, Tontowi Ahmad, dan aku bisa menyaksikan Hayom Rumbaka dari dekat, dan masih banyak lagi yang tidak akan cukup jika semua kuutarakan disini.
Dan hai alumnus SDN 004 Rengat berdarah A, terimakasih untuk ketulusan, cinta dan kasih sayangmu selama ini. Semoga semua itu dibalaskan dari jalan yang tidak disangka-sangka. Pasti aku tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah terikhlaskan untukku. Dan terakhir terimakasih masih melayakkanku dalam ukhuwahmu, semoga kita selamanya menyatu dalam jiwa dan bersahabat karena Allah.


Comments

Popular posts from this blog

22 Coretan Putri Matahari #22

29's Warrior #4of29