22 Coretan Putri Matahari #12
Masih teringat sekitar tiga setengah tahun yang lalu,
entah angin apa yang membuat kita bisa saling bertegur sapa, entah apa
yang membuat kita bisa memberikan senyum
yang seadanya ini, hari itu sangat indah, bahkan kronologinya masih jelas di
depan mata hingga sampai saat ini. Bermodalkan wajah cantiknya, ia menegurku
terlebih dahulu. Tidak ada ketulusan yang dibuat-buat pada waktu itu, tidak ada
kebaikan yang tidak nyata darinya pada hari itu. Aku sempat membatin pada saat
yang sama, pada saat aku meminjam pulpen miliknya, anak cantik ini mengapa
tidak sombong, Tuhan.
Awal bertemu, ia merelakan antreannya untukku, dengan
alasan aku ingin kembali ke Perawang pada hari itu, sukses membuatnya prihatin
kepadaku. tapi ujung dari kisah ini tetaplah menggantung tidak berujung. Aku
lupa meminta contact yang bisa aku hubungi nanti ketika ada sesuatu yang tidak
kupahami. Oke ini gengsi atau apa, yang pasti aku lupa untuk meminta no
handphonenya. Sangat kecewa ketika aku menyadari kelupaanku, tapi apa yang bisa
kulakukan, tidak ada, selain hanya menunggu waktu untuk bertemu kembali.
Kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali, bertemu di
Ospek Universitas, membuatkan merasa lega, ternyata ada yang kukenali saat ini.
Alhamdulillah. Tapi pada saat itu ia bersama teman-temannya dan aku tidak punya
kesempatan untuk mengutarakan niat baikku pada saat itu. Kebimbangan ini
mencapai titik temu, ia berjalan menujuku, dan meminta no handphoneku, ia
mengatakan bahwa ia susah sekali ketika lupa meminta hal sangat penting pada zaman
ini. Ah ya, kita memang jodoh.
Nama anak ini Restu Desriyanti. Restunya boleh “e” keras
ataupun “e” lembut, tidak ada masalah olehnya. Mahasiswi pertama yang kukenal,
sedikit banyak memberikan ketenangan yang cukup membantu. Anak kedua dari tiga
bersaudara ini, makhluk Tuhan terbaik yang pernah aku temui. Tidak pernah
melewatkan moment berfoto itu adalah menjadi ciri khas dari gadis asal
tembilahan ini. Memarahiku ketika belum sarapan, itu adalah tugasnya, yang
menurutnya sangat penting untuk dilakukan. Sejenak aku merasakan kebahagiaan
itu mengalir apa adanya, sesederhana penampilan polosnya.
Banyak kisah yang sudah kita ukir bersama. Melakoni 7
semester bersama ini bukan perkara mudah. Banyak masa-masa sulit yang kita coba
untuk jalani dengan ikhlas. Banyak kondisi-kondisi yang menyebabkan kita harus
menyerah, tapi itu tidak akan dilakukannya. Selalu mengucapkan bismillah dan
berharap semua kemudahan menyertainya, ini adalah sifatnya, dan ini sangat
tidak berhubungan dengan gadis pecinta basket ini. Ia sangat mencintai olah
raga berbola, yaitu basket. Tidak akan dilewatkannya satu pertandingan pada
saat POSTAR di kampus, walaupun usianya tidak tergolong muda lagi.
Haha berbicara mengenai umur, ia adalah gadis kelahiran
1992. Data ini menyebabkan pembullyan akan segera berpindah ke arahnya ketika
sudah membahas hubungan umur dan semester atau tahun lahir, biasanya ia akan
lari dari keadaan pada saat itu. Tapi kalian tenang saja, hanya umurnya saja
yang 1992, wajahnya, sifatnya tidak ada yang mencerminkan wanita kelahiran satu
tahun di atas kami.
Penari bertubuh mungil ini sangat menyukai warna kuning.
Sebenernya inginku mengatakan, bahwa Nabi tidak menyukai warna kuning. Tapi
niat itu kuurungkan, melihat begtu cintanya gadis cantik ini terhadap satu
warna primer ini. Putri kecil ini memiliki tertawa yang khas yang tdaik
dimiliki oleh yang lainnya. Pokoknya unik sekali, sampai-sampai riska saja
geram mendengarnya.
Menghabiskan waktu bersamanya itu adalah misiku setiap
harinya. Bisa bercengkrama setiap hari di laboratorium yang sudah menjadi rumah
kita, bisa quality time pada saat prepare zat, menjadi satu fokus utamaku. Kami
berdua sering membuat spekulasi-spekulasi yang terkadang menyesatkan, tapi
tidak jarang spekulasi itu sebenarnya adalah afirmasi positif yang mampu
menjadi kenyataan nantinya.
Tuhan, tetapkan ketulusan itu diwajahnya, jangan
hilangkan wajah menenangkan dari aura positifnya. Jaga ia untuk menyelamatkan
kehidupan kami sekarang nanti dan selamanya. Restu Desriyanti, penebar aura
positif kami, yang tidak pernah berburuk sangka, yang selalu tersenyum ramah,
yang tidak tegaan terhadap praktikan, yang sangat lemah lembut terhadap dosen, yang
selalu semangat dan menyemangati, yang selalu positif thingking, yang
mengajarkanku akan mengajarkanku makan tepat waktu, tidur tidak larut malam,
istirahat yang cukup. Kakak yang disayang Azlan, tetaplah memberiku semua itu.
Karena aku sangat membutuhkannya hingga nanti.
Comments
Post a Comment